Topikseru.com -Sebelum dikenal sebagai pendiri bisnis kosmetik Sariayu, Martha Tilaar pernah mengalami momen yang membuatnya menangis saat menempuh pendidikan kecantikan di Amerika Serikat. Ia diminta membuat tugas tentang tradisi kecantikan Indonesia, tetapi justru kesulitan menjelaskan budaya dari negaranya sendiri.
Pengalaman itu menjadi salah satu titik balik dalam perjalanan hidup Martha. Ia mulai menyadari bahwa Indonesia memiliki kekayaan tradisi kecantikan yang belum banyak ia kenal. Kesadaran tersebut kemudian mendorongnya untuk mempelajari kembali warisan budaya Nusantara.
Kisah ini pernah diungkapkan Martha dalam profil yang diterbitkan Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Baca Juga:
Menangis karena Tidak Mengenal Budaya Sendiri
Pada 1968, Martha mengikuti pendidikan di Academy of Beauty Culture di Bloomington, Indiana, Amerika Serikat. Saat itu, ia mendapat tugas dari dosennya, Mrs Hancock, untuk membuat tulisan tentang tradisi kecantikan dari negara asalnya.
Martha sempat kebingungan karena tidak memiliki cukup pengetahuan tentang tata rias dan tradisi kecantikan Indonesia. Ia bahkan akhirnya membuat tugas mengenai kecantikan Jepang setelah seorang temannya memberikan buku tentang geisha.
Namun, pilihan tersebut justru membuatnya mendapat pertanyaan dari dosennya. Mengapa ia menulis tentang tradisi kecantikan Jepang, padahal dirinya berasal dari Indonesia?
Martha mengaku tidak mampu menjawab pertanyaan itu dan menangis. Ia menyadari bahwa dirinya belum mengenal kekayaan budaya kecantikan dari tanah kelahirannya sendiri.
Peristiwa tersebut menjadi pengalaman yang membekas baginya. Martha kemudian bertekad untuk mempelajari tradisi kecantikan Indonesia setelah kembali ke Tanah Air.
Pulang ke Indonesia dan Mempelajari Tradisi Kecantikan Nusantara
Setelah kembali ke Indonesia pada 1969, Martha mulai menggali pengetahuan tentang perawatan kecantikan tradisional. Ia mempelajari pemanfaatan bahan alami dan ramuan jamu yang telah lama digunakan masyarakat.
Dalam proses tersebut, ia juga memperoleh pengetahuan dari neneknya serta para praktisi pengobatan tradisional.
Martha melihat bahwa tradisi kecantikan Indonesia bukan sekadar kebiasaan turun-temurun. Di dalamnya terdapat pengetahuan tentang tanaman, ramuan, dan cara merawat tubuh yang dapat terus dipelajari dan dikembangkan.
Pengalaman di Amerika membuatnya memandang tradisi lokal dari sudut pandang berbeda. Ia tidak lagi hanya melihat kecantikan dari tren luar negeri, tetapi juga mulai menggali potensi yang dimiliki Indonesia.
Dari Pengetahuan Tradisional hingga Lahirnya Bisnis Kecantikan
Langkah Martha tidak berhenti pada mempelajari tradisi kecantikan. Ia kemudian mengembangkan pengetahuan dan pengalamannya menjadi bagian dari usaha yang dibangunnya.
Pada 1970, Martha membuka salon kecantikan di garasi rumah orang tuanya di kawasan Menteng, Jakarta. Usaha sederhana itu menjadi awal perjalanan bisnis yang kemudian berkembang menjadi Martha Tilaar Group.
Pada 1977, Sariayu mulai dikembangkan sebagai merek kecantikan yang mengangkat inspirasi dari alam dan budaya Indonesia.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman pribadi dapat menjadi salah satu pendorong perubahan arah pemikiran seseorang. Bagi Martha, keinginan untuk memahami kembali tradisi kecantikan Indonesia kemudian menjadi bagian penting dari identitas bisnisnya.
Meski demikian, kesuksesan bisnisnya tidak hanya ditentukan oleh satu pengalaman tersebut. Pendidikan, kerja keras, pengembangan produk, dan perjalanan panjang membangun usaha juga berperan dalam perkembangannya.
Pelajaran dari Pengalaman Martha Tilaar
Kisah Martha Tilaar menunjukkan bahwa mengenal budaya sendiri merupakan proses yang dapat terus berlangsung, bahkan ketika seseorang telah memperoleh pendidikan di luar negeri.
Pengalaman yang awalnya membuatnya sedih justru menjadi dorongan untuk menggali pengetahuan yang sebelumnya belum ia pahami. Ia kemudian berupaya mengembangkan tradisi kecantikan Indonesia melalui bisnis yang dibangunnya.
Martha meninggalkan jejak dalam industri kecantikan nasional melalui merek dan usaha yang mengangkat kekayaan Nusantara. Kisahnya juga menjadi pengingat bahwa tradisi lokal memiliki potensi untuk dipelajari, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Dari sebuah tugas kuliah yang membuatnya menangis, Martha menemukan alasan untuk mengenal lebih dalam kekayaan budaya negaranya sendiri.