Selasa, 06 Oktober 2026

Monza Sambu, Jejak Pakaian Bekas yang Jadi Bagian dari Wajah Kota Medan

Rizky Aisyah - Selasa, 06 Oktober 2026 17:30 WIB
Monza Sambu, Jejak Pakaian Bekas yang Jadi Bagian dari Wajah Kota Medan
Tribunmedan
Aktivitas pedagang dan pembeli di kawasan Monza Sambu, Medan. Pakaian bekas hingga berbagai barang kebutuhan dijual dengan harga beragam dan menjadi bagian dari kehidupan perdagangan tradisional Kota Medan.

Topikseru.com - Jika berbicara tentang kebiasaan berburu pakaian bekas di Kota Medan, istilah monza menjadi salah satu sebutan yang tidak asing bagi masyarakat. Pakaian bekas dengan beragam model, merek dan harga dapat ditemukan di sejumlah kawasan perdagangan, salah satunya Pasar Sambu di kawasan Jalan Sutomo, Medan.

Bagi sebagian orang, berbelanja monza bukan sekadar mencari pakaian dengan harga terjangkau. Aktivitas tersebut juga menawarkan pengalaman berbeda karena pembeli harus jeli memilih barang di antara tumpukan dan gantungan pakaian yang tersedia di lapak pedagang.

Dari Mongonsidi Plaza hingga Sebutan Monza

Baca Juga:

Istilah monza memiliki cerita yang berkaitan dengan kawasan Jalan Mongonsidi di Medan.

Menurut keterangan Anharuddin Hutasuhut, salah seorang penyusun Kamus Medan sekaligus pegawai Badan Bahasa Provinsi Sumatera Utara, monza merupakan akronim dari Mongonsidi Plaza.

Pada sekitar 1990-an, kawasan Jalan Mongonsidi dikenal sebagai salah satu tempat perdagangan barang bekas. Dari penyebutan nama tempat tersebut, istilah monza kemudian berkembang dalam percakapan masyarakat.

Seiring waktu, kata monza semakin lekat dengan pakaian bekas dan digunakan secara luas oleh masyarakat Medan.

Monza Sambu dan Kehidupan Pasar Tradisional

Pasar Sambu menjadi salah satu kawasan yang dikenal dengan aktivitas perdagangan pakaian bekas. Lokasinya yang berada di kawasan perdagangan membuat pasar ini memiliki aktivitas yang cukup beragam.

Di antara lapak pedagang, pembeli dapat menemukan berbagai jenis pakaian seperti kaus, celana, jaket hingga pakaian dengan model tertentu. Selain pakaian, sejumlah pedagang juga menjual barang bekas lainnya, mulai dari sepatu, tas hingga berbagai perlengkapan rumah tangga.

Barang yang dijual tentu memiliki kondisi dan kualitas yang berbeda. Karena itu, pembeli biasanya perlu meluangkan waktu untuk memeriksa barang sebelum menentukan pilihan.

Sensasi Berburu Barang Bekas

Salah satu hal yang membuat belanja monza berbeda dari berbelanja di toko pakaian adalah proses mencarinya.

Pakaian bisa digantung berdasarkan jenis tertentu, sementara sebagian lainnya ditumpuk di dalam lapak. Pembeli harus melihat satu per satu untuk menemukan ukuran, warna, model atau merek yang diinginkan.

Bagi penggemarnya, proses tersebut justru menjadi bagian menarik dari berburu monza. Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil menemukan pakaian yang sesuai dengan selera dengan harga yang dianggap sepadan.

Tidak jarang pula pakaian bekas memiliki model yang berbeda dari koleksi pakaian yang umum dijumpai di toko biasa. Hal inilah yang membuat sebagian pembeli datang bukan hanya karena harga, tetapi juga karena ingin menemukan barang yang unik.

Harga Terjangkau Jadi Daya Tarik

Harga menjadi salah satu alasan pakaian bekas tetap memiliki pasar tersendiri.

Dengan pilihan harga yang beragam, pembeli dapat menyesuaikan barang dengan kebutuhan dan kemampuan mereka. Namun, harga pakaian biasanya dipengaruhi oleh jenis barang, kondisi, bahan, merek dan kualitasnya.

Karena merupakan barang bekas, pembeli juga perlu memperhatikan kondisi pakaian sebelum membeli. Memeriksa bahan, jahitan, noda, ukuran dan bagian-bagian lainnya menjadi langkah penting agar barang yang dipilih sesuai dengan harapan.

Bukan Hanya Tempat Jual Beli Pakaian

Kehidupan di kawasan Monza Sambu tidak hanya diisi oleh pedagang pakaian. Aktivitas pasar juga berjalan berdampingan dengan keberadaan pedagang makanan dan minuman.

Pedagang pecal, misalnya, menjadi bagian dari aktivitas perdagangan di kawasan tersebut. Makanan sederhana dapat menjadi pilihan bagi pedagang maupun pengunjung yang ingin mengisi tenaga setelah beraktivitas di pasar.

Pedagang minuman juga melengkapi suasana kawasan. Berbagai minuman dingin dapat ditemukan untuk menemani masyarakat yang sedang berkeliling atau beristirahat sejenak.

Kehadiran pedagang dari berbagai jenis usaha tersebut memperlihatkan bahwa pasar tradisional bukan hanya ruang transaksi. Pasar juga menjadi tempat masyarakat bertemu, makan, berbincang dan menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari.

Interaksi Khas Pasar Medan

Hal lain yang tidak kalah menarik adalah interaksi antara pedagang dan pembeli.

Percakapan berlangsung secara spontan dengan gaya bahasa yang santai. Proses tawar-menawar juga menjadi bagian dari pengalaman berbelanja di pasar tradisional.

Suasana tersebut membuat kegiatan berbelanja terasa berbeda dibandingkan pusat perbelanjaan modern. Di pasar, pembeli tidak hanya berhadapan dengan barang yang dipajang, tetapi juga berinteraksi langsung dengan orang yang menjualnya.

Karakter komunikasi yang dekat dengan keseharian masyarakat Medan kemudian menjadi bagian dari identitas suasana pasar.

Monza di Tengah Perubahan Zaman

Perkembangan perdagangan melalui internet membuat masyarakat kini memiliki lebih banyak pilihan untuk membeli pakaian. Berbagai platform digital memungkinkan seseorang memilih pakaian tanpa harus datang langsung ke pasar.

Meski begitu, pasar pakaian bekas tetap memiliki daya tarik yang berbeda.

Pembeli dapat melihat dan memegang barang secara langsung. Mereka juga dapat memeriksa kondisi pakaian, mencoba bernegosiasi mengenai harga dan mencari barang secara langsung di antara lapak pedagang.

Pengalaman seperti itu sulit sepenuhnya digantikan oleh aktivitas belanja secara daring.

Monza Sambu sebagai Bagian dari Cerita Medan

Monza Sambu pada akhirnya bukan hanya cerita mengenai pakaian bekas.

Di balik gantungan baju dan tumpukan celana, terdapat pedagang yang mengandalkan pasar sebagai sumber penghasilan, pembeli yang berburu barang sesuai selera, pedagang makanan yang melayani pengunjung hingga percakapan khas yang mewarnai kehidupan pasar.

Keberadaan kawasan seperti Sambu memperlihatkan bagaimana perdagangan tradisional tetap menjadi bagian dari kehidupan Kota Medan.

Monza pun berkembang lebih dari sekadar istilah untuk pakaian bekas. Ia menjadi bagian dari kosakata dan pengalaman masyarakat dalam mengenal sisi lain perdagangan di Kota Medan.

Bagi mereka yang pernah berburu pakaian bekas di kawasan Sambu, kegiatan tersebut mungkin bukan sekadar aktivitas belanja. Ada suasana pasar, interaksi dengan pedagang dan keseruan menemukan barang yang dicari—hal-hal sederhana yang membuat Monza Sambu tetap memiliki cerita untuk dikenang.

Editor
: Rizky Aisyah
Berita Terkait
Rico Waas Temukan Kendaraan Dinas Camat Medan Area Tak Bayar Pajak
Tulisan Sulit Dibaca Bukan Selalu Karena Malas, Bisa Jadi Ini Tanda Disgrafia
Tembakau Deli Pernah Mendunia, Begini Cerita Komoditas yang Mengubah Medan
7 Tempat Minum Matcha yang Lagi Hits di Medan, Cocok Buat Nongkrong dan Healing
5 Museum di Medan yang Wajib Dikunjungi, Simpan Sejarah dan Cerita Unik Sumatera Utara
Bukan Cuma Satu Suku, Ini Sejarah Panjang yang Membuat Medan Jadi Kota Multikultural