Topikseru.com - Perang Uhud bukan hanya menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan umat Islam. Pertempuran tersebut juga merekam keteguhan Sayyidah Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah SAW, yang turun tangan merawat luka ayahandanya ketika kaum Muslimin menghadapi situasi sulit.
Dalam sejumlah kitab sirah nabawiyah, Sayyidah Fatimah dikisahkan membantu membersihkan luka Rasulullah SAW setelah beliau terluka dalam pertempuran. Saat darah terus mengalir meski telah dibasuh dengan air, Fatimah menggunakan abu dari tikar yang dibakar untuk membantu menghentikan perdarahan.
Kisah ini memperlihatkan sisi lain perjuangan keluarga Nabi Muhammad SAW. Di tengah peperangan, dukungan terhadap perjuangan Islam tidak hanya dilakukan melalui pertempuran, tetapi juga lewat kepedulian, keberanian, dan keterampilan merawat orang yang terluka.
Baca Juga:
Dalam Fiqih Sirah Nabawiyah, Syekh Muhammad Sa'id Ramadhan al-Buthi menguraikan bahwa keadaan pertempuran berubah setelah sebagian pasukan pemanah Muslim meninggalkan posisi mereka di bukit. Perubahan situasi itu membuka peluang bagi pasukan lawan untuk melakukan serangan balik.
Rasulullah SAW turut mengalami luka dalam pertempuran tersebut. Riwayat sejarah menyebutkan wajah beliau terluka dan darah mengalir dari bagian yang terkena serangan.
Peristiwa itu menjadi salah satu gambaran beratnya perjuangan Rasulullah SAW dalam menyampaikan ajaran Islam. Beliau tidak hanya menghadapi penolakan dan ancaman, tetapi juga mengalami langsung risiko fisik di medan pertempuran.
Di tengah keadaan tersebut, perhatian kemudian tertuju pada orang-orang yang membantu merawat beliau, termasuk putrinya sendiri, Sayyidah Fatimah.
Upaya tersebut dilakukan untuk membersihkan bagian yang terluka. Namun, menurut riwayat yang sama, perdarahan belum juga berhenti setelah luka dibasuh.
Sayyidah Fatimah kemudian mengambil bahan dari tikar kering, membakarnya hingga menjadi abu, lalu mengoleskan abu tersebut pada bagian yang terluka. Dalam kisah itu disebutkan bahwa perdarahan akhirnya berhenti setelah tindakan tersebut dilakukan.
Riwayat serupa juga dikisahkan dalam Ar-Rahiq al-Makhtum karya Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri. Buku tersebut mengutip keterangan Sahl mengenai peran Fatimah yang membersihkan luka, sementara Ali menuangkan air.
Ketika perdarahan tetap berlangsung, Fatimah membakar sebagian tikar dan menggunakan abunya pada luka Rasulullah SAW.
Kisah ini menempatkan Sayyidah Fatimah sebagai sosok yang sigap membantu ayahandanya dalam keadaan genting. Perannya tidak hanya mencerminkan kedekatan seorang anak dengan ayah, tetapi juga keberanian untuk mengambil tindakan ketika orang terdekatnya membutuhkan pertolongan.
Dalam materi yang merujuk pada kitab Thibbun Nabawi karya al-Hafiz adz-Dzahabi, tikar yang dimaksud disebut berkaitan dengan papirus. Tanaman papirus dikenal tumbuh di kawasan lembap, termasuk wilayah sekitar Sungai Nil, dan sejak masa lampau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.
Teks yang dikutip dalam materi tersebut menghubungkan abu papirus dengan penggunaan tradisional untuk membantu menangani luka. Akan tetapi, keterangan dalam kitab pengobatan klasik perlu dibaca sesuai konteks pengetahuan medis pada masanya.
Tidak cukup dasar untuk menyimpulkan secara pasti bahwa Sayyidah Fatimah memperoleh pengetahuan pengobatan tersebut dari sumber atau pelatihan tertentu. Riwayat yang disampaikan lebih menekankan tindakan yang beliau lakukan ketika Rasulullah SAW mengalami luka.
Karena itu, kisah tersebut dapat dibaca sebagai catatan sejarah mengenai praktik perawatan pada masa awal Islam, bukan sebagai bukti lengkap tentang latar belakang pendidikan medis Sayyidah Fatimah.
Penggunaan abu tikar dalam riwayat Sayyidah Fatimah terkadang dikaitkan dengan praktik pengobatan tradisional. Namun, tanpa keterangan lebih terperinci mengenai mekanisme tindakan, kondisi luka, dan cara penggunaannya, praktik tersebut tidak bisa langsung disamakan dengan prosedur kauterisasi medis modern.
Demikian pula, klaim bahwa abu papirus memiliki efek tertentu pada luka tidak dapat dijadikan rekomendasi medis hanya berdasarkan kisah sejarah atau penjelasan dalam kitab pengobatan tradisional.
Dalam pertolongan pertama masa kini, perdarahan dari luka terbuka umumnya ditangani dengan memberikan tekanan langsung menggunakan kain atau kasa bersih.
Jika perdarahan berat, tidak berhenti, atau luka tampak serius, pertolongan medis darurat perlu segera dicari. Abu, bahan hasil pembakaran, maupun bahan yang tidak steril sebaiknya tidak dimasukkan atau ditempelkan pada luka karena berisiko menimbulkan kontaminasi.
Dengan demikian, nilai sejarah kisah ini tetap dapat dipelajari tanpa harus menjadikan metode pengobatan pada masa lampau sebagai panduan medis yang diterapkan secara langsung saat ini.
Selain keberanian menghadapi ancaman, kepedulian kepada orang yang terluka dan kesiapan membantu dalam keadaan sulit juga merupakan bagian penting dari pengabdian.
Sejak masa awal dakwah Islam, Fatimah dikenal sebagai putri Rasulullah SAW yang hidup dekat dengan perjuangan ayahandanya.
Dalam berbagai kisah sirah, ia digambarkan turut mengalami kesulitan yang dihadapi keluarga Nabi ketika dakwah Islam mendapat perlawanan.
Pengalaman tersebut menjadi latar untuk memahami tindakan Fatimah di Perang Uhud. Ketika Rasulullah SAW terluka, ia hadir untuk membantu, membersihkan luka, dan berupaya menghentikan perdarahan berdasarkan cara yang tersedia pada masa itu.
Meski tidak ada keterangan yang memastikan dari mana pengetahuan pengobatan tersebut diperoleh, kisah ini mengingatkan bahwa kepedulian dan keterampilan praktis dapat memiliki peran besar dalam situasi darurat.
Dalam keadaan genting, kemampuan memberikan pertolongan dapat membantu meringankan penderitaan orang lain.
Peristiwa ini juga mengingatkan bahwa perjuangan tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Ada yang berjuang di medan pertempuran, ada yang memberikan dukungan, dan ada pula yang merawat mereka yang terluka.
Bagi umat Islam masa kini, keteladanan Sayyidah Fatimah dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama, kesediaan mempelajari ilmu yang bermanfaat, serta kemampuan memberikan bantuan sesuai pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki.
Dengan memahami kisah tersebut secara proporsional, sejarah Islam tidak hanya menjadi catatan tentang peristiwa masa lalu, tetapi juga sumber pembelajaran mengenai pengabdian, keteguhan, dan pentingnya ilmu dalam kehidupan.
Penulis materi: Ustaz Yuhansyah Nurfauzi, apoteker dan peneliti di bidang farmasi