Topikseru.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Paparan asap juga dapat berdampak pada kesehatan, mulai dari mata perih, batuk, hingga gangguan pernapasan yang membutuhkan penanganan medis.
Asap kebakaran mengandung campuran gas dan partikel halus, termasuk PM2.5, yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Dampaknya bisa dirasakan dalam waktu singkat, terutama ketika kualitas udara memburuk dan seseorang terus terpapar asap.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), paparan asap kebakaran dapat menyebabkan iritasi mata dan saluran pernapasan, sakit kepala, mengi, hingga sesak napas. Risiko gangguan kesehatan lebih besar pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit paru-paru atau jantung.
Baca Juga:
Lantas, apa saja gejala tubuh terpapar kabut asap yang perlu diwaspadai?
1. Mata Perih, Merah, dan Berair
Salah satu gejala yang mudah dikenali setelah terpapar kabut asap adalah mata terasa perih, merah, gatal, atau berair.
Partikel dan zat iritan dalam asap dapat mengganggu permukaan mata sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman. Keluhan ini bisa semakin terasa ketika seseorang beraktivitas di luar ruangan saat udara tercemar.
Untuk mengurangi iritasi, hindari menggosok mata dan segera pindah ke ruangan dengan udara yang lebih bersih. Jika diperlukan, bilas mata dengan air bersih. Hindari meneteskan ramuan herbal atau bahan lain yang tidak dirancang untuk penggunaan pada mata.
Jika nyeri mata berat, penglihatan terganggu, atau keluhan tidak membaik, segera periksakan diri ke tenaga kesehatan.
2. Batuk yang Terus-Menerus
Batuk merupakan salah satu respons tubuh ketika saluran pernapasan mengalami iritasi akibat partikel dan zat dalam asap.
Gejalanya dapat berupa batuk kering maupun batuk berdahak. Batuk juga bisa semakin sering muncul ketika seseorang berada di lingkungan berasap atau melakukan aktivitas fisik di luar ruangan.
Jangan menganggap batuk akibat kabut asap selalu ringan. Jika batuk semakin parah, berlangsung terus-menerus, atau disertai sesak napas, sebaiknya segera mencari pertolongan medis.
3. Tenggorokan Gatal, Kering, atau Sakit
Paparan asap dapat mengiritasi saluran pernapasan bagian atas, termasuk tenggorokan.
Gejala yang muncul antara lain tenggorokan terasa kering, gatal, perih, atau sakit ketika menelan. Sebagian orang juga merasakan sensasi tidak nyaman setelah menghirup udara yang dipenuhi asap.
Untuk membantu meredakan keluhan ringan, minumlah air yang cukup dan kurangi paparan asap. Minuman hangat dapat membantu memberikan rasa nyaman pada tenggorokan, tetapi tidak menghilangkan partikel asap yang sudah terhirup.
Jika sakit tenggorokan disertai kesulitan bernapas atau menelan, jangan menunda pemeriksaan medis.
4. Hidung Berair, Tersumbat, atau Sering Bersin
Tidak hanya mata dan tenggorokan, hidung juga dapat mengalami iritasi ketika terpapar kabut asap.
Gejalanya dapat berupa hidung berair, tersumbat, bersin berulang, atau rasa tidak nyaman di sekitar hidung dan sinus.
Keluhan tersebut merupakan respons terhadap zat iritan di udara. Pada sebagian orang, terutama yang memiliki alergi atau gangguan pernapasan sebelumnya, gejala bisa terasa lebih mengganggu.
Mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menghindari sumber asap merupakan langkah penting untuk membatasi paparan lebih lanjut.
5. Sakit Kepala
Sebagian orang dapat mengalami sakit kepala ketika berada di lingkungan dengan polusi asap.
Keluhan ini dapat muncul bersamaan dengan iritasi mata, batuk, atau rasa tidak nyaman pada saluran pernapasan. Namun, sakit kepala bukan gejala khusus kabut asap karena dapat disebabkan oleh berbagai kondisi lain.
Jika sakit kepala muncul saat kualitas udara memburuk, segera menjauh dari paparan asap dan beristirahat di tempat dengan udara lebih bersih.
Sakit kepala yang sangat berat, muncul mendadak, atau disertai kebingungan, kelemahan anggota tubuh, maupun gangguan kesadaran memerlukan pertolongan medis segera.
6. Napas Berbunyi atau Mengi
Mengi adalah bunyi seperti siulan ketika bernapas, yang sering kali lebih terdengar saat mengembuskan napas.
Paparan asap dapat memicu penyempitan saluran pernapasan dan memperburuk kondisi seperti asma. Akibatnya, seseorang dapat mengalami napas berbunyi, batuk, atau dada terasa sesak.
Orang yang memiliki asma atau penyakit paru kronis perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk.
Jika mengi baru muncul atau semakin berat, segera cari pertolongan medis. Penderita asma sebaiknya mengikuti rencana penanganan yang telah diberikan dokter dan menggunakan obat sesuai petunjuk medis.
7. Sesak Napas atau Napas Terasa Pendek
Sesak napas merupakan salah satu gejala yang tidak boleh diabaikan saat terjadi kabut asap.
Seseorang mungkin merasa sulit menarik napas dalam-dalam, napas menjadi lebih cepat, atau aktivitas ringan terasa lebih melelahkan daripada biasanya.
Paparan partikel halus dapat memengaruhi fungsi paru-paru dan memperburuk penyakit pernapasan yang sudah ada. Dalam kondisi tertentu, gejala ini membutuhkan penanganan segera.
Jika mengalami sesak napas, segera menjauh dari lingkungan berasap dan cari udara yang lebih bersih. Jangan memaksakan diri beraktivitas.
Jika sesak napas berat, sulit berbicara karena kehabisan napas, bibir tampak kebiruan, atau muncul nyeri dada, segera pergi ke IGD atau hubungi layanan darurat setempat.
8. Tubuh Terasa Lemas dan Cepat Lelah
Paparan kabut asap juga dapat disertai rasa lelah, lesu, atau penurunan kemampuan beraktivitas.
Gejala ini dapat muncul bersama sakit kepala dan keluhan pernapasan lainnya. Namun, rasa lemas tidak selalu disebabkan oleh kabut asap sehingga perlu diperhatikan jika menetap atau semakin berat.
Kurangi aktivitas berat, terutama di luar ruangan, ketika kualitas udara buruk. Usahakan beristirahat di tempat dengan udara yang lebih bersih.
Apabila tubuh terasa sangat lemah, disertai nyeri dada, sesak napas, jantung berdebar tidak biasa, atau gangguan kesadaran, segera cari pertolongan medis.
Siapa yang Lebih Rentan Mengalami Dampak Kabut Asap?
Walaupun dapat berdampak pada siapa saja, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap, yaitu:
• Bayi, anak-anak, dan balita, karena sistem pernapasan mereka masih berkembang.
• Lansia, terutama yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru.
• Ibu hamil, yang perlu mengurangi paparan polusi udara selama kehamilan.
• Penderita asma, PPOK, dan penyakit jantung, karena asap dapat memperburuk gejala penyakit yang sudah ada.
• Pekerja luar ruangan, yang berpotensi mengalami paparan lebih lama.
Kelompok tersebut sebaiknya lebih ketat membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Cara Melindungi Diri saat Kabut Asap Melanda
Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, beberapa langkah berikut dapat dilakukan:
1. Pantau kualitas udara. Perhatikan informasi kualitas udara dan imbauan dari instansi berwenang.
2. Kurangi aktivitas di luar ruangan. Tunda olahraga atau kegiatan berat di luar rumah ketika udara tercemar.
3. Tutup pintu dan jendela saat asap masuk. Jika memungkinkan, gunakan penyaring udara yang sesuai dan hindari aktivitas yang menambah polusi di dalam rumah.
4. Gunakan respirator yang sesuai. Respirator seperti N95 yang terpasang rapat dapat membantu menyaring partikel halus. Masker kain atau masker bedah tidak memberikan perlindungan yang setara terhadap partikel halus.
5. Jaga udara dalam ruangan tetap bersih. Hindari merokok, membakar sampah, atau memasak dengan cara yang menghasilkan banyak asap.
6. Ikuti pengobatan sesuai anjuran dokter. Penderita asma atau penyakit kronis sebaiknya menyiapkan obat yang diresepkan dan mengikuti rencana penanganannya.
Jika gejala muncul atau memburuk, jangan hanya mengandalkan masker, minuman herbal, atau perawatan rumahan. Segera cari bantuan medis sesuai tingkat keparahan gejala.