Topikseru.com - Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,29 persen pada triwulan II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan perekonomian nasional masih berkembang di tengah ketidakpastian global. Namun, muncul pertanyaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mengapa sebagian masyarakat masih merasa pengeluaran semakin berat meski ekonomi dikabarkan tumbuh?
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.552,1 triliun pada triwulan II 2026. Sementara itu, ekonomi tumbuh 3,73 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut didukung berbagai aktivitas ekonomi, termasuk konsumsi rumah tangga dan investasi. Bank Indonesia mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen secara tahunan, sedangkan investasi tumbuh 6,87 persen pada periode yang sama.
Baca Juga:
Meski demikian, pertumbuhan ekonomi nasional tidak selalu dirasakan secara merata oleh setiap rumah tangga. Sebab, peningkatan aktivitas ekonomi secara keseluruhan tidak otomatis membuat pendapatan setiap pekerja naik atau harga kebutuhan sehari-hari menjadi lebih murah.
1. Pertumbuhan Ekonomi Tidak Sama dengan Kenaikan Pendapatan Semua Orang
Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen berarti nilai produksi barang dan jasa dalam perekonomian meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka tersebut bukan berarti gaji setiap pekerja otomatis naik 5,29 persen. Begitu pula, bukan berarti pendapatan pedagang kecil, petani, pengemudi ojek daring, dan pekerja informal mengalami peningkatan dengan persentase yang sama.
Manfaat pertumbuhan ekonomi bergantung pada berbagai faktor, mulai dari sektor yang berkembang, jenis pekerjaan yang tercipta, tingkat upah, hingga distribusi pendapatan.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan dapat meningkatkan produksi dan penjualannya tanpa memberikan kenaikan pendapatan dengan persentase yang sama kepada seluruh pekerja. Di sisi lain, pedagang kecil bisa menghadapi kenaikan biaya bahan baku meski permintaan pasar meningkat.
Karena itu, untuk menilai apakah masyarakat semakin sejahtera, pertumbuhan PDB perlu dibaca bersama data upah, pendapatan rumah tangga, kemiskinan, dan kualitas lapangan kerja.
2. Harga Kebutuhan Pokok Bisa Membuat Pengeluaran Terasa Semakin Berat
Salah satu alasan masyarakat masih merasa kesulitan secara ekonomi adalah perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi setiap hari.
Inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam suatu periode. Ketika harga meningkat, uang dengan jumlah yang sama dapat membeli barang lebih sedikit dibandingkan sebelumnya.
Misalnya, sebuah keluarga memiliki anggaran belanja bulanan Rp2 juta. Jika harga barang yang biasa dibeli naik, keluarga tersebut mungkin harus mengurangi jumlah belanja, mengganti merek, atau mengalihkan anggaran dari kebutuhan lain.
Dampaknya dapat lebih besar bagi rumah tangga berpendapatan rendah karena sebagian besar penghasilannya digunakan untuk kebutuhan dasar seperti makanan, transportasi, tempat tinggal, dan pendidikan.
Namun, penting dipahami bahwa tidak semua barang mengalami kenaikan harga dengan besaran yang sama. Pengalaman setiap keluarga juga berbeda, tergantung pola konsumsi dan wilayah tempat tinggal.
Untuk mengukur tekanan biaya hidup secara lebih akurat, data inflasi umum perlu dibandingkan dengan perubahan harga kebutuhan yang paling banyak dibeli masyarakat.
3. Bekerja Belum Tentu Membuat Kondisi Keuangan Lebih Longgar
Jumlah orang yang bekerja merupakan salah satu indikator penting untuk menilai kondisi perekonomian. Namun, keberadaan pekerjaan saja belum cukup untuk menggambarkan tingkat kesejahteraan.
Kualitas pekerjaan juga perlu diperhatikan, termasuk besaran penghasilan, kestabilan pendapatan, jam kerja, serta perlindungan sosial yang tersedia.
Pekerja dengan penghasilan tidak tetap, misalnya, bisa mengalami kesulitan ketika jumlah pesanan berkurang atau biaya operasional meningkat. Situasi serupa dapat dialami pekerja informal yang harus menanggung sendiri sebagian besar risiko pekerjaannya.
Dalam laporan yang diterbitkan pada Agustus 2026, KabarBursa menyoroti bahwa pekerja informal masih mendominasi struktur ketenagakerjaan Indonesia. Laporan tersebut mengutip data Februari 2026 yang mencatat 87,74 juta pekerja berada di sektor informal, sedangkan 59,93 juta lainnya bekerja di sektor formal.
Angka tersebut menunjukkan pentingnya memperhatikan kualitas pekerjaan selain tingkat pengangguran.
Perekonomian yang tumbuh secara berkelanjutan idealnya tidak hanya meningkatkan jumlah kegiatan usaha, tetapi juga membuka lebih banyak pekerjaan produktif dengan penghasilan yang memadai.
4. Pertumbuhan Ekonomi Tidak Selalu Dirasakan Merata
Indonesia memiliki beragam sektor ekonomi, mulai dari pertanian, industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, hingga jasa dan teknologi informasi.
Ketika suatu sektor tumbuh pesat, manfaatnya dapat lebih banyak dirasakan oleh pelaku usaha dan pekerja yang terlibat langsung di dalamnya. Sementara itu, masyarakat yang bekerja pada sektor lain belum tentu mengalami peningkatan pendapatan dalam waktu bersamaan.
Perbedaan juga dapat terjadi antardaerah. Wilayah dengan aktivitas industri dan investasi yang tinggi bisa memiliki dinamika ekonomi berbeda dibandingkan daerah yang lebih bergantung pada pertanian, perdagangan kecil, atau sektor informal.
BPS mencatat Pulau Jawa menyumbang 56,47 persen terhadap struktur ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 dan tumbuh 5,65 persen secara tahunan. Angka tersebut menggambarkan besarnya kontribusi Jawa terhadap perekonomian nasional, tetapi tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh penduduk di wilayah itu lebih sejahtera daripada masyarakat di daerah lain.
Oleh sebab itu, pemerataan kesempatan kerja, akses pendidikan, infrastruktur, dan kesempatan berusaha tetap penting agar manfaat pertumbuhan dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
5. Daya Beli Perlu Dilihat dari Pendapatan dan Pengeluaran Sekaligus
Daya beli menggambarkan kemampuan seseorang atau rumah tangga membeli barang dan jasa dengan pendapatan yang dimiliki.
Kemampuan ini tidak hanya ditentukan oleh besarnya gaji, tetapi juga oleh perubahan harga dan jumlah pengeluaran yang harus ditanggung.
Jika pendapatan naik 3 persen, sementara pengeluaran untuk kebutuhan utama meningkat lebih cepat, kondisi keuangan rumah tangga bisa tetap terasa tertekan.
Sebaliknya, kenaikan pendapatan yang lebih besar daripada kenaikan harga barang dan jasa yang dikonsumsi dapat meningkatkan kemampuan belanja.
Karena itu, menilai daya beli masyarakat tidak cukup hanya dengan melihat pertumbuhan ekonomi atau inflasi secara terpisah. Perlu ada perbandingan antara pertumbuhan upah, inflasi, biaya hidup, serta perubahan konsumsi rumah tangga.
Bagi masyarakat, ukuran yang paling terasa sering kali sederhana: apakah penghasilan bulanan masih cukup untuk membayar kebutuhan rutin, menabung, dan menghadapi pengeluaran mendadak?
Lalu, Apakah Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tidak Bermanfaat?
Pertumbuhan ekonomi tetap penting karena dapat memperbesar aktivitas produksi, mendorong investasi, membuka kesempatan kerja, dan memperluas penerimaan negara.
Data BPS untuk triwulan II 2026 menunjukkan perekonomian Indonesia masih berkembang. Namun, angka pertumbuhan tersebut sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan ekonomi.
Pemerintah juga perlu memperhatikan kualitas lapangan kerja, peningkatan pendapatan riil, keterjangkauan kebutuhan pokok, serta pemerataan manfaat pembangunan.
Bagi masyarakat, pertumbuhan ekonomi baru terasa lebih nyata ketika pendapatan mampu mengejar biaya hidup, pekerjaan memberikan penghasilan yang layak, dan kesempatan ekonomi terbuka bagi lebih banyak orang.
Dengan demikian, pertanyaan mengenai ekonomi Indonesia yang tumbuh 5,29 persen bukan semata-mata apakah angka tersebut baik atau buruk. Pertanyaan berikutnya adalah sejauh mana pertumbuhan itu diterjemahkan menjadi kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.