Sabtu, 17 Oktober 2026

8 Penyakit Akibat Kabut Asap Karhutla yang Perlu Diwaspadai, dari ISPA hingga Gangguan Jantung

Muchlis - Sabtu, 17 Oktober 2026 06:05 WIB
8 Penyakit Akibat Kabut Asap Karhutla yang Perlu Diwaspadai, dari ISPA hingga Gangguan Jantung
Ilustrasi - Kabut asap akibat karhutla dapat memperburuk gangguan pernapasan dan meningkatkan risiko kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.

Topikseru.com - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Polusi yang terkandung di dalamnya dapat memicu gangguan kesehatan, mulai dari iritasi mata hingga memperburuk penyakit pernapasan dan jantung.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 21 Agustus 2026 menyebut lebih dari tiga juta warga di 37 kabupaten/kota terdampak langsung kabut asap karhutla di tujuh provinsi, yakni Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Untuk mengantisipasi dampak kesehatan, Kemenkes mengerahkan tenaga kesehatan dan bantuan logistik ke wilayah terdampak. Masyarakat juga diingatkan agar menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Baca Juga:

Salah satu ancaman dalam asap kebakaran adalah partikel halus PM2,5. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel tersebut terhirup hingga jauh ke dalam paru-paru. Dampaknya bisa berbeda pada setiap orang, bergantung pada tingkat paparan, kondisi kesehatan, dan lamanya berada di lingkungan berasap.

Lantas, apa saja penyakit dan gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai saat kabut asap karhutla melanda?

1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

ISPA menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu diperhatikan ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap. Paparan partikel dan zat pencemar dapat mengiritasi saluran pernapasan serta memperparah gejala yang sudah ada.

Keluhan yang dapat muncul antara lain batuk, pilek, tenggorokan terasa sakit atau tidak nyaman, dan gangguan pernapasan. Tidak semua keluhan tersebut berarti seseorang mengalami ISPA akibat asap, karena diagnosis tetap memerlukan penilaian tenaga kesehatan.

Kemenkes melaporkan kenaikan kasus ISPA di sejumlah wilayah terdampak pada 2026. Di Kalimantan Tengah, misalnya, jumlah kasus yang dilaporkan meningkat dari 402 menjadi 716 dalam satu pekan, atau sekitar 78,1 persen.

Angka tersebut menunjukkan pentingnya kewaspadaan kesehatan di tengah paparan asap, meski penyebab kenaikan kasus pada suatu wilayah perlu dinilai berdasarkan data dan pemeriksaan lebih lanjut.

2. Pneumonia

Pneumonia merupakan infeksi yang menyebabkan peradangan pada jaringan paru-paru. Gejalanya dapat berupa batuk, demam, sesak napas, serta tubuh terasa lemah.

Asap karhutla dapat mengiritasi saluran pernapasan dan berpotensi memperburuk kondisi paru. Namun, pneumonia sendiri umumnya disebabkan oleh infeksi, sehingga paparan asap tidak dapat dianggap sebagai penyebab langsung setiap kasus.

Anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki penyakit penyerta perlu mendapat perhatian lebih karena berisiko mengalami komplikasi ketika terkena gangguan pernapasan.

Jika seseorang mengalami sesak napas, napas menjadi cepat, atau kondisi tubuh memburuk, segera cari pertolongan medis.

3. Asma Kambuh Atau Memburuk

Bagi penderita asma, kabut asap dapat menjadi pemicu kekambuhan. Partikel halus dan zat iritan di udara dapat memicu penyempitan saluran pernapasan sehingga muncul batuk, sesak, atau napas berbunyi.

Gejala bisa memburuk ketika seseorang terlalu lama berada di luar ruangan saat kualitas udara sedang tidak sehat.

Penderita asma sebaiknya mengikuti rencana penanganan yang telah diberikan dokter, membawa obat yang diresepkan, dan mengurangi paparan asap sebisa mungkin.

Apabila sesak berat atau obat pelega yang diresepkan tidak membantu seperti biasanya, segera cari pertolongan medis.

4. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) Memburuk

Penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK merupakan gangguan paru jangka panjang yang dapat menyebabkan hambatan aliran udara. Penderitanya dapat mengalami batuk kronis, produksi dahak, dan sesak napas.

Paparan polusi udara, termasuk partikel dalam asap kebakaran, dapat memperburuk gejala pada penderita PPOK. Kondisi ini perlu diwaspadai terutama ketika kabut asap berlangsung dalam waktu lama.

Orang yang memiliki penyakit paru sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan saat udara tercemar, mengikuti petunjuk dokter, dan segera memeriksakan diri jika gejalanya berubah atau semakin berat.

5. Iritasi Mata

Mata juga dapat terdampak langsung oleh kabut asap. Paparan partikel dan zat iritan bisa membuat mata merah, perih, gatal, atau berair.

Keluhan biasanya terasa lebih mengganggu ketika seseorang berada di luar ruangan dalam kondisi berasap. Hindari mengucek mata karena tindakan tersebut dapat memperparah iritasi.

Jika memungkinkan, masuklah ke ruangan dengan udara yang lebih bersih. Apabila iritasi menetap, terasa berat, atau disertai gangguan penglihatan, periksakan diri ke tenaga kesehatan.

6. Iritasi Kulit

Paparan asap dan partikel pencemar juga dapat memicu rasa tidak nyaman pada kulit bagi sebagian orang. Keluhannya bisa berupa gatal, kemerahan, atau iritasi.

Respons kulit setiap orang berbeda. Orang dengan kulit sensitif mungkin lebih mudah mengalami keluhan ketika berada di lingkungan yang tercemar.

Masyarakat dapat mengurangi paparan dengan membatasi kegiatan di luar ruangan dan membersihkan kulit setelah terpapar asap. Jika muncul ruam berat, pembengkakan, atau keluhan yang tidak membaik, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

7. Gangguan Kardiovaskular, Termasuk Risiko Pada Penderita Penyakit Jantung

Dampak polusi udara tidak terbatas pada paru-paru. Paparan partikel halus juga menjadi perhatian dalam kesehatan kardiovaskular, terutama bagi orang yang sudah memiliki penyakit jantung.

PM2,5 dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan polusi partikel dikaitkan dengan peningkatan risiko masalah kardiovaskular, khususnya pada kelompok rentan dan ketika tingkat pencemaran tinggi.

Orang dengan riwayat penyakit jantung sebaiknya lebih berhati-hati saat kualitas udara memburuk dan mengikuti anjuran dokter mengenai aktivitas serta pengobatan.

Nyeri dada, sesak berat, pingsan, atau gejala lain yang mengarah pada keadaan darurat harus segera mendapatkan pertolongan medis.

8. Sakit Kepala dan Keluhan Lainnya

Sebagian orang dapat mengalami sakit kepala atau merasa tidak nyaman ketika berada di lingkungan dengan asap pekat. Keluhan semacam ini perlu dilihat bersama kondisi lingkungan dan gejala lain yang menyertainya.

Sakit kepala bukan tanda khusus keracunan asap, sehingga penyebabnya tidak bisa dipastikan hanya dari satu gejala. Namun, apabila keluhan muncul bersamaan dengan sesak napas, kebingungan, kelemahan berat, atau kondisi yang memburuk, segera cari bantuan medis.

Jangan mengabaikan gejala yang terus berulang, terutama jika paparan asap berlangsung lama atau kualitas udara di sekitar tempat tinggal sangat buruk.

Mengapa PM2,5 Dalam Asap Karhutla Perlu Diwaspadai?

PM2,5 adalah partikel polusi udara dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini dapat terhirup hingga bagian dalam paru-paru.

Asap kebakaran hutan dan lahan juga dapat mengandung campuran gas serta partikel pencemar lain. Besarnya risiko kesehatan dipengaruhi oleh konsentrasi polutan, durasi paparan, dan kondisi individu.

Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang dengan asma, PPOK, atau penyakit jantung termasuk kelompok yang perlu memberi perhatian lebih terhadap kualitas udara.

Risiko juga dapat meningkat ketika seseorang terus beraktivitas di luar ruangan selama periode pencemaran tinggi. Karena itu, memantau informasi kualitas udara dan mengurangi paparan merupakan langkah penting untuk melindungi kesehatan.

Cara Melindungi Diri saat Kabut Asap Melanda

Ketika kabut asap mulai menyelimuti suatu wilayah, masyarakat dapat melakukan beberapa langkah berikut:

Kurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, khususnya olahraga atau kegiatan fisik berat.

Gunakan masker yang sesuai. Masker respirator yang pas di wajah, seperti N95 atau KN95, dapat membantu mengurangi paparan partikel halus. Masker kain atau masker bedah tidak memberikan perlindungan setara terhadap PM2,5.

Jaga udara di dalam ruangan. Tutup jendela ketika udara luar tercemar dan gunakan penyaring udara partikulat jika tersedia.

Ikuti rencana pengobatan. Penderita asma, PPOK, dan penyakit jantung sebaiknya mengikuti petunjuk dokter serta tidak menghentikan obat tanpa arahan medis.

Perhatikan gejala. Cari pertolongan jika muncul sesak napas, nyeri dada, atau gejala berat lainnya.

Pantau informasi resmi. Ikuti perkembangan kualitas udara dan imbauan dari instansi terkait.

Penggunaan masker perlu disertai langkah lain untuk mengurangi paparan. Jika kualitas udara sangat buruk, menghindari atau mempersingkat kegiatan di luar ruangan tetap menjadi langkah penting.

Dampak Karhutla Tidak Berhenti saat Api Padam

Kebakaran hutan dan lahan menimbulkan dampak yang melampaui area terbakar. Asap dapat terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara di wilayah yang jauh dari titik api.

Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman. Pemantauan kualitas udara, kesiapan layanan kesehatan, penyampaian informasi kepada masyarakat, dan perlindungan kelompok rentan juga menjadi bagian penting dari penanganan bencana.

Masyarakat di wilayah terdampak perlu mengenali gejala yang muncul dan tidak menunda mencari bantuan ketika kondisi memburuk. Sementara itu, informasi dari instansi kesehatan dan lingkungan dapat menjadi acuan untuk menentukan langkah perlindungan sesuai kondisi setempat.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
Medan Terapkan PJJ hingga 21 Oktober, Apa yang Perlu Disiapkan Orang Tua?
Karhutla di Indonesia Telan Korban Jiwa, Ratusan Ribu Kasus ISPA Tercatat
Rumah Ikut Dipenuhi Asap? Ini Cara Mengurangi Polusi Udara di Dalam Ruangan
Susu Bisa Menetralkan Racun Kabut Asap? Ini Penjelasan Medisnya
9 Cara Menjaga Kesehatan saat Kabut Asap Menyelimuti Permukiman
Waspada! Ini 8 Gejala Tubuh Terpapar Kabut Asap yang Tak Boleh Diabaikan