Topikseru.com, Medan - Arya Sinulingga resmi terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PSSI Sumatera Utara periode 2026 - 2030. Terpilihnya Arya melalui Kongres Luar Biasa (KLB) di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumatera Utara, Medan, Senin, menjadi awal dari tanggung jawab baru untuk memperkuat pembinaan sepak bola di daerah.
Arya sebelumnya menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua PSSI Sumut. Setelah memperoleh mandat untuk memimpin organisasi secara definitif, ia menegaskan bahwa pekerjaan ke depan tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan organisasi, tetapi juga memastikan program pengembangan sepak bola berjalan lebih terarah dan menjangkau seluruh wilayah Sumatera Utara.
Salah satu fokus yang menjadi sorotan Arya adalah pembinaan pemain sejak usia dini. Menurut dia, upaya menghasilkan pesepak bola berkualitas tidak cukup hanya mengandalkan pemain senior, tetapi harus dimulai melalui proses pembinaan berjenjang dan kompetisi yang berkelanjutan.
Baca Juga:
Dia ingin pengembangan sepak bola dilakukan secara menyeluruh di 33 kabupaten dan kota di Sumatera Utara. Dengan demikian, kesempatan untuk mengembangkan bakat tidak hanya terbuka bagi pemain yang berasal dari daerah dengan ekosistem sepak bola yang sudah berkembang.
Melalui pertandingan yang berlangsung secara rutin, pemain muda dapat memperoleh pengalaman sekaligus menunjukkan kemampuan mereka.
Menurut dia, pencarian bakat tidak bisa dilakukan secara instan. Pemain membutuhkan waktu, kesempatan bertanding, serta pembinaan yang konsisten agar kemampuan mereka dapat berkembang.
"Tidak bisa secara instan jika ingin melahirkan pemain berkualitas. Kompetisi usia muda menjadi bagian penting dalam proses pencarian dan pengembangan bakat. Dengan kesempatan bertanding secara rutin, potensi pemain di berbagai daerah diharapkan dapat terpantau sejak awal," kata Arya.
Pernyataan tersebut menempatkan kompetisi usia muda sebagai salah satu agenda penting PSSI Sumut pada periode kepemimpinannya hingga 2030.
Kompetisi yang berjalan secara teratur dapat menjadi ruang bagi pemain untuk mengasah kemampuan teknis, memahami taktik permainan, dan membangun mental bertanding.
Pada saat yang sama, pertandingan antarkelompok umur dapat membantu pelatih dan pengelola sepak bola memantau perkembangan pemain di berbagai daerah.
Namun, pemerataan pembinaan juga membutuhkan dukungan fasilitas, pelatih, serta penyelenggaraan kompetisi yang berkesinambungan. Karena itu, pengembangan sepak bola di Sumatera Utara memerlukan keterlibatan berbagai pihak, bukan hanya organisasi di tingkat provinsi.
Sumatera Utara memiliki 33 kabupaten dan kota dengan kondisi serta potensi sepak bola yang beragam. Pemerataan pembinaan diperlukan agar pemain muda dari berbagai daerah memiliki kesempatan untuk mengikuti kompetisi dan mendapatkan perhatian dalam proses pencarian bakat.
Dengan pembinaan yang lebih terstruktur, potensi pemain di daerah diharapkan dapat teridentifikasi sejak usia muda. Langkah ini juga dapat membuka peluang bagi talenta yang selama ini belum banyak mendapat kesempatan tampil di kompetisi yang lebih luas.
Untuk mencapai tujuan tersebut, program pembinaan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah. Keberadaan kompetisi lokal, pembinaan kelompok umur, dan koordinasi antara pengurus sepak bola di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota menjadi bagian yang dapat mendukung proses tersebut.
Arya menegaskan bahwa pengembangan sepak bola tidak boleh hanya berorientasi pada hasil jangka pendek. Pembentukan pemain berkualitas membutuhkan proses panjang yang dijalankan secara konsisten.
Pengembangan perangkat pertandingan menjadi bagian lain dari upaya meningkatkan kualitas sepak bola. Wasit memiliki peran penting dalam menjaga pertandingan berlangsung sesuai aturan, sekaligus memastikan keputusan di lapangan diambil secara profesional.
Untuk mewujudkan target tersebut, diperlukan pembinaan dan peningkatan kapasitas wasit secara berkelanjutan.
Program pengembangan dapat mencakup peningkatan pemahaman terhadap peraturan permainan, kebugaran fisik, serta pengalaman memimpin pertandingan dengan tingkat persaingan yang semakin tinggi.
Meski demikian, target melahirkan wasit berkelas internasional membutuhkan proses dan tahapan pengembangan yang jelas. Kualitas wasit tidak hanya ditentukan oleh pelatihan, tetapi juga pengalaman, evaluasi kinerja, dan kesempatan mengikuti jenjang kompetisi yang sesuai.
Keinginan tersebut memperlihatkan bahwa agenda pengembangan PSSI Sumut tidak hanya menyasar pemain, tetapi juga sumber daya manusia lain yang menopang jalannya kompetisi sepak bola.
Menurut dia, keterlibatan pemerintah kabupaten dan kota dapat membantu mendorong pelaksanaan program yang bermanfaat bagi masyarakat daerah.
"Kami harap pemerintah daerah juga bisa dukung kita, karena ini hal yang baik juga untuk daerah," kata Arya.
Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat koordinasi antara PSSI Sumut dan pemangku kepentingan di daerah. Kolaborasi diperlukan agar agenda pembinaan pemain, penyelenggaraan kompetisi usia muda, serta pengembangan wasit dapat berjalan lebih luas dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, keberhasilan program PSSI Sumut periode 2026 - 2030 akan bergantung pada pelaksanaan program yang terukur, kesinambungan kompetisi, dan keterlibatan berbagai pihak.
Terpilihnya Arya Sinulingga secara aklamasi menjadi awal periode kepemimpinan baru. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan agenda pembinaan tersebut menjadi program nyata yang memberi kesempatan lebih luas bagi pemain muda dan perangkat pertandingan di seluruh Sumatera Utara.