Rabu, 21 Oktober 2026

Iran Ancam Kabel Internet Bawah Laut di Selat Hormuz, Infrastruktur Digital AS Ikut Disorot

Muchlis - Rabu, 21 Oktober 2026 06:25 WIB
Iran Ancam Kabel Internet Bawah Laut di Selat Hormuz, Infrastruktur Digital AS Ikut Disorot
Ilustrasi kabel internet bawah laut yang menjadi sorotan dalam ketegangan Iran dan Amerika Serikat.

Topikseru.com - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kini mengarah pada ancaman terhadap infrastruktur digital. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan akan mengungkap sasaran serangan baru dan memperkenalkan persenjataan yang belum pernah digunakan, sembari menyoroti kabel-kabel internet bawah laut yang melintasi Selat Hormuz.

Pernyataan tersebut menambah dimensi baru dalam konflik kedua negara. Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur strategis perdagangan energi dunia. Namun, peringatan terbaru Teheran juga menempatkan infrastruktur komunikasi bawah laut sebagai bagian dari perhatian keamanan kawasan.

Juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, menyatakan terdapat tujuh kabel internet utama yang membentang di bawah Selat Hormuz. Ia mengklaim kabel-kabel tersebut membawa lalu lintas data internet dan komersial.

Baca Juga:

"Kami hanya ingin mereka tahu bahwa target-target baru akan diungkapkan. Senjata-senjata baru juga akan diperkenalkan," kata Mohebbi dalam sebuah acara di Museum Pertahanan Suci di Teheran, Senin, 19 Oktober 2026.

Pernyataan itu disampaikan sebagaimana dilaporkan lembaga penyiaran negara Iran, IRIB. Mohebbi juga menegaskan keinginan Iran untuk mengusir sisa-sisa kekuatan Amerika Serikat dari kawasan tersebut.

Meski demikian, pernyataan tersebut merupakan peringatan dari pihak Iran. Belum ada keterangan dalam informasi yang tersedia bahwa kabel-kabel internet bawah laut itu telah diserang atau mengalami kerusakan akibat ancaman tersebut.

Kabel Internet Bawah Laut Masuk dalam Perhitungan Konflik

Ancaman terhadap kabel komunikasi bawah laut memperlihatkan bagaimana konflik geopolitik dapat merambah ke sektor yang menopang aktivitas ekonomi modern.

Kabel bawah laut merupakan infrastruktur penting untuk menghubungkan jaringan komunikasi antarnegara. Infrastruktur ini membawa sebagian besar lalu lintas data internasional, termasuk komunikasi digital dan pertukaran informasi yang dibutuhkan oleh perusahaan maupun lembaga pemerintahan.

Gangguan terhadap kabel-kabel tersebut berpotensi memengaruhi konektivitas internet dan layanan digital, bergantung pada lokasi kerusakan, kapasitas jaringan alternatif, serta kemampuan operator mengalihkan lalu lintas data.

Dampaknya tidak otomatis membuat seluruh internet di suatu negara terputus. Namun, kerusakan pada jalur strategis dapat meningkatkan latensi, mengurangi kapasitas koneksi, atau mengganggu layanan tertentu apabila jalur cadangan tidak memadai.

Selat Hormuz menjadi perhatian karena berada di kawasan yang memiliki kepentingan strategis bagi perdagangan dan keamanan regional.

Jika infrastruktur komunikasi di wilayah itu ikut terdampak konflik, persoalannya tidak lagi terbatas pada pergerakan kapal dan pasokan energi.

Ancaman tersebut juga menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan jaringan digital lintas negara yang bergantung pada kabel fisik di dasar laut.

Pejabat Iran Sebelumnya Singgung Pusat Data dan Fasilitas AI

Peringatan mengenai kabel internet bukan satu-satunya pernyataan dari pejabat Iran yang menyinggung infrastruktur teknologi.

Awal Oktober 2026, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan kepada lembaga penyiaran negara Iran, Press TV, bahwa Teheran dapat mempertimbangkan sasaran berupa kabel internet bawah laut, pusat data, dan fasilitas kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang berkaitan dengan Amerika Serikat apabila perang kembali pecah.

"Kami belum memasukkan aset-aset tersebut ke dalam daftar target kami," kata Rezaei, seraya memperingatkan bahwa infrastruktur itu dapat dihancurkan jika konflik kembali terjadi.

Pernyataan Rezaei menunjukkan bahwa infrastruktur teknologi telah disebut dalam wacana ancaman Iran terhadap Amerika Serikat.

Namun, penyebutan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan adanya keputusan operasional untuk menyerang fasilitas tertentu.

Pusat data menopang penyimpanan dan pemrosesan informasi dalam skala besar. Sementara itu, fasilitas kecerdasan buatan membutuhkan infrastruktur komputasi yang mampu menjalankan berbagai proses pengolahan data.

Apabila fasilitas semacam itu menjadi sasaran dalam konflik bersenjata, dampaknya dapat meluas ke layanan digital yang bergantung pada infrastruktur tersebut. Besarnya dampak akan bergantung pada fasilitas yang terdampak, tingkat ketergantungan pengguna, serta ketersediaan sistem cadangan.

Karena itu, ancaman terhadap kabel bawah laut, pusat data, dan fasilitas AI memperlihatkan bahwa persaingan militer modern tidak hanya berkaitan dengan persenjataan konvensional, tetapi juga dengan infrastruktur teknologi yang menopang aktivitas sipil dan ekonomi.

Konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel Berawal pada Februari

Ketegangan terbaru tersebut berlangsung dalam rangkaian konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Berdasarkan kronologi dalam laporan yang menjadi bahan pemberitaan ini, Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Teheran kemudian merespons dengan serangan rudal dan pesawat nirawak ke berbagai wilayah di kawasan tersebut.

Konflik itu juga berdampak pada Selat Hormuz. Iran secara efektif menutup jalur perairan strategis tersebut, sementara Washington kemudian memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Selat Hormuz memiliki peran penting bagi perdagangan energi internasional. Gangguan terhadap jalur ini dapat meningkatkan ketidakpastian bagi pelayaran dan pasar energi, terutama ketika ketegangan militer membatasi pergerakan kapal.

Pada Juni 2026, Amerika Serikat dan Iran dilaporkan menandatangani nota kesepahaman terkait kebebasan navigasi di selat tersebut. Namun, pelaksanaannya terhenti akibat perbedaan pandangan mengenai keamanan jalur perairan strategis itu.

Dalam situasi seperti ini, pernyataan mengenai sasaran baru dan persenjataan baru berpotensi menambah ketidakpastian. Meski begitu, ancaman yang disampaikan pejabat Iran perlu dibedakan dari tindakan militer yang benar-benar telah dilakukan.

Ancaman Infrastruktur Digital Berpotensi Memperluas Dampak Konflik

Kabel internet bawah laut merupakan bagian dari infrastruktur fisik yang mendukung konektivitas digital dunia. Berbeda dari gambaran internet yang sering dianggap sepenuhnya nirkabel, komunikasi internasional masih sangat bergantung pada jaringan kabel yang terpasang di dasar laut.

Kerusakan kabel dapat mengganggu sebagian jalur komunikasi, tetapi tingkat dampaknya bergantung pada konfigurasi jaringan, jumlah kabel yang terdampak, dan ketersediaan jalur alternatif.

Di sisi lain, ancaman terhadap pusat data dan fasilitas AI juga menyoroti ketergantungan ekonomi terhadap sistem komputasi.

Layanan bisnis, penyimpanan data, dan berbagai aplikasi digital membutuhkan infrastruktur yang tetap beroperasi meskipun terjadi gangguan keamanan.

Meski belum ada konfirmasi bahwa kabel-kabel yang disebut IRGC mengalami serangan, pernyataan tersebut menegaskan bahwa infrastruktur digital telah masuk dalam pembahasan ancaman di tengah konflik regional.

Bagi dunia internasional, persoalan ini bukan hanya tentang keamanan satu jalur kabel. Risiko yang lebih luas terletak pada kemungkinan konflik militer memengaruhi jaringan komunikasi dan layanan teknologi yang digunakan lintas negara.

Perkembangan berikutnya akan bergantung pada situasi keamanan di kawasan, langkah yang diambil para pihak yang berkonflik, serta apakah peringatan tersebut berkembang menjadi tindakan nyata terhadap infrastruktur digital.

Hingga informasi dalam laporan ini, ancaman yang disampaikan pejabat Iran belum dapat disamakan dengan serangan yang telah terverifikasi terhadap kabel internet bawah laut di Selat Hormuz.

Editor
: Agus Supratman
Berita Terkait
Kapal Tanker Kembali Terbakar di Selat Hormuz, Iran Peringatkan Kapal Tanpa Identifikasi
BMKG Imbau Waspada Gelombang Tinggi Hingga 4 M di Sejumlah Perairan 15-18 Oktober
Harga Minyak Indonesia Melonjak ke US$112,81 per Barel, Ini Pemicunya
Iran Tengah Mengkaji Proposal Amerika Serika untuk Kembali Berunding, Selat Hormuz Jadi Sorotan
Akun WhatsApp Mendadak Diblokir Padahal Tidak Melanggar? Kenali Penyebab dan Solusinya
Negara dengan Data Center Terbanyak di Dunia, Indonesia Punya 79