Jualan Online dan Jasa Pengiriman Bisa Jadi Solusi Karyawan yang Kena PHK

Petugas jasa pengiriman bersiap mengirimkan paket kepada pelanggan di SiCepat Ekspres Pancoran (HUB) G23, Jakarta, Minggu (11/4/2021). Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

Tidak dapat dimungkiri belanja online menjadi pilihan yang menarik di tengah pandemi COVID-19. Aktivitas tersebut berdampak positif juga ke para pihak yang berkecimpung di bisnis jasa pengiriman barang.

Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Mahendra Riyanto, mengakui semakin banyak masyarakat terdidik memanfaatkan platform online dalam aktivitasnya.Tak hanya menguntungkan bagi jasa pengiriman, Mahendra merasa berkembangnya penjualan online bisa juga menjadi salah satu solusi bagi karyawan yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) imbas pandemi COVID-19.

“Menurut hemat saya hikmahnya dengan model seperti itu terangkatlah teman-teman yang terpuruk itu mendapat jalan keluar, yang terpuruk katakanlah yang kena PHK atau dirumahkan segala macam kemudian mereka yang punya kemampuan masak itu memanfaatkan kemampuannya berjualan online,” kata Mahendra saat dihubungi, Minggu (15/8).Mahendra mengatakan mereka bisa diuntungkan dengan adanya media sosial seperti Instagram dan Facebook yang memudahkan dalam pemasaran. Ia mengungkapkan ada temannya yang saat ini juga berkecimpung menjual dimsum dan keripik pisang yang laku di pasar online.

Kondisi tersebut dipermudah dengan jasa pengiriman yang beragam. Sehingga peluang bergabung di jasa pengiriman juga bisa menjadi salah satu solusi.Namun, Mahendra menegaskan berjualan dan mengantarkan barang secara online tidak bisa sembarangan. Apalagi, kata Mahendra, para pelanggan bisa memberikan nilai yang berpengaruh ke pengguna jasa berikutnya.“Kita bisa dikontrol dengan menggunakan feedback yang 5 bintang, 2 bintang, 1 bintang kan gitu, video juga. Itu mendidik kita bagi yang mau menggunakan jasa atau membeli barang itu menilai penjual dari nilai itu. Kedua, pengirimnya, jasa kurirnya, kalau terlalu banyak komplain e-commerce-nya tak dipakai,” ungkap Mahendra.“Banyak alternatif dengan tarifnya dibuka semua. Pembeli jadi pintar tidak memilih yang tidak direkomendasikan. Platform melihat kalau semakin banyak ngasih nilai 1 ya tidak dilanjutkan,” tambahnya.

Sumber: KUMPARAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *