Minggu, 18 Oktober 2026

Benarkah Keperkasaan Pria Menurun di Usia 30 Tahun? Simak Penjelasan Dokter Boyke

Muchlis - Minggu, 18 Oktober 2026 07:25 WIB
Benarkah Keperkasaan Pria Menurun di Usia 30 Tahun? Simak Penjelasan Dokter Boyke
Pakar seksologi Indonesia, dr. Boyke Dian Nugraha

Topikseru.com - Perubahan kondisi fisik seiring bertambahnya usia kerap memunculkan pertanyaan tentang kesehatan seksual pria. Salah satunya, apakah keperkasaan laki-laki mulai menurun ketika memasuki usia 30 tahun?

Pakar seksologi Indonesia, dr. Boyke Dian Nugraha, menjelaskan bahwa salah satu faktor yang berkaitan dengan perubahan tersebut adalah penurunan hormon testosteron. Namun, kondisi setiap pria tidak selalu sama karena turut dipengaruhi pola hidup dan kebiasaan sehari-hari.

Dalam video yang diunggah melalui akun Instagram wishdrboyke, dr. Boyke menyebutkan bahwa kadar testosteron pria dapat mengalami penurunan secara bertahap seiring pertambahan usia.

Baca Juga:

"Karena secara bertahap perlahan-lahan penelitian menunjukkan hormon testosteronnya mulai berkurang setengah sampai satu persen," kata dr. Boyke dalam video tersebut.

Penjelasan ini menyoroti pentingnya menjaga kesehatan sejak usia muda. Sebab, kebiasaan yang terbentuk pada usia produktif dapat berpengaruh terhadap kondisi tubuh ketika seseorang memasuki usia yang lebih matang.

Hormon Testosteron dan Perubahan Pada Pria

Testosteron merupakan hormon yang berperan dalam perkembangan karakteristik seksual pria, produksi sperma, massa otot, kepadatan tulang, serta hasrat seksual.

Seiring bertambahnya usia, kadar hormon ini dapat berubah. Meski demikian, penurunan testosteron tidak otomatis berarti setiap pria akan mengalami gangguan fungsi seksual setelah berusia 30 tahun.

Kondisi tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kesehatan secara keseluruhan, kualitas tidur, tingkat aktivitas fisik, berat badan, dan kondisi medis tertentu.

Karena itu, usia sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya patokan untuk menilai kesehatan seksual pria. Perubahan yang dirasakan perlu dilihat berdasarkan kondisi masing-masing individu.

Kebiasaan Sehari-hari Dapat Memengaruhi Kesehatan Seksual

Selain faktor usia, dokter Boyke mengingatkan bahwa pola hidup yang kurang sehat dapat memperburuk kondisi tubuh pria.

Dia menyoroti sejumlah kebiasaan, mulai dari merokok, sering begadang, jarang berolahraga, hingga mengonsumsi makanan secara berlebihan tanpa memperhatikan keseimbangan gizi.

"Apalagi kalau tuh cowok memang sudah pola hidupnya enggak sehat, merokok, begadang, enggak mau berolahraga, makan sembarangan, makan lemak, gorengan, santan, wah turunnya makin dalam," ucapnya.

Pola makan tinggi lemak, terutama jika tidak diimbangi aktivitas fisik dan asupan bergizi seimbang, dapat berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan metabolik. Sementara itu, merokok dan kurang tidur juga dapat berdampak pada kesehatan secara umum.

Kesehatan pembuluh darah turut menjadi perhatian karena fungsi ereksi melibatkan aliran darah yang memadai.

Oleh sebab itu, menjaga kebugaran bukan hanya berkaitan dengan penampilan fisik, tetapi juga mendukung kesehatan seksual.

Meski demikian, konsumsi gorengan atau santan sesekali tidak serta-merta menyebabkan testosteron turun. Hal yang lebih penting adalah pola makan secara keseluruhan, porsi konsumsi, dan keseimbangan dengan aktivitas fisik.

Mengapa pria disarankan mulai menjaga kesehatan sejak usia 25 tahun?

Menurut dr. Boyke, usia sekitar 25 tahun menjadi momentum penting bagi pria untuk mulai memperhatikan kesehatan sebelum memasuki usia 30 tahun.

"Oleh karena itu, usia 25 penting loh. Itu poin juga buat cowok ya untuk tetap menjaga kesehatannya. Jadi sudah mulai dari 5 tahun sebelumnya," pungkasnya.

Pesan tersebut menekankan pentingnya pencegahan sejak dini, bukan berarti penurunan fungsi seksual pasti terjadi pada usia tertentu.

Ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan pria untuk menjaga kesehatan, di antaranya:

  • Berolahraga secara rutin. Aktivitas fisik membantu menjaga kebugaran, kesehatan jantung, dan metabolisme tubuh.
  • Menjaga pola makan seimbang. Perbanyak sayuran, buah, sumber protein, dan makanan berserat, serta batasi konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan gula berlebihan.
  • Menghindari rokok. Merokok dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko gangguan ereksi.
  • Memperbaiki kualitas tidur. Tidur yang cukup dan teratur membantu mendukung kesehatan fisik serta fungsi hormon.
  • Mempertahankan berat badan yang sehat. Kelebihan berat badan dan gangguan metabolik dapat berkaitan dengan kadar testosteron yang lebih rendah.
  • Memeriksakan diri jika muncul keluhan. Penurunan gairah seksual, gangguan ereksi yang menetap, atau kelelahan yang tidak biasa sebaiknya dikonsultasikan kepada tenaga medis.

Penurunan Testosteron Bukan Satu-satunya Penyebab Gangguan Seksual

Gangguan fungsi seksual tidak selalu disebabkan oleh rendahnya testosteron. Faktor psikologis, stres, masalah hubungan, efek samping obat, serta penyakit seperti diabetes dan gangguan pembuluh darah juga dapat berperan.

Jika mengalami gejala yang menetap, pria sebaiknya tidak langsung menyimpulkan dirinya mengalami kekurangan testosteron atau menggunakan produk peningkat hormon tanpa pemeriksaan.

Dokter dapat melakukan evaluasi berdasarkan keluhan, riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan tes laboratorium bila diperlukan. Terapi testosteron pun hanya dipertimbangkan pada kondisi tertentu berdasarkan penilaian medis.

Pada akhirnya, memasuki usia 30 tahun bukan berarti keperkasaan pria pasti menurun.

Pesan utama yang disampaikan dr. Boyke adalah pentingnya membangun kebiasaan hidup sehat sejak usia produktif agar kesehatan tubuh, termasuk kesehatan seksual, tetap terjaga seiring bertambahnya usia.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
Mengapa Gairah Seksual Perempuan Naik di Masa Subur? Ini Penjelasan Ahlinya