Senin, 12 Oktober 2026

PELNI dan BPH Migas Evaluasi BBM Subsidi, Pastikan Operasional Kapal Tetap Terjaga

Muchlis - Kamis, 08 Oktober 2026 11:05 WIB
PELNI dan BPH Migas Evaluasi BBM Subsidi, Pastikan Operasional Kapal Tetap Terjaga
Foto: Humas PELNI
Rapat koordinasi PELNI dan BPH Migas membahas evaluasi konsumsi BBM kapal Semester I 2026.

Topikseru.com - Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) menjadi perhatian PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) dalam menjaga kelancaran transportasi laut nasional. Bersama Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), PELNI mengevaluasi konsumsi Jenis BBM Tertentu (JBT) selama Semester I 2026 sekaligus membahas kebutuhan bahan bakar untuk mendukung pengembangan layanan ke depan.

Evaluasi tersebut dilakukan dalam rapat koordinasi di Bandung, Jawa Barat, Kamis (8/10/2026). Pertemuan ini menjadi forum bagi kedua pihak untuk meninjau pemanfaatan BBM, memperkuat pengawasan, serta membahas kebutuhan bahan bakar seiring rencana penambahan kapal dan rute baru PELNI.

Direktur Utama PELNI Budi Setyawan Wijaya mengatakan, pasokan BBM memiliki peran penting dalam memastikan kapal tetap beroperasi untuk melayani masyarakat, termasuk menjalankan penugasan pemerintah di berbagai wilayah Indonesia.

Baca Juga:

"Melalui forum ini, kami ingin memastikan kebutuhan BBM PELNI, baik untuk tahun ini maupun ke depan, dapat terpenuhi dengan baik. Terlebih PELNI akan menghadapi penambahan kapal dan rute baru yang tentunya membutuhkan dukungan dan komitmen pemenuhan BBM dari BPH Migas dan Kementerian Perhubungan," ujar Budi.

PELNI Antisipasi Kebutuhan BBM untuk Kapal dan Rute Baru

Kebutuhan BBM menjadi salah satu aspek yang perlu diperhitungkan dalam pengembangan operasional PELNI. Penambahan kapal maupun pembukaan rute baru berpotensi meningkatkan kebutuhan bahan bakar untuk mendukung layanan angkutan laut.

Karena itu, PELNI mendorong koordinasi dengan BPH Migas dan Kementerian Perhubungan agar kebutuhan BBM dapat direncanakan sesuai kebutuhan operasional.

Ketersediaan bahan bakar tidak hanya berpengaruh terhadap aktivitas kapal, tetapi juga berkaitan dengan keberlangsungan perjalanan penumpang serta distribusi barang antardaerah.

Sebagai perusahaan pelayaran nasional yang menjalankan penugasan pemerintah, PELNI melayani mobilitas masyarakat di berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah yang memiliki keterbatasan akses transportasi darat.

Dalam konteks tersebut, perencanaan kebutuhan BBM menjadi bagian penting untuk menjaga kesinambungan layanan transportasi laut.

Tata Kelola BBM PELNI Diperkuat Berbasis Data

Selain membahas ketersediaan pasokan, rapat koordinasi tersebut turut menyoroti pengelolaan dan pengawasan konsumsi BBM di lingkungan PELNI.

Budi mengatakan, perusahaan terus memperkuat tata kelola BBM melalui sistem yang transparan, terukur, dan berbasis data.

Pengawasan dilakukan terhadap rangkaian proses, mulai dari penerimaan bahan bakar, pemanfaatannya oleh kapal, hingga pelaporan konsumsi.

Langkah tersebut ditujukan untuk memastikan penggunaan BBM dapat dipertanggungjawabkan serta sesuai dengan kebutuhan operasional kapal.

"Kami terus berupaya memastikan pengelolaan BBM dilakukan secara transparan dan terukur dengan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Kami berharap tata kelola ini dapat membangun kepercayaan antarpihak sekaligus memastikan BBM yang merupakan dukungan pemerintah dapat dimanfaatkan secara tepat guna," kata Budi.

Dengan sistem pencatatan yang terintegrasi, perusahaan dapat memantau kebutuhan bahan bakar setiap kapal dan mengevaluasi penggunaannya secara berkala.

BPH Migas Apresiasi Sistem Pengendalian BBM PELNI

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengapresiasi sistem pengelolaan BBM yang diterapkan PELNI. Menurut dia, mekanisme pengawasan perusahaan telah mencakup proses penerimaan, penggunaan, pelaporan, hingga evaluasi dengan dukungan data terintegrasi.

Sistem tersebut dinilai membantu proses pemantauan kebutuhan BBM masing-masing kapal sehingga perencanaan dan evaluasi konsumsi dapat dilakukan secara lebih terukur.

"Kami melihat pengelolaan BBM di PELNI telah berjalan dengan sistem yang cukup baik. Setiap tahapan didukung pencatatan dan data yang terintegrasi, sehingga kebutuhan BBM masing-masing kapal dapat dihitung, dipantau, dan dievaluasi secara lebih terukur," ujar Wahyudi.

Dia juga menekankan pentingnya penggunaan BBM yang bertanggung jawab, mengingat bahan bakar tersebut merupakan bagian dari dukungan pemerintah untuk sektor yang membutuhkan.

Pengawasan konsumsi BBM menjadi relevan karena layanan pelayaran memiliki peran dalam menghubungkan wilayah, mendukung mobilitas penduduk, serta membantu distribusi barang dan komoditas daerah.

BBM Berperan Penting bagi Konektivitas Wilayah 3TP

Menurut Wahyudi, keberadaan PELNI turut mendukung konektivitas antarpulau dan antarprovinsi, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah dengan keterbatasan akses transportasi.

Layanan angkutan laut tidak hanya membawa penumpang, tetapi juga berkontribusi terhadap pergerakan barang dan komoditas yang dibutuhkan masyarakat di berbagai wilayah.

Peran tersebut semakin penting bagi wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan atau 3TP. Di sejumlah kawasan tersebut, transportasi laut menjadi salah satu sarana penting untuk menghubungkan masyarakat dengan pusat kegiatan ekonomi dan layanan publik.

Karena itu, kepastian pasokan BBM dalam jumlah yang memadai, kualitas yang sesuai, serta ketersediaan yang berkelanjutan menjadi perhatian dalam mendukung operasional pelayaran.

Budi menegaskan, PELNI berharap penyediaan BBM untuk angkutan laut dapat terjaga dari sisi kuantitas, kualitas, dan kontinuitas.

Ketiga aspek tersebut dinilai penting agar perusahaan dapat menjalankan penugasan pelayanan publik sekaligus mendukung pemerataan ekonomi nasional.

PELNI dan BPH Migas Lanjutkan Evaluasi Konsumsi BBM

Rapat koordinasi dan evaluasi konsumsi Jenis BBM Tertentu Semester I 2026 turut dihadiri jajaran BPH Migas, Kementerian Perhubungan, serta manajemen PELNI.

Dari BPH Migas hadir Kepala BPH Migas Wahyudi Anas beserta jajaran Komite BPH Migas dan Direktur BBM BPH Migas Chrisnawan Anditya. Sementara itu, Kementerian Perhubungan diwakili Penilik Angkutan Perairan Sugeng Priyanto dan Dedi Supardi.

PELNI diwakili Direktur Utama Budi Setyawan Wijaya, Direktur Armada dan Teknik Kokok Susanto, serta jajaran Vice President.

PELNI menyatakan akan melanjutkan pengawasan dan evaluasi pemanfaatan BBM secara berkala. Upaya tersebut diarahkan untuk menjaga efisiensi, memperkuat akuntabilitas, serta mendukung keberlanjutan layanan transportasi laut nasional.

Melalui koordinasi dengan BPH Migas dan Kementerian Perhubungan, perusahaan berharap kebutuhan BBM dapat direncanakan secara lebih baik sehingga layanan kapal tetap mendukung mobilitas masyarakat dan konektivitas antardaerah di Indonesia.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
ESDM Hunting BBM ke Negara Lain, Stok Nasional Dijaga 18-20 Hari
PELNI Bangun Ekosistem Bisnis Kelautan dan Wisata Berbasis Masyarakat Adat di Kapota
PELNI Perkuat Budaya Safety di 84 Kapal lewat Fleet Safety Excellence Award 2026
Erupsi Anak Krakatau, PELNI Pastikan Kapal Tetap Berlayar: Ini Jadwal dari Jakarta
Sinergi BUMN Dorong Ekonomi & Sosial Banda Neira Lewat TJSL Berkelanjutan
PELNI dan Pelindo Buka Posko Bantuan Gempa NTT di Tanjung Priok, Angkutan Gratis 100%