Topikseru.com, Medan - Cuaca ekstrem yang disertai hujan berintensitas tinggi dan angin kencang melanda tiga daerah di Sumatera Utara (Sumut), yakni Kabupaten Nias Selatan, Asahan, dan Batu Bara. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut mencatat sedikitnya tujuh rumah mengalami kerusakan akibat kejadian tersebut.
Berdasarkan pendataan BPBD Sumut, dampak cuaca ekstrem terjadi pada 16–17 Oktober 2026. Rinciannya, satu rumah rusak di Nias Selatan, empat rumah di Asahan, dan dua rumah di Batu Bara.
Meski menyebabkan kerusakan bangunan, laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) mencatat tidak ada pengungsi, korban luka, maupun korban jiwa dalam rangkaian kejadian tersebut.
Baca Juga:
Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, mengatakan pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan terkait telah melakukan penanganan di lokasi terdampak.
Sementara itu, cuaca ekstrem di Kabupaten Asahan dilaporkan terjadi pada Jumat (16/10/2026). Dampaknya tercatat di empat kelurahan di Kecamatan Kota Kisaran Timur, dengan total empat rumah mengalami kerusakan.
Di Kabupaten Batu Bara, dua rumah rusak akibat angin kencang. Kerusakan tersebut tersebar di Kecamatan Nibung Hangus dan Kecamatan Medang Deras.
Perbedaan jumlah rumah terdampak menunjukkan bahwa dampak cuaca ekstrem tidak merata di setiap wilayah. Namun, data awal BPBD tersebut belum merinci tingkat kerusakan masing-masing rumah maupun total kerugian material yang ditimbulkan.
Kondisi itu menjadi catatan penting dalam pendataan dampak bencana. Meski tidak menimbulkan korban jiwa berdasarkan laporan sementara, kerusakan rumah tetap dapat memengaruhi keamanan dan kenyamanan warga yang tinggal di lokasi terdampak.
BPBD Sumut menyebut pemerintah setempat telah berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait dan mengerahkan personel untuk membantu masyarakat.
Koordinasi juga dilakukan BPBD Sumut guna mendukung penanganan bencana di wilayah yang terdampak cuaca ekstrem.
Namun, informasi yang tersedia belum menjelaskan secara terperinci apakah seluruh rumah yang rusak sudah diperbaiki, apakah warga membutuhkan tempat tinggal sementara, atau berapa nilai kerugian akibat kejadian tersebut.
Masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak diimbau memperhatikan kondisi cuaca dan informasi dari pemerintah setempat. Ketika angin kencang terjadi, warga sebaiknya menjauhi pohon besar, papan reklame, serta bangunan atau bagian rumah yang terlihat tidak kokoh.
Jika ditemukan kerusakan pada atap atau struktur bangunan, warga perlu mengutamakan keselamatan dan menghindari bagian yang berisiko roboh. Informasi mengenai kondisi berbahaya sebaiknya segera disampaikan kepada aparat setempat agar dapat ditangani.
Masyarakat juga dapat memantau peringatan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terutama saat hujan deras berpotensi disertai angin kencang.
Jumlah tujuh rumah rusak merupakan angka yang tercatat dalam laporan awal untuk tiga daerah tersebut. Perkembangan kondisi di lapangan masih perlu dipantau apabila muncul laporan kerusakan tambahan.
Bagi warga, informasi resmi mengenai cuaca dan perkembangan penanganan menjadi penting untuk menentukan langkah antisipasi. Sementara itu, pemerintah daerah perlu memastikan kebutuhan warga terdampak teridentifikasi dan penanganan dilakukan sesuai tingkat kerusakan.
Hingga laporan ini disusun berdasarkan informasi yang tersedia, tidak ada laporan pengungsi, korban luka, ataupun korban jiwa akibat cuaca ekstrem di Nias Selatan, Asahan, dan Batu Bara.