Fenomena Matahari Memutih, Tanda Akhir Zaman? Ini Penjelasannya

Ilustrasi sinar Matahari. Foto: Wahdi Septiawan/ANTARA FOTO

Media sosial kini tengah viral yang menyebutkan bahwa fenomena Matahari memutih ditandai sebagai ciri-ciri akhir zaman atau kiamat. Namun, benarnya bagaimana penjelasan lebih detail soal fenomena alam tersebut.

Peneliti Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) LAPAN, Andi Pangerang, menjelaskan bahwa fenomena Matahari memutih atau yang disebut surya pethak dikaitkan dengan salah satu ramalan Sabdo Palon Noyo Genggong. Dalam ramalan itu dijelaskan salah satu tanda akan terjadinya pergantian dari zaman lama ke zaman baru adalah terjadinya surya pethak.”Secara harfiah, surya pethak bermakna Matahari (tampak) memutih. Surya pethak dapat dimaknai sebagai alam sunya ruri atau siang hari yang temaram seperti malam hari. Siang hari di sini adalah dihitung sejak Matahari terbit hingga Matahari terbenam,” jelas Andi dikutip dari situs Pussainsa LAPAN.

Ilustrasi sinar Matahari. Foto: Dok. Istimewa

Andi melanjutkan fenomena surya pethak akan membuat sinar Matahari yang biasanya kemerahan ketika terbit dan terbenam akan memutih. Sementara, ketika Matahari meninggi, sinarnya tidak begitu terik dikarenakan terhalang oleh semacam kabut awan. Kejadian ini dapat berlangsung selama tujuh hingga 40 hari paling lama.

Efek dari surya pethak dapat membuat suhu permukaan bumi menjadi lebih dingin, sehingga tumbuhan tidak dapat tumbuh dengan optimal dan manusia akan mudah menggigil.Menurut Andi jika dikaitkan dengan musim, surya pethak umumnya hanya terjadi di musim-musim penghujan, di mana saat itu penguapan air cenderung tinggi sehingga kabut awan lebih mudah terbentuk. Penyebab yang memungkinkan fenomena ini dapat terjadi, adalah letusan gunung berapi dan perubahan sirkulasi air laut yang dapat mempengaruhi penguapan dan pembentukan awan.

Fenomena alam halo matahari. Foto: Dok. LAPAN

“Ada kemungkinan kabut awan yang dapat menghalangi sinar Matahari melalui atmosfer Bumi dapat ditimbulkan oleh letusan gunung berapi maupun perubahan sirkulasi air laut yang dapat meningkatkan penguapan uap air,” kata Andi.Meski begitu, Andi menyebutkan sangat kecil terjadi fenomena surya pethak yang membuat kabut awan yang menyelimuti Bumi ditimbulkan oleh penurunan aktivitas Matahari berkepanjangan, seperti pada tahun 1645 hingga 1715. Kejadian itu disebut sebagai Maunder Minimum yang disebut sebagai “Zaman Es Kecil”.

Dalam waktu dekat, kemungkinan terjadi fenomena surya pethak tidak akan terjadi, setidaknya jika dikaitkan dengan aktivitas Matahari. Namun menurut Andi, fenomena ini masih bisa terjadi oleh letusan gunung berapi dan perubahan sirkulasi air laut yang hingga saat ini keduanya sangat sulit diprediksi.

Sumber: KUMPARAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *