Sabtu, 26 September 2026

Lukisan Bertema HAM di Medan Sorot Ketidakadilan: “Perlawanan Bisa Lewat Kuas dan Kanvas”

Administrator - Kamis, 11 Desember 2025 15:23 WIB
Lukisan Bertema HAM di Medan Sorot Ketidakadilan: “Perlawanan Bisa Lewat Kuas dan Kanvas”
Lukisan HAM Medan
Topikseru.com - Sebuah lukisan berwarna ungu dengan figur perempuan bermata dan bermulut tertutup kain merah menjadi pusat perhatian dalam Festival Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional 2025 yang digelar di Seruang Cafe, Jalan Sisingamangaraja, Medan Kota, Rabu (10/12/2025). Karya tersebut dipamerkan oleh Amanda, seorang pelukis muda yang dikenal lewat tema-tema perlawanan dalam setiap karyanya. Menurut Amanda, pemilihan warna ungu sebagai latar bukan tanpa alasan. Warna itu, katanya, merefleksikan luka kolektif bangsa akibat berbagai pelanggaran HAM masa lalu yang hingga kini belum sepenuhnya terselesaikan. "Warna itu saya pilih karena melambangkan kesedihan dan luka mendalam dari sejarah kelam kekerasan negara," kata Amanda.

Simbol Pembungkaman Perempuan: Kritik terhadap Pejabat Publik

Sosok perempuan dalam lukisan tampak dengan mata dan mulut tertutup kain merah. Amanda menjelaskan bahwa visual tersebut merupakan kritik terhadap pejabat publik yang dinilai sering menutup ruang aspirasi masyarakat. "Kain merah itu melambangkan dasi pejabat publik yang menutup mata dan mulut rakyat. Ini tentang pembungkaman dan perampasan hak," ujar Amanda. Lukisan ini tak hanya menghadirkan kritik, tetapi juga menggambarkan dinamika protes masyarakat. Di bagian lain kanvas, terlihat ilustrasi sekelompok massa yang membentangkan poster bertuliskan ajakan untuk melawan ketidakadilan.

Representasi Perlawanan Warga

Amanda menuturkan, figur massa yang memprotes merupakan simbol bahwa perjuangan masyarakat menuntut keadilan tidak pernah berhenti, meski hambatan terus muncul. "Mereka melambangkan kepedulian dan kebersamaan dalam melawan ketidakadilan yang masih terpampang sampai hari ini," ungkapnya.

Karya Seni sebagai Medium Perjuangan HAM

Amanda bukan nama baru dalam dunia seni kritis. Ia konsisten menghadirkan karya bertema penindasan struktural, termasuk lukisan yang pernah menggambarkan wajah-wajah kekerasan aparat terhadap warga yang mencoba bersuara. Baginya, perlawanan tidak melulu harus turun ke jalan. Seni, menurut Amanda, juga bisa menjadi wadah untuk menyuarakan kebenaran. "Perlawanan juga bisa kita lakukan lewat kuas dan kanvas," pungkasnya.

Sumber
:
Berita Terkait
BMKG Ingatkan Sumut Diguyur Hujan Rabu, Sejumlah Perairan Berpotensi Gelombang 2,5 Meter
Polrestabes Medan Buru Pemasok Vape Narkoba Jaringan DJ Kamboja
PUD Pasar Kota Medan Bidik Pasar Petisah Jadi Ikon Kuliner Kota Medan
PSMS Medan Menggila di Kandang, Persiku Kudus Dihantam 6-0
PSMS Medan vs Persiku Kudus: Tiga Poin Jadi Target di Kandang Perdana
Super Air Jet Buka Rute Kualanamu–Bandung, Akses Konektivitas Terusan ke Bali Makin Mudah