Gawat! Pengamat Intelijen Ini Beberkan Adanya Skenario Jahat di Pilpres 2019?

Pilpres 2019 disebut-sebut banyak kalangan bakal berlangsung lebih panas dan tegang dibandingkan Pilpres 2014. Rivalitas head to head antara capres 01 dan 02 kabarnya bakal menjadi “pertarungan pamungkas” dengan taruhan hidup-mati.

Saking panas dan tegangnya atmosfer Pilpres 2019, sampai-sampai seorang pengamat intelijen dan keamanan, Stanislaus Riyanta, menyebut pemilu yang ada saat ini bukan lagi menjadi pesta demokrasi, melainkan sudah menjadi perang urat saraf dan perang propaganda antar-kontestan.

Skenario Jahat?

“Tujuannya untuk menggalang suara dan untuk menjatuhkan suara lawan,” kata Stanislaus dalam diskusi bertajuk ‘Potensi Delegitimasi Pemilu dan Masa Depan Demokrasi’ di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (6/3/2019).

Stanislaus Riyanta, pengamat intelijen, mahasiswa Doktoral Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia. (indonews.id)

Stanislaus menilai, ada kelompok yang hanya punya dua skenario, yakni skenario menang dan skenario dicurangi. Menurutnya, kelompok ini adalah orang-orang yang tidak siap kalah.

“Makanya kalau dia kalah, maka dia (mengaku) dicurangi. Dan kalau dicurangi, maka harus dilawan dan geruduk KPU. Ini jelas bentuk delegitimasi pemilu,” kata Stanislaus seperti dikutip telusur.co.id (6 Maret 2019).

Menurut Stanislaus, propaganda-propaganda yang dilakukan oleh kelompok tersebut didukung oleh sejumlah isu, misalnya hoaks 7 kontainer surat suara sudah tercoblos, mobilisasi WNA, atau pergantian kotak suara.

“Ini jelas merusak budaya kita. Demokrasi dan musyawarah yang jadi adat kita dirusak. Siapa pun pelaku hoaks harus dihukum dengan tegas. Dan kedua kubu harus bisa bilang bahwa hoaks adalah musuh bersama bukan musuh salah satu kubu. Masih ada waktu sekitar 1 bulan KPU dan Bawaslu untuk memperkuat serta mencegah delegitimasi pemilu,” tegas Stanislaus.

Musuh Jokowi Bukan Prabowo?

Waduh, benar-benar gawat. Sampai segitunya kelompok yang punya skenario jahat semacam itu sampai-sampai menghalalkan segala cara demi memanjakan syahwat kekuasaan.

Ilustrasi. (batamnews.co.id)

Kalau benar analisis pengamat intelijen tersebut, demokrasi yang berpilarkan kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan bakal runtuh akibat ambisi politik yang sudah di luar batas akal dan nalar sehat.

Banyak kalangan menyebut, musuh utama Jokowi sesungguhnya bukan Prabowo, melainkan kelompok “senyap” yang diduga punya dasar “kebencian” akut akibat kepentingan mereka selama ini, baik ekonomi maupun ideologi, terusik selama Jokowi menjadi orang nomor 1 di negeri ini.

“Siapa pun presidennya, yang penting bukan Jokowi!” Begitulah kira-kira adagium yang mungkin tepat untuk menggambarkan Pilpres 2019. Seandainya bukan Prabowo yang maju “melawan” Jokowi, kelompok “senyap” ini tetap akan mendukung.

Bisa jadi, kelompok “senyap” itulah yang diduga memiliki skenario jahat untuk menghentikan Jokowi di Pilpres 2019, sehingga melakukan “perlawanan senyap”, termasuk menyebarkan hoaks dan fitnah yang bertujuan untuk mendelegitimasi petahana. Wallahu a’lam! ***

Sumber: UCNEWS.ID

#topikseru #topiktrending

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *