Populer: Ada Minyak Goreng Rp 14.000/Liter; Luhut Curhat Tak Bisa Bantu Temannya

Minyak goreng yang dijual di salah satu swalayan di Kartasura, Sukoharjo. Foto: Moh Fajri/kumparan

Kenaikan harga minyak goreng sempat menimbulkan polemik di masyarakat. Namun, persoalan itu mulai diberikan solusi dengan adanya 11 juta liter minyak goreng dijual Rp 14.000 per liter.

Informasi tersebut menjadi salah satu yang populer di kumparanBisnis. Kabar itu dilengkapi dengan berita Menko Marves yang bercerita tidak bisa menyelamatkan kawannya yang terkena COVID-19.Berikut ini rangkuman selengkapnya berita populer kumparanBisnis sepanjang hari Sabtu (14/11):

11 Juta Liter Minyak Goreng Dijual Hanya Rp 14.000 per Liter

Harga minyak goreng di dalam negeri sedang melambung. Untuk kemasan 2 liter yang biasanya harganya sekitar Rp 25.000, kini mencapai Rp 35.000. Kenaikan harga minyak goreng saat ini merupakan imbas dari harga minyak sawit mentah (CPO) yang meroket.Untuk menekan harga minyak goreng, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengaku telah memanggil produsen-produsen minyak goreng.Produsen minyak goreng, kata Lutfi, sepakat menggelontorkan 11 juta liter minyak goreng ke pasar dengan harga Rp 14.000 per liter. Mereka bekerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) untuk penyalurannya.

“Dirjen Perdagangan Dalam Negeri sudah memanggil industri minyak goreng untuk bekerja sama dengan retail. Sekarang kita sudah mempunyai kesepakatan untuk 11 juta liter itu dijual dengan harga Rp 14.000 (per liter). Kerja sama dengan Aprindo, sudah jalan,” kata Lutfi dalam video Antara, dikutip kumparan pada Sabtu (13/11).

Luhut Curhat Gagal Selamatkan Kawan yang Kena COVID-19

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan melakukan kunjungan kerja ke Courtyard 2 KCIC, Kamis (30/9). Foto: Kemenkomarves

Sudah banyak orang yang keluarga dan temannya meninggal karena COVID-19, tak terkecuali Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.Saat membuka acara UMKM Toba Vaganza pada Jumat (12/11), Luhut menuturkan bahwa salah seorang kawan seangkatannya di TNI ada yang terkena COVID-19 saat pandemi mencapai puncaknya di Indonesia.Saat itu semua rumah sakit penuh. Banyak yang tidak mendapat perawatan sehingga tingkat kematian melonjak. Luhut menuturkan, ia sempat mencarikan rumah sakit untuk kawannya itu.

Tapi bahkan seorang Luhut yang kerap dipandang sebagai sosok sangat berkuasa pun tak bisa mendapatkan rumah sakit untuk kawannya. Akhirnya kawannya itu meninggal karena tidak mendapat perawatan yang semestinya.”Saya punya teman angkatan saya tentara. Saya sedih. Anda mungkin tidak percaya. Saya itu kadang-kadang mau nangis tiba-tiba ada orang yang tidak bisa saya tolong. Padahal saya katanya powerful, sakti. Karena begitu penuhnya itu rumah sakit, saya minta tolong agar teman saya dapat tempat, tidak dapat. Harus menunggu dan menunggu, lewat,” ujar Luhut seperti dikutip kumparan dari siaran Youtube OJK, Sabtu (13/11).Karena itu, Luhut sebagai Koordinator PPKM Jawa-Bali terus berupaya agar pandemi COVID-19 tidak kembali mengalami lonjakan.Salah satu upaya untuk mengendalikan pandemi adalah dengan membangun pabrik obat COVID-19 di Indonesia. Luhut mengaku telah berbicara langsung dengan Merck yang berpusat di Amerika Serikat (AS). Katanya, Merck sudah hampir sepakat untuk memproduksi obat COVID-19, yaitu Molnupiravir, di Indonesia.

Sumber: KUMPARAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *