Topikseru.com, Jakarta - Hingga penghujung 2026 menurut para pengamat ekonomi harga emas spot masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan.
Permintaan bank sentral yang tetap solid dan peluang pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi katalis utama yang menopang prospek logam mulia tersebut.
menanggapi hal tersebut, Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, menilai tren harga emas (XAUUSD) hingga akhir 2026 masih berada dalam fase bullish.
Namun, penguatan harga diperkirakan tidak berlangsung secara linear dan tetap diselingi koreksi.
Menurut dia, koreksi dalam jangka pendek setelah reli harga emas merupakan kondisi yang wajar, terutama akibat aksi ambil untung (profit taking), selama tidak terjadi perubahan signifikan pada faktor fundamental.
"Permintaan struktural dari bank sentral emerging market, penurunan opportunity cost akibat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, serta fungsi emas sebagai safe haven terhadap risiko geopolitik masih menjadi penopang utama," ujar Nanang.
Menanggapi hal tersebut, Analis Sarankan Reverse Stock Split Nanang menjelaskan, arah harga emas selanjutnya akan sangat dipengaruhi sejumlah indikator makroekonomi global.
Faktor tersebut antara lain pergerakan real yield Treasury, Indeks Dolar AS, inflasi, serta arah suku bunga acuan Amerika Serikat.
Jika dolar AS kembali menguat atau Federal Reserve (The Fed) mengambil sikap lebih hawkish, harga emas berpotensi mengalami koreksi.
Menurut Nanang, koreksi dalam rentang 5% hingga 10% masih perlu diantisipasi pelaku pasar.
ETF Emas Perluas Akses Investasi Di tengah prospek positif tersebut, perkembangan instrumen investasi emas juga menjadi perhatian.
Kehadiran ETF emas yang diluncurkan pada 10 Agustus 2026 diperkirakan dapat memperluas akses investor di pasar modal terhadap aset berbasis emas.
Meski demikian, Nanang menilai kehadiran ETF emas tidak serta-merta mengurangi daya tarik emas fisik.
Emas fisik tetap memiliki fungsi sebagai instrumen proteksi kekayaan dalam jangka panjang atau wealth preservation.
Untuk menghadapi potensi volatilitas harga, investor disarankan tidak mengejar harga setelah terjadi reli yang tajam.
Strategi pembelian secara bertahap dan rebalancing dinilai lebih sesuai dibandingkan mengalokasikan dana sekaligus atau lump sum.
Nanang merekomendasikan porsi emas sekitar 5% hingga 15% dari total portofolio. Alokasi tersebut dapat digunakan sebagai instrumen diversifikasi sekaligus penyeimbang portofolio terhadap risiko ekstrem atau tail risk.
Untuk proyeksi hingga akhir 2026, Nanang membagi kemungkinan pergerakan harga emas ke dalam tiga skenario, yakni base case, bear case, dan bull case.
Dalam skenario dasar atau base case, harga emas diperkirakan bergerak pada rentang US$ 4.500 hingga US$ 5.000 per ons troi.
Adapun titik tengah yang dinilai realistis berada di sekitar US$ 4.700 hingga US$ 4.800 per ons troi.
Sementara itu, skenario bearish atau bear case memperkirakan harga emas berada di kisaran US$ 4.000 hingga US$ 4.300 per ons troi.
Skenario tersebut dapat terjadi apabila dolar AS mengalami penguatan signifikan. Sebaliknya, dalam skenario bullish atau bull case, harga emas berpeluang menembus US$ 5.000 per ons troi
Apabila kondisi geopolitik global kembali memburuk dan mendorong peningkatan permintaan terhadap aset safe haven.
"Kisaran US$ 4.500 hingga US$ 5.000 per ons troi merupakan skenario dasar yang realistis untuk akhir 2026, di mana level US$ 5.000 menjadi skenario bullish yang masih sangat terbuka," tegas Nanang.
Berita Terkait