Topikseru.com - Pemerintah Iran menyatakan tengah mengkaji proposal Amerika Serikat (AS) untuk membuka jalan menuju perundingan di tengah ketegangan yang belum mereda di Timur Tengah. Komunikasi antara Teheran dan Washington masih berlangsung melalui mediator, dengan Pakistan dan Qatar disebut berperan menjembatani kedua negara.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan pertukaran pesan melalui pihak ketiga terus berjalan. Namun, ia menegaskan bahwa setiap proses negosiasi harus mempertimbangkan prasyarat yang diajukan Teheran.
"Pertukaran pesan antara Iran dan AS melalui para mediator terus berlangsung," kata Baqaei dalam konferensi pers mingguan di Teheran, Senin (12/10/2026).
Baca Juga:
"Kami sedang mengkaji proposal Amerika untuk perundingan. Prasyarat Iran harus dipenuhi dalam setiap perundingan," ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa jalur diplomasi kedua negara masih terbuka. Meski demikian, belum ada kepastian mengenai waktu dimulainya perundingan langsung maupun hasil yang dapat dicapai dari komunikasi tersebut.
Iran juga menyambut dukungan dari negara-negara yang dinilainya bersahabat. Baqaei menyebut Rusia turut memainkan peran konstruktif, khususnya dalam persoalan nuklir Iran.
Dia menyinggung keterlibatan Moskow dalam kesepakatan nuklir 2015 dan menyebut hubungan Iran-Rusia dibangun atas dasar kepercayaan timbal balik.
Meski demikian, Baqaei menegaskan bahwa secara teknis, proses mediasi antara Iran dan AS tetap melibatkan negara-negara seperti Pakistan dan Qatar.
Keterlibatan sejumlah negara ini memperlihatkan bahwa upaya diplomatik tidak hanya berpusat pada Washington dan Teheran. Negara-negara lain turut berupaya menjaga komunikasi agar ketegangan tidak semakin meluas.
Baqaei menilai situasi keamanan di jalur pelayaran strategis tersebut merupakan dampak langsung dari serangan AS dan Israel terhadap Iran. Ia membantah anggapan bahwa langkah Teheran di kawasan itu semata-mata bertujuan memperkuat posisi tawarnya dalam perundingan.
"Apa yang kita saksikan di Selat Hormuz sejak 28 Februari merupakan akibat langsung dari serangan AS dan rezim Israel terhadap Iran," kata Baqaei.
Dia juga memperingatkan bahwa pendekatan Washington saat ini tidak akan memulihkan keamanan di kawasan tersebut.
Pernyataan itu mencerminkan perbedaan pandangan kedua pihak mengenai persoalan keamanan dan jalur menuju penyelesaian konflik.
Namun, penjelasan mengenai penyebab ketegangan tersebut merupakan posisi yang disampaikan pemerintah Iran dan tidak dengan sendirinya mewakili penilaian independen atas seluruh rangkaian konflik.
Selat Hormuz memiliki arti penting bagi perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan itu dapat memengaruhi pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG), sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Menurut Baqaei, respons pasar energi tidak sepenuhnya sejalan dengan klaim Washington mengenai posisi Iran.
Pernyataan itu disampaikan ketika ketegangan di Timur Tengah masih menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan kapal dan kelancaran distribusi energi.
Sejumlah laporan terbaru juga mencatat meningkatnya insiden yang melibatkan kapal tanker di sekitar Selat Hormuz.
Meski demikian, klaim mengenai kekuatan tawar masing-masing pihak masih menjadi bagian dari pertarungan narasi politik.
Perkembangan negosiasi dan situasi keamanan di lapangan akan menjadi faktor penting untuk menilai apakah jalur diplomasi mampu menghasilkan kesepakatan.
Baqaei mengatakan Teheran bersedia membantu memfasilitasi dialog antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman. Iran berharap perselisihan di antara pihak-pihak tersebut dapat diselesaikan melalui jalur diplomasi.
"Kami tidak ingin perang dan permusuhan terus berlanjut antara dua negara Islam," katanya.
Dia menambahkan bahwa konsultasi Iran dengan negara-negara di kawasan masih berlangsung. Teheran, menurut dia, telah berulang kali menawarkan dukungan untuk mendorong dialog dan penyelesaian damai.
Upaya tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan regional yang juga melibatkan Arab Saudi dan kelompok Houthi.
Serangan yang dikaitkan dengan Houthi terhadap sasaran di Arab Saudi menjadi salah satu perkembangan yang menambah tekanan terhadap stabilitas kawasan.
Sejumlah persoalan tetap menjadi perhatian, mulai dari prasyarat yang diajukan Iran, keamanan Selat Hormuz, hingga perbedaan pendekatan terhadap isu nuklir. Perbedaan prioritas tersebut dapat memengaruhi arah dan ruang lingkup perundingan selanjutnya.
Untuk saat ini, Pakistan dan Qatar masih disebut sebagai penghubung utama komunikasi kedua negara.
Perkembangan berikutnya akan bergantung pada hasil kajian Iran terhadap proposal yang diterimanya, respons Washington, serta kesediaan kedua pihak untuk mencari titik temu.
Di tengah situasi yang belum menentu, keberlanjutan jalur diplomasi menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam upaya meredakan ketegangan di Timur Tengah.