Topikseru.com - Jumlah titik panas atau hotspot di Pulau Sumatera melonjak dalam sehari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mencatat sebanyak 4.845 titik panas terdeteksi hingga Rabu (7/10/2026) malam.
Angka tersebut meningkat dibandingkan 3.157 titik panas yang terpantau sebelumnya.
Prakirawan BMKG Pekanbaru, Yasir P, mengatakan data tersebut merupakan pembaruan hingga pukul 23.00 WIB. Konsentrasi hotspot terbesar berada di Sumatera Selatan dengan 3.847 titik.
Baca Juga:
Lonjakan titik panas tersebut ikut meningkatkan perhatian terhadap kondisi udara di sejumlah wilayah Sumatera, khususnya Riau yang terdampak sebaran asap.
Sebanyak 3.847 titik panas terpantau di provinsi tersebut.
Jumlah itu jauh lebih tinggi dibandingkan provinsi lain di Sumatera. Setelah Sumatera Selatan, hotspot terbanyak tercatat di:
Namun, perlu dicatat bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu yang terdeteksi satelit, bukan secara otomatis berarti setiap titik merupakan kebakaran yang sudah terkonfirmasi di lapangan. BMKG menjelaskan deteksi hotspot menggunakan sensor satelit seperti VIIRS dan MODIS.
Dari 19 hotspot di Riau, sebagian besar berada di Kabupaten Kuantan Singingi, yakni sebanyak 15 titik.
Sementara itu, masing-masing satu titik terpantau di Indragiri Hulu, Rokan Hilir, Siak, dan Kota Dumai.
Kondisi tersebut berlangsung ketika wilayah selatan Sumatera mengalami peningkatan aktivitas hotspot dan asap terpantau menyebar ke wilayah Riau.
Akibatnya, kualitas udara di Riau mengalami penurunan.
Pada Kamis (8/10/2026) pagi, konsentrasi partikulat di Pekanbaru masih berada dalam kategori sangat tidak sehat. Data BMKG pada pukul 06.00 WIB mencatat konsentrasi partikulat di Pekanbaru sebesar 175,1, sementara Kota Jambi tercatat 184,8 dan masih berada dalam kategori yang sama.
Kondisi ini membuat masyarakat di wilayah yang terdampak asap perlu lebih memperhatikan aktivitas di luar ruangan.
BMKG juga sebelumnya menyebut kondisi atmosfer di sejumlah wilayah Indonesia masih relatif kering pada awal Oktober. Kondisi kering tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.
BMKG Ingatkan Risiko bagi Pernapasan
BMKG mengimbau masyarakat Riau meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap, terutama terhadap kesehatan sistem pernapasan.
Masyarakat yang harus melakukan aktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker.
Aktivitas di luar rumah juga sebaiknya dibatasi apabila konsentrasi asap semakin pekat.
Imbauan tersebut menjadi semakin penting bagi kelompok yang rentan terhadap paparan udara buruk, terutama anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap gangguan pernapasan.
Pada Rabu pagi, BMKG Stasiun Pekanbaru sebelumnya mencatat 4.806 titik panas di Sumatera, dengan Sumatera Selatan menyumbang 3.689 titik.
Pada pembaruan berikutnya, jumlah tersebut kembali tercatat tinggi hingga mencapai 4.845 titik berdasarkan pemantauan sampai Rabu malam.
Perbedaan angka tersebut berkaitan dengan waktu pembaruan data dan hasil deteksi satelit pada periode pengamatan yang berbeda.
Karena itu, angka hotspot dapat berubah dari waktu ke waktu mengikuti hasil pemantauan terbaru.
Arah dan kecepatan angin dapat memengaruhi pergerakan asap dari wilayah sumber menuju daerah lain. BMKG juga menggunakan analisis citra satelit dan arah angin untuk memantau potensi sebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Dengan jumlah hotspot yang tinggi di bagian selatan Sumatera, pemantauan kualitas udara dan sebaran asap menjadi penting bagi wilayah di sekitarnya.
Masyarakat juga disarankan tidak hanya melihat jumlah hotspot, tetapi mengikuti informasi kualitas udara dan peringatan resmi BMKG sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran hutan dan lahan.
Dengan 4.845 hotspot di Sumatera dan kualitas udara Pekanbaru yang masih berada pada kategori sangat tidak sehat, kewaspadaan terhadap kabut asap Riau menjadi semakin penting.
Pemantauan hotspot akan terus berubah mengikuti kondisi cuaca dan hasil observasi satelit. Karena itu, masyarakat di Riau dan wilayah Sumatera lainnya perlu mengacu pada pembaruan resmi BMKG serta mengurangi paparan asap ketika kualitas udara memburuk.