Topikseru.com - Dari klub yang pernah terjerembap ke kasta amatir sepak bola Italia, Como 1907 kini berdiri di panggung Liga Champions Eropa. Kemenangan 4-1 atas Manchester United pada fase liga musim 2026-2027 menjadi gambaran terbaru dari transformasi klub yang mendapat dukungan investasi keluarga Hartono asal Indonesia.
Como mengalahkan tim berjuluk "Setan Merah" tersebut pada Rabu (21/10/2026). Hasil itu menjadi pembuka yang mencuri perhatian bagi tim yang baru pertama kali merasakan atmosfer kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa.
Namun, kebangkitan Como tidak terjadi dalam semalam. Di balik performa mereka di lapangan, terdapat perjalanan panjang yang melibatkan pergantian kepemilikan, pembenahan organisasi, pengembangan bisnis, serta perubahan pendekatan dalam membangun tim.
Baca Juga:
Klub yang berdiri pada 1907 itu pernah menghadapi kebangkrutan dan terlempar ke Serie D. Kini, Como memiliki ambisi lebih besar daripada sekadar bertahan di kompetisi tertinggi Italia: membangun identitas sepak bola yang kompetitif sekaligus mengembangkan merek klub ke pasar internasional.
Pada 2005 dan 2017, Como tercatat mengalami kebangkrutan dan harus berjuang dari kompetisi tingkat bawah. Kondisi tersebut menjadi kontras dengan posisi mereka sekarang, ketika klub mampu menghadapi lawan-lawan dari liga elite Eropa.
Titik balik penting datang pada April 2019. SENT Entertainment, perusahaan yang terafiliasi dengan Djarum Group milik keluarga Hartono, mengambil alih Como ketika klub tersebut masih berkompetisi di Serie D.
Akuisisi itu menjadi fondasi perubahan besar. Perhatian tidak hanya diarahkan pada perekrutan pemain, tetapi juga pada struktur manajemen, fasilitas latihan, stadion, akademi, dan pengembangan sumber pendapatan.
Perjalanan Como kemudian bergerak secara bertahap. Mereka menembus Serie C, melanjutkan perjalanan ke Serie B, lalu kembali ke Serie A pada 2024 setelah absen selama sekitar 21 tahun.
Puncak perkembangan itu terlihat pada musim 2025-2026. Berdasarkan data yang diberikan, Como finis di posisi keempat Serie A dan mengamankan tiket Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.
Pencapaian tersebut menunjukkan perubahan status Como dari tim yang berjuang menyelamatkan eksistensinya menjadi klub yang mulai diperhitungkan di level tertinggi sepak bola Italia.
Dalam laporan mengenai akuisisi tersebut, nilai pembelian Como disebut sekitar 850 ribu euro, disertai pelunasan utang sekitar 150 ribu euro. Angka itu menggambarkan betapa berbeda kondisi klub ketika diambil alih dibandingkan dengan ambisi yang kini mereka kejar.
Manajemen baru kemudian memperkuat struktur operasional. Michael Gandler, yang memiliki pengalaman bekerja di Inter Milan, pernah dipercaya memimpin pengelolaan klub.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan Como tidak semata-mata bertumpu pada nama besar pemilik. Klub juga membutuhkan sistem kerja, perencanaan keuangan, fasilitas yang memadai, serta strategi perekrutan yang sesuai dengan kebutuhan tim.
Dalam sepak bola modern, investasi menjadi modal penting, tetapi hasilnya sangat bergantung pada bagaimana sumber daya tersebut digunakan. Como berusaha menggabungkan perencanaan jangka panjang dengan perekrutan pemain yang mampu meningkatkan kualitas permainan.
Proyek tersebut pada mulanya dirancang untuk memperkenalkan sepak bola Italia kepada anak-anak Indonesia dan membuka kemungkinan jalur pengembangan bagi pemain muda.
"Awalnya, idenya adalah untuk memperkenalkan anak-anak pada sepak bola Italia," ujar Mirwan dalam penjelasannya mengenai gagasan awal proyek tersebut.
Namun, rencana itu berkembang setelah manajemen melihat peluang bisnis yang lebih luas. Ketika Como mulai naik ke level kompetisi yang lebih tinggi, kebutuhan biaya operasional ikut meningkat. Pada saat yang sama, potensi klub sebagai aset olahraga mulai terlihat.
Menurut Mirwan, pengelolaan klub kecil dengan basis pendukung lokal yang terbatas bukan pekerjaan mudah. Como juga harus bersaing mendapatkan perhatian di wilayah yang secara tradisional memiliki banyak pendukung klub besar seperti Inter Milan, AC Milan, dan Juventus.
Situasi tersebut mendorong manajemen untuk memikirkan identitas yang lebih luas daripada sepak bola semata.
Kawasan tersebut dikenal sebagai destinasi wisata yang menarik pengunjung dari berbagai negara. Potensi itu kemudian menjadi dasar untuk memperluas kegiatan komersial melalui produk konsumen, pakaian, tur wisata, kegiatan musim panas, dan berbagai pengalaman yang berkaitan dengan kawasan Como.
Strategi ini memungkinkan klub membangun merek yang tidak hanya menarik bagi pendukung sepak bola, tetapi juga bagi konsumen yang mengenal Como sebagai destinasi wisata dan gaya hidup.
Mirwan pernah menyampaikan bahwa jersey sepak bola hanya menyumbang sekitar 40 persen dari pendapatan merchandise mereka.
Angka tersebut menggambarkan upaya manajemen mengembangkan sumber pendapatan di luar produk yang secara langsung berkaitan dengan pertandingan.
Kemitraan dengan merek fesyen, termasuk Rhude, juga menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan internasional Como.
Dalam model bisnis seperti ini, klub berusaha menghubungkan tiga elemen: sepak bola, pariwisata, dan gaya hidup. Identitas kota menjadi bagian dari produk yang dipasarkan, sementara eksposur pertandingan membantu meningkatkan pengenalan merek.
Mirwan juga menyebut pendapatan klub meningkat dari sekitar 7 juta dolar AS ketika masih bermain di Serie B menjadi sekitar 100 juta dolar AS per musim setelah mencapai Serie A. Angka tersebut merupakan klaim yang perlu dilihat bersama laporan keuangan dan definisi pendapatan yang digunakan.
Meski demikian, arah strategi bisnisnya jelas: Como berupaya mengurangi ketergantungan pada satu sumber pemasukan dengan membangun ekosistem komersial di sekitar klub.
Mantan gelandang Arsenal dan Barcelona itu membawa pengalaman sepak bola elite ke dalam proyek Como. Filosofinya menekankan kemampuan pemain mengontrol tempo, membangun serangan dari bawah, serta menciptakan ruang melalui pergerakan dan operan yang terukur.
Pendekatan tersebut membantu Como membangun identitas permainan yang berbeda dari stereotip sepak bola Italia yang kerap dikaitkan dengan pertahanan rapat dan serangan balik.
Dalam praktiknya, gaya bermain menyerang tetap membutuhkan keseimbangan. Penguasaan bola harus diikuti kemampuan melakukan transisi bertahan, menjaga jarak antarpemain, dan mengantisipasi serangan balik lawan.
Perpaduan pemain yang telah lebih dahulu berada di klub dengan rekrutan baru menjadi bagian penting dari proses tersebut. Nama seperti Nico Paz, Martin Baturina, dan Lucas Da Cunha disebut sebagai bagian dari proyek pengembangan skuad.
Kemenangan 4-1 atas Manchester United menjadi contoh bagaimana Como mampu menerjemahkan identitas permainan itu ke dalam hasil pertandingan.
Meski satu laga belum cukup untuk menilai konsistensi mereka sepanjang musim, kemenangan tersebut memberikan awal yang kuat bagi debut Eropa mereka.
Dalam data yang diberikan, sejumlah pemain seperti Nico Paz, Martin Baturina, Jean Butez, dan Lucas Da Cunha menjadi bagian dari fondasi tim. Rekrutan lain yang disebut dalam materi tersebut mencerminkan ambisi memperdalam pilihan pemain untuk menghadapi jadwal kompetisi yang lebih padat.
Selain membangun tim, manajemen berusaha menjaga hubungan dengan para pendukung. Apresiasi kepada suporter senior, termasuk pemberian tempat VIP pada laga pembuka Liga Champions sebagaimana disebut dalam materi, menjadi contoh upaya klub menjaga ikatan dengan komunitas lokal.
Aspek ini penting karena pertumbuhan komersial dan internasional tidak seharusnya menghilangkan hubungan klub dengan kota asalnya. Identitas lokal tetap menjadi salah satu aset utama yang membedakan Como dari klub lain.
Como perlu mempertahankan kualitas permainan, mengelola kebugaran pemain, serta memastikan kedalaman skuad cukup untuk menghadapi perubahan situasi sepanjang musim.
Di luar lapangan, klub juga perlu menjaga keseimbangan antara investasi, pertumbuhan komersial, dan keberlanjutan finansial. Ekspansi merek dapat membuka peluang pendapatan, tetapi keberhasilan jangka panjang membutuhkan pengelolaan yang disiplin.
Perjalanan Como menjadi contoh bagaimana sebuah klub dapat mengubah arah setelah melewati masa sulit. Dukungan pemilik, strategi bisnis yang memanfaatkan identitas kota, dan pendekatan sepak bola yang jelas telah menjadi bagian dari transformasi tersebut.
Kini, setelah menembus panggung Liga Champions, Como menghadapi ujian baru: membuktikan bahwa kebangkitan mereka bukan sekadar cerita menarik tentang klub kecil yang mendapat suntikan investasi, melainkan proyek sepak bola yang mampu bertahan dan berkembang di level tertinggi Eropa.