Sabtu, 17 Oktober 2026

9 Cara Menjaga Kesehatan saat Kabut Asap Menyelimuti Permukiman

Rizky Aisyah - Sabtu, 17 Oktober 2026 10:01 WIB
9 Cara Menjaga Kesehatan saat Kabut Asap Menyelimuti Permukiman
KOMPAS.COM/AKHMAD DHANI)
Kabut asap menyelimuti kawasan permukiman. Masyarakat perlu membatasi paparan polusi udara dan menjaga kesehatan, terutama saat kualitas udara memburuk.

Topikseru.com – Kabut asap yang menyelimuti permukiman dapat mengganggu aktivitas sehari-hari sekaligus meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Paparan asap kebakaran hutan dan lahan mengandung partikel halus serta gas yang dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan.

Salah satu komponen yang perlu diwaspadai adalah PM2.5, yaitu partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan polusi partikel dapat memperburuk asma dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru.

Ketika kabut asap mulai menyelimuti lingkungan tempat tinggal, masyarakat perlu melakukan langkah pencegahan untuk mengurangi paparan. Berikut sembilan cara menjaga kesehatan saat kabut asap melanda permukiman.

Baca Juga:

1. Pantau Kualitas Udara Sebelum Beraktivitas

Langkah pertama adalah memeriksa kualitas udara di lingkungan tempat tinggal sebelum memutuskan untuk beraktivitas di luar rumah.

Informasi kualitas udara dapat diperoleh melalui platform pemantauan kualitas udara, seperti situs IQAir, atau informasi resmi dari instansi lingkungan hidup setempat.

Perhatikan kategori kualitas udara dan rekomendasi aktivitas yang menyertainya. Ketika kualitas udara memburuk, kurangi kegiatan di luar ruangan, terutama olahraga atau pekerjaan fisik yang membuat napas lebih cepat.

Jangan hanya mengandalkan jarak pandang atau ketebalan asap untuk menilai risiko. Polusi partikel halus dapat tetap berbahaya meskipun asap tidak terlihat pekat.

2. Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Saat kabut asap menyelimuti permukiman, membatasi waktu di luar ruangan merupakan salah satu cara penting untuk mengurangi paparan polutan.

Tunda kegiatan yang tidak mendesak, seperti jogging, bersepeda, atau berolahraga di lapangan terbuka, ketika kualitas udara tidak sehat.

Jika harus keluar rumah untuk bekerja atau memenuhi kebutuhan penting, usahakan mempersingkat waktu di luar ruangan dan hindari aktivitas berat.

Bagi masyarakat yang bekerja di luar ruangan, gunakan perlindungan pernapasan yang sesuai dan ikuti panduan keselamatan kerja terkait paparan asap.

3. Gunakan Masker yang Tepat

Tidak semua masker memberikan perlindungan yang sama terhadap partikel halus dalam asap kebakaran.

Respirator seperti N95 yang memenuhi standar dan terpasang rapat pada wajah dapat membantu menyaring partikel halus. Namun, efektivitasnya bergantung pada kualitas respirator, kecocokan dengan wajah, dan cara pemakaian.

Pastikan masker menutupi hidung dan mulut serta tidak memiliki celah besar di sisi wajah. Rambut wajah di area segel juga dapat mengurangi kecocokan respirator.

Masker kain dan masker bedah tidak memberikan perlindungan yang setara dengan respirator partikulat yang terpasang rapat. Respirator partikulat juga tidak dirancang untuk melindungi dari semua gas berbahaya dalam asap.

Perlu diingat, masker bukan alasan untuk tetap beraktivitas lama di lingkungan yang sangat tercemar. Mengurangi paparan tetap menjadi langkah utama.

4. Tutup Pintu dan Jendela saat Asap Masuk

Rumah seharusnya menjadi tempat berlindung dari udara luar yang tercemar. Namun, partikel asap dapat masuk melalui pintu, jendela, ventilasi, dan celah bangunan.

Ketika udara luar tercemar, tutup pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya asap. Jika memungkinkan, gunakan pendingin ruangan dengan mode sirkulasi ulang atau sistem penyaringan udara yang sesuai.

Hindari menutup rumah secara terus-menerus tanpa memperhatikan suhu ruangan. Pastikan rumah tetap aman dan nyaman, terutama bagi bayi, balita, lansia, serta orang yang rentan mengalami kepanasan.

Jika tersedia, gunakan alat pembersih udara dengan filter HEPA yang sesuai dengan luas ruangan. Hindari perangkat yang sengaja menghasilkan ozon karena dapat mengiritasi paru-paru.

5. Jaga Kebersihan Udara di Dalam Rumah

Menutup jendela saja belum tentu cukup jika terdapat sumber polusi di dalam rumah.

Hindari merokok, membakar sampah, membakar dupa, atau menyalakan lilin selama kualitas udara buruk. Aktivitas memasak yang menghasilkan banyak asap juga perlu dikurangi, dan gunakan ventilasi atau alat pengisap asap yang aman bila tersedia.

Bersihkan debu dengan kain lembap agar partikel tidak mudah beterbangan kembali ke udara. Jika memungkinkan, pilih satu ruangan yang dapat dijaga kualitas udaranya sebagai tempat berkumpul anggota keluarga.

Langkah ini sangat membantu bagi orang yang perlu menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam rumah.

6. Minum Air yang Cukup dan Konsumsi Makanan Bergizi

Memenuhi kebutuhan cairan dan mengonsumsi makanan bergizi penting untuk menjaga kesehatan selama periode kabut asap.

Minumlah air sesuai kebutuhan tubuh, terutama ketika cuaca panas. Konsumsi makanan beragam yang mengandung protein, vitamin, mineral, serta buah dan sayuran.

Namun, perlu dipahami bahwa air putih, jus, susu, maupun makanan kaya antioksidan tidak dapat menetralkan racun asap atau mengeluarkan partikel PM2.5 dari paru-paru.

Karena itu, pola makan sehat sebaiknya dipandang sebagai bagian dari pemeliharaan kesehatan secara umum, bukan pengganti upaya menghindari paparan polusi.

7. Lindungi Bayi, Anak-Anak, Lansia, dan Ibu Hamil

Kelompok tertentu lebih rentan terhadap dampak polusi udara sehingga membutuhkan perhatian khusus.

Anak-anak dan bayi memiliki sistem pernapasan yang masih berkembang. Sementara itu, lansia, ibu hamil, penderita asma, serta orang dengan penyakit jantung atau paru-paru juga perlu lebih berhati-hati.

Ketika kualitas udara memburuk, batasi kegiatan anak di luar rumah dan hindari membawa bayi ke kawasan yang dipenuhi asap. Pastikan anggota keluarga yang memiliki penyakit kronis tetap mengikuti pengobatan sesuai petunjuk dokter.

Jika memungkinkan, pertimbangkan berpindah sementara ke tempat dengan kualitas udara lebih baik apabila rumah tidak dapat terlindungi dari asap, terutama bagi anggota keluarga yang mengalami gejala.

8. Jangan Abaikan Gejala Gangguan Kesehatan

Paparan kabut asap dapat menimbulkan berbagai gejala, seperti:

• Mata perih, merah, atau berair.

• Hidung berair, tersumbat, atau sering bersin.

• Tenggorokan terasa kering dan gatal.

• Batuk yang terus-menerus.

• Sakit kepala atau tubuh terasa lelah.

• Napas berbunyi atau mengi.

• Sesak napas dan dada terasa tidak nyaman.

Jika mengalami gejala ringan, segera kurangi paparan dan pindah ke tempat dengan udara lebih bersih. Perhatikan apakah gejala membaik setelah menjauh dari asap.

Jangan menunda pemeriksaan jika keluhan terus berlangsung, semakin parah, atau muncul pada orang yang memiliki penyakit kronis.

Segera cari pertolongan medis darurat jika mengalami sesak napas berat, sulit berbicara karena kehabisan napas, nyeri dada, bibir kebiruan, atau gangguan kesadaran. Jangan menunggu gejala mereda dengan sendirinya.

9. Siapkan Langkah Darurat jika Kabut Asap Semakin Parah

Masyarakat sebaiknya memiliki rencana sederhana untuk menghadapi kondisi kabut asap yang memburuk.

Siapkan obat rutin bagi anggota keluarga yang memiliki penyakit kronis, masker atau respirator yang sesuai, air minum, serta nomor layanan kesehatan dan darurat setempat.

Pantau informasi dari pemerintah daerah, dinas kesehatan, dan instansi terkait. Jika terdapat imbauan untuk membatasi aktivitas atau melakukan evakuasi, ikuti arahan petugas.

Apabila kualitas udara di rumah tetap buruk dan anggota keluarga mulai mengalami gangguan kesehatan, cari tempat berlindung dengan udara yang lebih bersih jika aman untuk dijangkau.

Jangan menunggu sampai kondisi menjadi darurat untuk menentukan langkah yang perlu dilakukan.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
Medan Terapkan PJJ hingga 21 Oktober, Apa yang Perlu Disiapkan Orang Tua?
Rumah Ikut Dipenuhi Asap? Ini Cara Mengurangi Polusi Udara di Dalam Ruangan
Susu Bisa Menetralkan Racun Kabut Asap? Ini Penjelasan Medisnya
Waspada! Ini 8 Gejala Tubuh Terpapar Kabut Asap yang Tak Boleh Diabaikan
8 Penyakit Akibat Kabut Asap Karhutla yang Perlu Diwaspadai, dari ISPA hingga Gangguan Jantung
Dinas LHK Sumut: Kabut Asap Kiriman dari Sumsel, Jambi, Lampung, dan Riau