Sabtu, 26 September 2026

Nilai Tukar Dolar AS Bergerak Datar Menanti Data Inflasi AS

Mhd Rabbani - Rabu, 12 Agustus 2026 09:42 WIB
Nilai Tukar Dolar AS Bergerak Datar Menanti Data Inflasi AS
Dolar AS
Topikseru.com, Jakarta - Pada awal perdagangan Asia, Rabu (12/8/2026) nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bergerak datar di pasar spot. Pelaku pasar mengabaikan kembali meningkatnya serangan terhadap kapal di jalur pelayaran strategis Timur Tengah dan memilih menunggu rilis data inflasi AS untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Melansir Reuters, Yen Jepang bergerak stabil di level 159,275 per dolar AS. Mata uang Jepang tersebut masih berada di sekitar level terlemahnya dalam sebulan, meski sebelumnya otoritas AS dan Jepang melakukan intervensi bersama untuk memperkuat yen. Sementara itu, euro bertahan di US$1,1542 per euro. Poundsterling Inggris juga tidak banyak berubah di level US$1,3508. Dolar Australia dan dolar Selandia Baru masing-masing stabil di US$0,7064 dan US$0,5879. Pasar Menanti Data Inflasi AS Perhatian utama pasar pekan ini tertuju pada data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pada Rabu. Data tersebut dinilai penting untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan mendatang. Laporan ketenagakerjaan AS pekan lalu yang lebih lemah dari perkiraan serta konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh bulan lalu belum sepenuhnya menghilangkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan bank sentral AS. Analis ING memperkirakan masih terdapat ruang bagi inflasi AS untuk melandai sepanjang sisa 2026, dengan asumsi harga minyak tetap terkendali dan Selat Hormuz kembali dibuka. "Ada jalur menuju penurunan inflasi seiring berjalannya sisa 2026," tulis analis ING dalam catatannya. Menurut mereka, pasar saat ini bahkan telah memperhitungkan skenario penurunan inflasi yang relatif moderat. Harga Minyak Jadi Risiko Inflasi Harga minyak mentah kembali menguat pada perdagangan Asia, sehingga menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi inflasi AS. Harga minyak Brent naik sekitar 0,6% menjadi US$89,40 per barel setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang kapal kargo di Selat Bab el-Mandeb. Selain itu, militer AS melakukan serangan terhadap kapal kontainer di lepas pantai Pakistan yang disebut berupaya menerobos blokade terhadap Selat Hormuz. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global. Jika harga minyak terus naik, tekanan inflasi dapat kembali meningkat dan memengaruhi keputusan The Fed. Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee mengatakan pada Selasa bahwa bank sentral AS saat ini lebih mengkhawatirkan inflasi yang terlalu tinggi dibandingkan pelemahan pasar tenaga kerja. Namun, belum jelas apakah pandangan Goolsbee sejalan dengan kelompok kecil pejabat The Fed yang mendukung kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan lalu. Pasar Terbelah soal Suku Bunga The Fed Pelaku pasar masih terbagi mengenai keputusan The Fed pada pertemuan September mendatang. Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, kontrak futures suku bunga The Fed menunjukkan probabilitas 52% bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan yang berakhir 16 September. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 48%. Perbedaan ekspektasi tersebut menunjukkan bahwa data inflasi AS akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah pasar valuta asing dan aset berisiko dalam beberapa pekan ke depan.  

Sumber
:
Berita Terkait
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,16% Dibuka di Level Rp17.876 per Dolar AS Pagi Ini
Pergerakan Valas Masih Dipengaruhi Divergensi Bank Sentral dan Geopolitik
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Masih akan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.840-Rp17.900 per Dolar AS
Nilai Tukar Rupiah Masih Loyo Tersungkur di Level Rp 17.827 per Dolar AS Siang Ini
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,12% Terseret di Level Rp17.779 per Dolar AS Pagi Ini
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah akan Bergerak dalam Rentang Rp17.600-Rp17.900 per Dolar AS