Topikseru.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan Selasa (6/10/2026) di zona hijau. Pasar saham Indonesia mendapat dorongan dari penguatan bursa global dan Asia, sekaligus sentimen domestik berupa rencana stimulus pemerintah senilai Rp31 triliun pada kuartal IV 2026.
Pada awal perdagangan, IHSG naik 20,27 poin atau 0,33 persen ke level 6.139,13. Penguatan juga terjadi pada indeks saham unggulan LQ45 yang bertambah 2,23 poin atau 0,37 persen menjadi 605,46.
Pergerakan ini melanjutkan momentum positif perdagangan sebelumnya. Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, IHSG pada Senin (5/10) ditutup di sekitar level 6.118,86 dan secara teknikal berpeluang melanjutkan penguatan untuk menguji area 6.150-6.200.
Baca Juga:
Pemerintah menyiapkan anggaran stimulus hingga Rp 31 triliun pada kuartal IV 2026.
Program tersebut diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat, memperluas kesempatan kerja, serta mempertahankan keberlanjutan dunia usaha.
Rinciannya terdiri atas beberapa program.
Pertama, pemerintah menyiapkan sekitar Rp1,28 triliun untuk pembukaan rekening bagi warga negara berusia di atas 17 tahun yang masuk kelompok desil 1 sampai 4.
Kedua, terdapat program bantuan pangan berupa beras 10 kilogram dengan anggaran sekitar Rp 17,5 triliun.
Ketiga, pemerintah mengalokasikan Rp12 triliun untuk Bantuan Subsidi Upah (BSU).
Kombinasi stimulus tersebut menjadi salah satu faktor domestik yang diperhatikan pelaku pasar karena menyasar daya beli dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Pemerintah juga menyiapkan sejumlah kebijakan yang akan berlanjut pada 2027, termasuk program magang bagi 150.000 peserta dan pelatihan vokasi untuk 300.000 orang.
Insentif pajak juga diperluas. Pemerintah berencana memperluas pengurangan PPh Pasal 21 bagi pekerja berpenghasilan di bawah Rp10 juta per bulan ke seluruh sektor yang mencakup sekitar 7,5 juta pekerja.
Sektor properti juga mendapatkan dukungan melalui perpanjangan PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) hingga 2027 untuk rumah dengan harga sampai Rp 2 miliar serta skema PPN DTP untuk bagian harga sampai Rp 2 miliar pada rumah dengan harga maksimal Rp 5 miliar.
Pemerintah juga menyiapkan skema KPR bersubsidi dengan bunga 6 persen bagi masyarakat berpenghasilan tetap sekitar Rp 17 juta untuk rumah hingga Rp 500 juta.
Dari perspektif pasar, berbagai kebijakan tersebut menjadi bagian dari bauran stimulus yang diharapkan menjaga aktivitas ekonomi domestik.
Wall Street mengakhiri perdagangan Senin (5/10) dengan seluruh indeks utama bergerak naik. S&P 500 menguat 0,66 persen menjadi 7.773,95, sedangkan Nasdaq Composite naik 1,05 persen ke 27.477,31.
Dow Jones Industrial Average juga menguat 0,18 persen ke level 51.267,90.
Kinerja tersebut menjadi salah satu faktor yang memberikan sentimen positif bagi pasar saham Asia pada perdagangan Selasa.
Phintraco Sekuritas mencatat penguatan Wall Street terjadi ketika harga minyak relatif stabil dan membantu meredam tekanan dari aksi jual di pasar obligasi.
Pada awal perdagangan Selasa, Nikkei Jepang menguat 0,36 persen menjadi 70.200. Hang Seng Hong Kong naik 0,57 persen ke 24.178,50.
Namun, tidak seluruh pasar regional berada di zona hijau.
Kospi Korea Selatan turun 0,74 persen menjadi 6.951,44, sedangkan Straits Times Singapura melemah 0,32 persen ke 5.646,06.
Bursa Shanghai tidak diperdagangkan karena China masih memperingati Golden Week atau rangkaian libur Hari Nasional.
Kondisi tersebut membuat sentimen regional menjadi salah satu faktor eksternal yang dicermati investor ketika perdagangan IHSG Selasa 6 Oktober 2026 berlangsung.
Harga minyak mentah global turun sekitar 1,9 persen pada Senin (5/10) dan bergerak di kisaran US$100 per barel.
Penurunan harga minyak antara lain dikaitkan dengan pemulihan ekspor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah serta langkah negara-negara G7 untuk meredakan kekhawatiran mengenai pasokan.
Pergerakan minyak menjadi penting bagi pasar karena harga energi berkaitan dengan biaya produksi dan tekanan inflasi global.
Bagi investor, pelemahan harga minyak juga dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral dunia, termasuk Federal Reserve atau The Fed.
Dikombinasikan dengan penurunan harga minyak, kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi tekanan bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya.
Karena itu, pelaku pasar memperkirakan Federal Funds Rate (FFR) berpotensi dipertahankan pada pertemuan Oktober 2026.
Namun, investor masih menunggu risalah FOMC September 2026 untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS berikutnya.
Perkembangan kebijakan The Fed sangat penting bagi pasar negara berkembang karena perubahan suku bunga AS dapat memengaruhi arus modal global dan daya tarik aset berisiko.
Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dan 30 tahun masih berada di level tinggi. Phintraco Sekuritas mencatat level tersebut merupakan yang tertinggi sejak awal 2002.
Tekanan serupa juga terlihat di Eropa.
Yield obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun pada pekan lalu mencapai level tertinggi sejak Juli 2002.
Kondisi tersebut terjadi ketika pemerintah Prancis mengumumkan rancangan anggaran 2027 dengan target defisit sekitar 5 persen dari PDB serta rencana pengurangan belanja senilai 54 miliar euro.
Tingginya yield global menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan biaya pendanaan dan memengaruhi aliran investasi ke pasar saham.
Euro Stoxx 50 menguat 0,04 persen, FTSE 100 Inggris naik 0,34 persen, dan DAX Jerman bertambah 0,09 persen.
Sementara itu, CAC 40 Prancis menjadi pengecualian dengan pelemahan 0,80 persen.
Pergerakan tersebut menjadi bagian dari rangkaian sentimen global yang ikut membentuk ekspektasi investor terhadap perdagangan saham Indonesia.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memperkirakan IHSG dapat menguji area 6.150 hingga 6.200.
"Diperkirakan penguatan IHSG berpotensi berlanjut dengan menguji level 6.150-6.200," ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.
Meski demikian, proyeksi tersebut tetap berada dalam konteks analisis pasar dan bukan jaminan pergerakan indeks.
Investor masih harus memperhatikan sejumlah faktor, mulai dari perkembangan yield obligasi AS, arah kebijakan The Fed, harga minyak, data ekonomi global, hingga implementasi stimulus pemerintah Indonesia.
Untuk perdagangan IHSG hari ini, pasar pada akhirnya akan menguji apakah kombinasi sentimen global yang lebih positif dan stimulus domestik mampu menjaga momentum penguatan indeks di atas level 6.100.