Topikseru.com - Langkah Aldila Sutjiadi bersama Erin Routliffe di China Open 2026 terhenti pada babak semifinal. Pasangan Indonesia dan Selandia Baru itu gagal melewati hadangan unggulan pertama Katerina Siniakova/Zhang Shuai setelah kalah dua set langsung, 4-6, 2-6, di Beijing, Sabtu (10/10/2026).
Dalam duel turnamen WTA 1000 tersebut, Aldila/Erin berjuang selama satu jam 14 menit. Mereka sempat memberikan perlawanan, tetapi kesulitan mempertahankan momentum ketika Siniakova/Zhang mulai mengendalikan permainan.
Kekalahan ini sekaligus menutup peluang Aldila meraih gelar China Open 2026 di nomor ganda putri. Padahal, ia dan Routliffe datang dengan modal positif setelah menyingkirkan pasangan unggulan ketiga Hsieh Su-wei/Jelena Ostapenko pada perempat final.
Baca Juga:
Hasil semifinal ini memperlihatkan tantangan yang harus dihadapi Aldila/Erin ketika berjumpa pasangan papan atas dunia. Bukan hanya soal kualitas pukulan, konsistensi dalam poin-poin penting juga menjadi pembeda sepanjang pertandingan.
Namun, Siniakova/Zhang kemudian menemukan celah untuk meningkatkan tekanan. Mereka merebut dua gim berturut-turut dan mengubah kedudukan menjadi 4-2.
Aldila/Erin mencoba merespons dengan memperkecil jarak menjadi 3-4. Upaya tersebut menjaga pertandingan tetap kompetitif, tetapi pasangan unggulan pertama mampu mempertahankan keunggulan hingga menutup set pembuka dengan skor 6-4.
Keunggulan satu set memberi Siniakova/Zhang posisi lebih nyaman untuk memasuki set kedua. Sebaliknya, Aldila/Erin dituntut meningkatkan efektivitas permainan agar tetap memiliki peluang membalikkan keadaan.
Dalam pertandingan ganda, kehilangan momentum pada fase seperti ini dapat berdampak besar. Setiap pengembalian, penempatan bola, dan keputusan saat mendekati net menjadi penting untuk mempertahankan tekanan terhadap lawan.
Namun, keunggulan itu tidak bertahan lama. Siniakova/Zhang segera membalas dengan memenangi tiga gim secara beruntun, membalikkan kedudukan menjadi 3-1.
Aldila/Erin sempat menghentikan laju lawan dan memperkecil skor menjadi 2-3. Akan tetapi, mereka kembali kesulitan mengimbangi permainan pasangan unggulan pertama tersebut.
Siniakova/Zhang kemudian merebut tiga gim berikutnya untuk memastikan kemenangan 6-2 pada set kedua. Skor akhir 6-4, 6-2 mengantarkan mereka ke final China Open 2026.
Bagi Aldila/Erin, fase setelah kedudukan 2-3 menjadi titik penting. Mereka tidak berhasil mempertahankan tekanan, sementara lawan mampu menuntaskan pertandingan tanpa harus memainkan set ketiga.
Perbedaan juga terlihat dalam efektivitas servis pertama. Aldila/Erin memasukkan 32 dari 52 percobaan servis pertama, setara 62 persen. Dari servis pertama yang berhasil masuk, mereka memenangi 66 persen poin.
Sementara itu, Siniakova/Zhang mencatatkan tingkat kemenangan poin servis pertama sebesar 81 persen. Angka tersebut menunjukkan kemampuan mereka memaksimalkan kesempatan ketika servis pertama masuk.
Dalam pertandingan dengan margin yang relatif ketat pada set pembuka, efektivitas servis dapat membantu pemain mengurangi tekanan dan menjaga kendali atas gim servisnya.
Aldila/Erin juga membuat delapan kesalahan sendiri, dua kali lipat dari Siniakova/Zhang yang mencatatkan empat kesalahan. Perbedaan ini turut menggambarkan persoalan konsistensi yang dihadapi pasangan Indonesia dan Selandia Baru tersebut.
Menariknya, Aldila/Erin justru unggul dalam jumlah ace. Mereka menghasilkan dua ace, sementara lawan mencatatkan satu. Namun, keunggulan tersebut belum cukup untuk menutupi perbedaan efektivitas poin secara keseluruhan.
Statistik ini menunjukkan bahwa jumlah ace bukan satu-satunya ukuran keberhasilan dalam pertandingan ganda. Kemampuan mempertahankan reli, memanfaatkan servis pertama, dan membatasi kesalahan sendiri juga berperan dalam menentukan hasil.
Mereka menyingkirkan pasangan unggulan ketiga Hsieh Su-wei/Jelena Ostapenko melalui pertarungan tiga set, 7-6(5), 4-6, 10-7, pada Jumat (9/10/2026) malam.
Kemenangan tersebut membawa Aldila/Erin ke empat besar dan memperlihatkan kemampuan mereka bersaing dengan pasangan unggulan dalam turnamen level WTA 1000.
Namun, tantangan pada semifinal berbeda. Menghadapi Siniakova/Zhang, mereka gagal mempertahankan efektivitas yang diperlukan untuk membalikkan tekanan lawan, terutama setelah kehilangan keunggulan awal pada set kedua.
Meski tidak berhasil melangkah ke final, keberhasilan mencapai semifinal tetap menjadi bagian penting dari perjalanan mereka di Beijing.
Gelar tersebut menjadi modal positif bagi pasangan ini sebelum menghadapi persaingan di Beijing. Perjalanan mereka di China Open juga memperlihatkan kemampuan menembus babak-babak akhir, meskipun kali ini langkah mereka berhenti di semifinal.
Setelah rangkaian turnamen tersebut, Aldila dijadwalkan tampil di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 pada nomor ganda campuran bersama Christopher Rungkat, yang saat ini juga menjadi pelatihnya.
Agenda berikutnya itu membuka tantangan berbeda bagi Aldila karena ia akan berkompetisi di nomor ganda campuran, bukan hanya ganda putri.
Kekalahan dari Siniakova/Zhang menjadi akhir perjalanan Aldila/Erin di China Open 2026. Namun, hasil di Beijing juga memberi gambaran mengenai aspek yang perlu dievaluasi, terutama efektivitas servis pertama, konsistensi pukulan, dan kemampuan menjaga momentum saat menghadapi pasangan elite.
Bagi Aldila, perhatian kini beralih ke agenda berikutnya. Pengalaman dari turnamen WTA 1000 ini dapat menjadi bekal untuk menghadapi persaingan selanjutnya bersama pasangan yang berbeda.