Topikseru.com -Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumatera Utara sepanjang 2026 menjadi perhatian setelah ratusan siswa mengalami gangguan kesehatan. Data Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara yang dikutip IDN Times mencatat 789 korban dalam delapan insiden hingga Oktober 2026. Jumlah korban terbanyak tercatat pada Agustus, yakni 406 orang.
Di balik angka tersebut, ada persoalan keamanan makanan yang perlu diperhatikan. Mulai dari penyimpanan bahan baku, kebersihan selama pengolahan, hingga makanan yang sudah siap dibagikan kepada siswa.
Namun, tidak semua hal yang menjadi perhatian dalam kasus keracunan bisa langsung disebut sebagai penyebab. Ada temuan yang sudah didukung hasil pemeriksaan laboratorium, tetapi ada pula dugaan yang masih membutuhkan penyelidikan lebih lanjut.
Baca Juga:
1. Penyimpanan Bahan Baku Sebelum Dimasak
Penyimpanan bahan makanan menjadi salah satu titik penting dalam menjaga keamanan pangan. Bahan yang mudah rusak, seperti ikan, perlu disimpan pada suhu yang sesuai agar tidak cepat mengalami penurunan kualitas dan menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme.
Persoalan ini muncul dalam investigasi awal kasus MBG di Kabupaten Karo pada Agustus 2026. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menyampaikan bahwa sekitar 200 hingga 300 ekor ikan tidak dimasukkan ke dalam freezer dan dibiarkan pada suhu ruangan selama sekitar 12 jam atau lebih.
Temuan tersebut menjadi indikasi adanya masalah dalam penanganan bahan baku pada kasus di Karo. Meski demikian, temuan itu tidak bisa langsung digeneralisasi sebagai penyebab seluruh kejadian dugaan keracunan MBG di Sumatera Utara.
Penyimpanan yang tidak sesuai standar merupakan risiko keamanan pangan. Untuk menentukan hubungan pastinya dengan kejadian keracunan, hasil investigasi perlu dibaca bersama temuan laboratorium dan bukti lain yang tersedia.
2. Kebersihan Petugas dan Proses Pengolahan
Titik berikutnya adalah kebersihan selama makanan diolah. Tangan, pakaian kerja, dan kebiasaan petugas ketika menangani bahan makanan dapat memengaruhi keamanan makanan yang nantinya dikonsumsi siswa.
Misalnya, petugas yang menangani bahan mentah lalu menyentuh makanan matang tanpa mencuci tangan atau membersihkan peralatan dengan benar berpotensi memindahkan mikroorganisme. Risiko juga dapat meningkat jika bahan mentah dan makanan siap santap tidak ditangani secara terpisah.
Karena itu, kepatuhan terhadap prosedur kebersihan perlu menjadi bagian dari pengawasan dapur penyedia MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara turut menyoroti kepatuhan pekerja dapur dalam menjalankan standar keamanan pangan. Namun, dugaan bahwa petugas menjadi sumber pencemaran pada suatu kejadian harus didukung bukti pemeriksaan. Tanpa bukti tersebut, kebersihan petugas lebih tepat dibahas sebagai faktor risiko yang perlu dicegah, bukan penyebab yang sudah terbukti.
3. Kebersihan Air, Peralatan, dan Wadah Makanan
Air dan peralatan yang digunakan dalam proses memasak juga perlu mendapat perhatian. Air yang tidak memenuhi persyaratan kebersihan dapat mencemari bahan makanan. Sementara itu, talenan, pisau, wadah, dan peralatan lain yang tidak dibersihkan dengan baik bisa menjadi jalur perpindahan mikroorganisme.
Pemisahan peralatan untuk bahan mentah dan makanan matang juga penting. Jika keduanya menggunakan peralatan yang sama tanpa proses pembersihan yang tepat, kontaminasi silang dapat terjadi.
Meski demikian, keberadaan bakteri dalam sampel makanan tidak otomatis membuktikan bahwa air atau peralatan dapur menjadi sumber pencemaran. Untuk memastikan hal tersebut, perlu ada pemeriksaan yang relevan terhadap sampel air, peralatan, lingkungan dapur, dan tahapan pengolahan makanan.
Karena itu, kebersihan air dan peralatan perlu diposisikan sebagai bagian dari titik pemeriksaan keamanan pangan, bukan langsung dinyatakan sebagai penyebab dalam kasus-kasus yang tercatat di Sumatera Utara.
4. Pengolahan dan Penyimpanan Makanan Setelah Matang
Makanan yang sudah matang belum tentu aman jika penanganannya tidak tepat. Makanan dapat terkontaminasi kembali setelah dimasak atau disimpan terlalu lama pada suhu yang memungkinkan mikroorganisme berkembang.
Persoalan ini menjadi penting dalam layanan MBG karena makanan harus disiapkan, dikemas, dan didistribusikan sebelum dikonsumsi siswa. Pengaturan waktu antara memasak dan menyajikan makanan perlu diperhatikan agar kualitas dan keamanannya tetap terjaga.
Dalam kasus di Kabupaten Karo, hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dari sekolah pada Agustus 2026 menemukan Bacillus cereus pada nasi putih, Staphylococcus aureus pada ikan dencis bersaus, serta Escherichia coli atau E. coli pada melon. Bakteri S. aureus juga ditemukan pada sampel muntahan salah satu korban.
Hasil tersebut merupakan bukti bahwa bakteri terdeteksi pada sampel yang diperiksa. Dinas Kesehatan Kabupaten Karo menyampaikan bahwa temuan pemeriksaan mengarah pada faktor biologis atau bakteri.
Namun, keberadaan bakteri pada sampel tidak selalu menjelaskan secara lengkap kapan pencemaran terjadi, bagaimana bakteri masuk ke makanan, atau tahapan mana yang paling berperan. Kesimpulan tersebut perlu mempertimbangkan keseluruhan hasil pemeriksaan dan investigasi.
Membedakan Temuan Laboratorium dan Dugaan Penyebab
Data kasus MBG di Sumatera Utara menunjukkan bahwa persoalan keamanan makanan perlu diperiksa dari berbagai tahapan. Meski demikian, setiap informasi harus ditempatkan sesuai kekuatan buktinya.
Dalam kasus Karo, hasil laboratorium mendeteksi beberapa jenis bakteri pada sampel tertentu. Sementara itu, informasi mengenai ikan yang tidak disimpan di freezer merupakan temuan investigasi awal yang disampaikan BGN. Keduanya merupakan jenis bukti yang berbeda dan tidak boleh dicampuradukkan.
Adapun kebersihan tangan petugas, kualitas air, peralatan, dan penyimpanan makanan matang merupakan aspek yang penting diperiksa. Tanpa hasil pemeriksaan yang menghubungkannya dengan kejadian tertentu, aspek-aspek tersebut tidak bisa dinyatakan sebagai penyebab yang telah terbukti.
Pembedaan ini penting agar informasi tentang keracunan MBG tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru. Data korban menunjukkan besarnya dampak kejadian, sedangkan penentuan penyebab memerlukan pemeriksaan yang sesuai.
Keamanan Makanan Harus Dijaga dari Awal hingga Dibagikan
Keamanan makanan tidak hanya bergantung pada satu tahapan. Bahan baku yang layak tetap perlu disimpan dengan benar, diolah secara higienis, dan dijaga keamanannya setelah matang hingga dikonsumsi.
Karena itu, pengawasan MBG perlu memastikan setiap tahapan berjalan sesuai standar, termasuk kebersihan petugas, penggunaan air dan peralatan, pengaturan suhu penyimpanan, serta waktu distribusi makanan.
Kasus-kasus yang tercatat di Sumatera Utara menjadi pengingat bahwa keamanan pangan harus menjadi bagian utama dalam pelaksanaan program makan bagi siswa. Ketika muncul dugaan keracunan, pemeriksaan harus dilakukan secara menyeluruh agar penyebabnya dapat diketahui berdasarkan bukti, bukan sekadar perkiraan.