Kemenkes Tegaskan Vaksin Nusantara Tak Dikomersialkan: Pasien Setuju Baru Diberi

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes dr. Siti Nadia Tarmizi saat memberikan keterangan secara virtual. Foto: Kemenkes RI

Imunoterapi sel dendritik atau yang dulu dikenal dengan Vaksin Nusantara gagasan eks Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, masih ramai diperbincangkan. Baru-baru ini, sempat ramai dikabarkan produk ini dibeli oleh Turki sebanyak 5,2 juta dosis.

Menanggapi ramainya informasi soal imunoterapi sel dendritik atau Vaksin Nusantara ini, juru bicara Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi menegaskan produk ini bisa diakses oleh masyarakat.Meski begitu, Nadia mengingatkan pelayanan yang dilakukan hanya berbasis penelitian secara terbatas.”Masyarakat yang menginginkan Vaksin Nusantara atas keinginan pribadi nantinya akan diberikan penjelasan terkait manfaat hingga efek sampingnya oleh pihak peneliti. Kemudian, jika pasien tersebut setuju, maka Vaksin Nusantara baru dapat diberikan atas persetujuan pasien tersebut,” jelas Nadia dalam keterangan Kemenkes, Sabtu (28/8).

Selain itu, ia menegaskan Vaksin Nusantara ini tidak dapat dikomersialkan lantaran autologus atau bersifat ke masing-masing individual.”Sel dendritik bersifat autologus, artinya dari materi yang digunakan dari diri kita sendiri dan untuk diri kita sendiri, sehingga tidak bisa digunakan untuk orang lain. Jadi, produknya hanya bisa dipergunakan untuk diri pasien sendiri,” tuturnya.

Sebelumnya, Kepala BPOM Penny Lukito menegaskan pemantauan imunoterapi sel dendritik tidak dilakukan oleh BPOM. Sebab, ini bukanlah produk seperti vaksin yang diproduksi secara massal.”[Vaksin Nusantara] bukan produk yang akan digunakan massal, diproduksi massal. Tapi itu pelayanan individual, jadi bukan melalui Badan POM,” jelas Penny kepada kumparan, Kamis (17/6).

Kabar pembelian produk imunoterapi berbasis sel dendritik oleh Turki disampaikan oleh guru besar Universitas Airlangga, Chairul Anwar Nidom, dalam sebuah talkshow dengan eks Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari di channel YouTube.Nidom menyebut, Turki memesan hingga 5,2 juta dosis produk tersebut.Sementara menurut peneliti sel dendritik Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Kolonel Jonny, jumlah dosis vaksin yang dibeli oleh Turki mencapai 5,5 juta dosis.

“Betul, ada dokumennya. 5,5 juta [dosis],” kata Jonny saat dikonfirmasi kumparan, Selasa (24/8).Akan tetapi, Duta Besar RI untuk Turki, Lalu Muhammad Iqbal, mengungkapkan hingga saat ini tidak ada konfirmasi soal Turki membeli produk tersebut.“Kalau pemerintah Turki yang beli harusnya saya orang pertama yang tahu,” ungkap Iqbal ketika dikonfirmasi.

MoU Imunoterapi Sel Dendritik

Penandatangan MOU riset sel dendritik, bukan lanjutan vaksin Nusantara. Foto: Dok. TNI AD

Penelitian vaksin dendritik ini dilakukan usai adanya nota kesepahaman (MoU) antara Kemenkes bersama BPOM dan TNI AD, April lalu, yang bertemakan ‘Penelitian Berbasis Pelayanan Menggunakan Sel Dendritik untuk Meningkatkan Imunitas Terhadap Virus SARS-CoV-2’.Lewat MoU ini juga disepakati penelitian berbasis sel dendritik di RSPAD Gatot Subroto, namun ditegaskan bukan lanjutan dari penelitian fase I vaksin Nusantara.

Riset imunoterapi sel dendritik ini menggandeng AIVITIA, perusahaan bioteknologi asal AS yang lebih dulu mengembangkan terapi sel dendritik untuk pengobatan kanker.Imunoterapi sel dendritik bersifat personal alias tidak bisa digunakan massal sebagaimana halnya vaksin corona Sinovac dkk yang telah dipakai luas di Indonesia.

Sumber: KUMPARAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *