Mahasiswa UNS Ciptakan Alat Penghangat Makan Canggih dengan Gas Buang Knalpot

Konten ini diproduksi oleh Ardi EsdiyantoDi masa pandemi seperti ini, jumlah pesanan makanan di layanan ojol semakin meningkat karena masyarakat menghindari kerumuman. Begitu juga yang terjadi di kota The Spirit Of Java Surakarta. Namun ada satu masalah yang menjadi kendala, yaitu makanan hangat yang menjadi dingin lantaran waktu pengantaran yang cukup lama sehingga mengurangi kepuasan konsumen.

Mahasiswa UNS Ciptakan Alat Penghangat Makan Canggih dengan Gas Buang Knalpot
Inovasi Kotak Penghangat Makanan Ciptaan Mahasiswa UNS

“Kami mendapat informasi dari beberapa ojol. Rata-rata mereka mengantar makanan dari restoran ke konsumen membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Menurut kami, itu sangat lama. Otomatis kalau tidak ada dukungan khusus untuk menjaga suhu panas, makanan akan dingin. Sehingga mengurangi kenikmatan saat menyantap makanan. Seperti bakso, mi ayam, dan lain sebagainya,” ungkap Bioma Cakrawala, mahasiswa Teknik Mesin Universitas Sebelas Maret (UNS), 12/09/2021

Kemudian, hal ini menjadi peluang bagi Bioma dkk. Ia dengan timnya berinovasi menciptakan alat canggih bernama KOPEN Kotak Penghangat Makanan atau yang dalam bahasa Jawa memiliki arti terurus/ternafkahi. Alat ini mampu menghangatkan makanan selama perjalanan dengan memanfaatkan panas gas buang knalpot sehingga memanfaatkan kembali energi yang biasanya terbuang percuma.“Biasanya, panas sisa pembakaran kendaraan itu hanya terbuang sia-sia ke lingkungan. Memang sudah banyak upaya dari para peneliti untuk memanfaatkan panas buang ini. Dan kami mengambil langkah menggunakan panas ini sebagai sumber panas untuk kotak penghangat makanan. Menyalurkan panas ini ke wadah penghangat makanan yang kami buat,” ungkap Bioma.Ia bersama timnya mengklaim alatnya berbeda dengan yang beredar di pasaran. Selama ini, ojol menggunakan tas yang berlapis aluminium foil. Sementara, alumunium foil sifatnya hanya sebagai penahan panas. Bukan sumber panas. Alat lainnya, ada yang menggunakan panas dengan bantuan baterai.

“Nah, kelebihan kotak penghangat makanan kami, ada sumber panasnya. Memanfaatkan panas dari sepeda motor. Jadi panas yang tadinya terbuang percuma, kami ambil dan manfaatkan untuk menghangatkan wadah makanan yang kami buat. Sehingga, tidak hanya menjaga suhu. Karena alat kami menghasilkan panas,” jelasnya.Adapun waktu yang diperlukan untuk menghangatkan makanan tegantung waktu penggunaan sepeda motor. Berdasarkan hasil pengujiannya, untuk mencapai suhu 46 derajat celcius dari suhu lingkungan 27 derajat celcius diperlukan perjalanan kurang dari 20 menit.Untuk kelebihan lainnya, timnya menambahkan fitur micro-controller dan bluetooth yang bisa dikoneksikan ke smartphone. Sehingga penggunaan bisa memonitor dan mengatur on-off alat pemanas melalui smartphone. Sebab kotak penghangat makanan ini juga dipasang thermocouple untuk mengukur suhu yang ada di dalam kotak.

Untuk bahannya, menggunakan stainless steel tipe 304 yang food grade. Sehingga aman untuk makanan. Serta kayu lapis atau multiplex sebagai lapisan insulator.“Jadi knalpot ini kami modifikasi. Kami pasang dengan pipa stainless khusus untuk memindahkan panas dari knalpot ke kotaknya,” ungkapnya.Sebagai pemindah panas, Bioma menggunakan media air. Artinya, air dipanaskan kemudian dipompa ke kotak makanan dan menyalurkan panasnya di sana. Kemudian air kembali turun karena gravitasi dan dipanaskan kembali oleh knalpot. Proses itu akan bersirkulasi terus menerus.“Sedangkan kayu lapis untuk mengisolasi kotak pemanas makanan. Karena kalau tanpa isolator dia panasnya akan keluar ke lingkungan. Kayu lapis ini akan menghambat adanya perambatan panas ke lingkungan luar,” sambungnya.Bioma dan timnya mengatakan, kotak penghangat makanan ciptaannya ini masih dalam bentuk prototipe. Maka perlu dilakukan beberapa kali lagi pengujian dan pengembangan lebih lanjut. Namun, jika alat ini sudah berhasil lolos uji dan memenuhi kriteria, Bioma dan timnya berencana akan memproduksi massal alat ini.

Sumber: KUMPARAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *