Topikseru.com -Minyak nilam menjadi salah satu komoditas perkebunan yang punya peluang di pasar ekspor. Minyak atsiri yang dihasilkan dari tanaman nilam ini digunakan sebagai bahan baku industri parfum, kosmetik, sabun, hingga produk wewangian.
Sumatera Utara termasuk daerah penghasil nilam di Indonesia. Berdasarkan Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Perkebunan Tahun 2025 yang diterbitkan Kementerian Pertanian, luas tanam nilam di Sumatera Utara pada 2025 mencapai 936 hektare. Dari jumlah tersebut, luas panen tercatat 934 hektare dengan produksi 342 ton.
Data tersebut merupakan angka sementara tahun 2025 yang dihimpun Direktorat Jenderal Perkebunan. Angka produksi ini menunjukkan potensi bahan baku nilam di Sumatera Utara masih cukup besar untuk dikembangkan.
Baca Juga:
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara berdasarkan kabupaten/kota masih menampilkan data 2024. Dalam data tersebut, Padang Lawas Utara menjadi daerah dengan produksi nilam terbesar di provinsi ini.
Padang Lawas Utara Hasilkan 176 Ton Nilam
Berdasarkan data BPS Sumatera Utara 2024, Padang Lawas Utara memiliki luas tanaman nilam 459 hektare dengan produksi mencapai 176 ton.
Jumlah tersebut hampir setengah dari total produksi nilam perkebunan rakyat Sumatera Utara pada tahun yang sama, yakni 362 ton dari luas tanaman 972 hektare.
Selain Padang Lawas Utara, sejumlah kabupaten lain juga tercatat menghasilkan nilam. Humbang Hasundutan memiliki luas tanaman 110 hektare dengan produksi 43 ton. Mandailing Natal mencatat luas 107 hektare dengan produksi 40 ton, sedangkan Dairi memiliki luas 95 hektare dengan produksi 37 ton.
Kabupaten Toba juga menjadi salah satu daerah penghasil nilam dengan luas tanaman 86 hektare dan produksi 33 ton.
Perlu dicatat, angka per kabupaten tersebut merupakan data 2024. Data produksi Sumatera Utara pada 2025 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Perkebunan belum memberikan rincian terbaru untuk memastikan apakah Padang Lawas Utara masih menjadi penghasil terbesar pada tahun tersebut.
Harga Minyak Nilam Capai Rp853 Ribu per Kilogram
Potensi ekonomi nilam juga terlihat dari perkembangan harga minyaknya. Dalam laporan kinerja Direktorat Jenderal Perkebunan, harga rata-rata minyak nilam di pasar domestik pada 2025 tercatat sebesar Rp853.472 per kilogram.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan 2024, ketika harga rata-rata tercatat Rp931.308 per kilogram. Meski turun, harga rata-rata 2025 masih lebih tinggi dibandingkan 2023 yang sebesar Rp477.241 per kilogram.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa nilai ekonomi minyak nilam cukup besar, tetapi harganya tetap dapat berubah dari tahun ke tahun.
Harga rata-rata minyak nilam tersebut juga tidak bisa langsung disamakan dengan pendapatan petani. Nilai yang diterima petani bergantung pada bentuk produk yang dijual, biaya produksi, proses penyulingan, kualitas minyak, dan rantai perdagangan yang dilalui.
Ekspor Minyak Nilam Indonesia Menguat pada 2025
Data Direktorat Jenderal Perkebunan yang mengutip Badan Pusat Statistik mencatat, volume ekspor nilam Indonesia pada 2025 mencapai 1.663 ton dengan nilai sekitar US$164,858 juta. Namun, angka tersebut baru mencakup data hingga November 2025 sehingga belum merupakan angka setahun penuh.
Sebagai perbandingan, pada 2024 volume ekspor nilam tercatat 1.504 ton dengan nilai US$141,463 juta.
Dibandingkan periode 2024, data sementara hingga November 2025 memperlihatkan volume ekspor lebih besar. Nilai ekspornya juga meningkat meski data 2025 belum mencakup Desember.
Perbedaan periode pencatatan ini perlu diperhatikan saat membandingkan angka ekspor. Meski demikian, data tersebut memberikan gambaran bahwa minyak nilam Indonesia memiliki pasar perdagangan internasional dan nilai transaksi yang besar.
Angka ekspor nasional ini tidak dapat langsung dianggap sebagai ekspor yang berasal dari Sumatera Utara. Untuk mengetahui kontribusi provinsi, diperlukan data perdagangan yang secara khusus mencatat asal produksi atau pengiriman minyak nilam dari Sumatera Utara.
Mengapa Minyak Nilam Dibutuhkan Industri Parfum?
Nilam dikenal di pasar internasional dengan nama patchouli. Minyak atsirinya digunakan dalam formulasi parfum karena memiliki aroma khas dan dapat membantu mempertahankan karakter aroma dalam campuran wewangian.
Selain parfum, minyak nilam dapat digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai produk perawatan tubuh dan kosmetik. Karena itu, komoditas ini memiliki peluang untuk dikembangkan melalui pengolahan yang menghasilkan produk bernilai tambah.
Namun, hasil panen tanaman nilam tidak otomatis menjadi minyak siap jual. Daun dan bagian tanaman yang digunakan perlu melalui proses penyulingan. Hasil minyak dan mutunya dipengaruhi bahan baku, teknik pengolahan, serta penanganan selama produksi.
Dengan demikian, peningkatan produksi tanaman perlu diikuti kemampuan penyulingan dan pengendalian kualitas agar minyak yang dihasilkan sesuai kebutuhan pembeli.
Tantangan Pengembangan Nilam di Sumatera Utara
Meski memiliki peluang pasar, pengembangan nilam masih menghadapi sejumlah tantangan. Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Perkebunan 2025 menyoroti fluktuasi harga dan keterbatasan teknologi penyulingan sebagai faktor yang memengaruhi pengembangan komoditas minyak atsiri, termasuk nilam.
Bagi petani, kualitas bahan baku dan akses terhadap fasilitas penyulingan dapat menentukan nilai jual hasil produksi. Pengolahan yang belum optimal berpotensi membuat potensi nilai tambah tidak sepenuhnya dinikmati oleh petani dan pelaku usaha di daerah.
Karena itu, pengembangan nilam di Sumatera Utara tidak cukup hanya mengandalkan perluasan lahan. Dukungan benih bermutu, praktik budidaya yang baik, peningkatan keterampilan penyulingan, dan akses pasar juga dibutuhkan.
Ketersediaan data yang lebih rinci mengenai produksi minyak, jumlah penyuling, harga di tingkat petani, dan nilai penjualan dari masing-masing kabupaten akan membantu pemerintah daerah memetakan peluang pengembangan komoditas ini.
Peluang Ekspor Perlu Diikuti Penguatan Industri Lokal
Data sementara Direktorat Jenderal Perkebunan menunjukkan Sumatera Utara menghasilkan 342 ton nilam pada 2025 dari luas panen 934 hektare. Sementara itu, data kabupaten yang tersedia untuk 2024 menempatkan Padang Lawas Utara sebagai penghasil terbesar dengan produksi 176 ton.
Di tingkat nasional, ekspor nilam hingga November 2025 tercatat 1.663 ton dengan nilai sekitar US$164,858 juta. Angka ini menunjukkan besarnya nilai perdagangan minyak nilam Indonesia, meskipun belum dapat digunakan untuk menghitung kontribusi ekspor Sumatera Utara secara khusus.
Bagi Sumatera Utara, peluang pengembangan nilam terletak pada kemampuan menjaga produksi dan meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan. Dengan data yang lebih lengkap serta dukungan terhadap petani dan penyuling, komoditas ini berpotensi menjadi salah satu sumber ekonomi perkebunan rakyat yang layak dikembangkan.