Jumat, 02 Oktober 2026

Dikira Cuma Kerja Tradisional, Ternyata Profesi Ini Masih Jadi Sumber Cuan di Sumut

Rizky Aisyah - Jumat, 02 Oktober 2026 16:30 WIB
Dikira Cuma Kerja Tradisional, Ternyata Profesi Ini Masih Jadi Sumber Cuan di Sumut
Seorang penenun mengerjakan kain ulos secara manual dengan alat tenun tradisional. Keterampilan yang diwariskan turun-temurun ini masih menjadi sumber penghasilan sekaligus bagian dari budaya Batak.

Topikseru.com -Di tengah semakin banyaknya anak muda yang memburu pekerjaan kantoran dan profesi digital, sejumlah pekerjaan tradisional di Sumatera Utara ternyata masih bertahan. Bukan sekadar pekerjaan turun-temurun, profesi tersebut tetap menjadi sumber penghasilan bagi sebagian masyarakat.

Menariknya, beberapa pekerjaan ini membutuhkan keterampilan khusus yang tidak bisa dikuasai dalam waktu singkat. Keahlian biasanya dipelajari dari orang tua atau orang-orang yang sudah lebih dulu menekuninya.

Berikut beberapa pekerjaan unik yang masih bisa ditemui di Sumatera Utara.

Baca Juga:

1. Penenun Ulos

Pekerjaan sebagai penenun ulos mungkin sudah tidak asing di Sumut, tetapi profesi ini tetap menarik karena proses pembuatannya membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi.

Di sejumlah wilayah sekitar Danau Toba dan Samosir, menenun ulos masih menjadi mata pencaharian masyarakat. Salah satunya Desa Lumban Suhi-suhi Toruan, Samosir, yang dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil ulos.

Penenun harus mengatur benang satu demi satu menggunakan alat tenun tradisional. Motif dan warna yang dibuat juga memiliki makna tertentu dalam budaya Batak. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mencatat bahwa keterampilan menenun di sejumlah daerah masih diwariskan dari generasi ke generasi.

Di Desa Meat, Kabupaten Toba, misalnya, tradisi martonun ulos bahkan menjadi sumber penghasilan bagi banyak keluarga. Perkembangan pariwisata dan pemasaran digital turut membuka peluang agar produk tenun menjangkau pasar yang lebih luas.

2. Pandai Besi Pembuat Parang

Di tengah maraknya penggunaan alat-alat produksi modern, profesi pandai besi masih bertahan di sejumlah wilayah Sumut.

Di Desa Bandar Khalipah, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang, misalnya, perajin masih membuat parang dengan proses tradisional. Besi dipanaskan, ditempa, dibentuk, kemudian diasah hingga menjadi alat yang siap digunakan.

Salah satu perajin yang diberitakan Mistar telah menekuni pekerjaan tersebut sejak 1983. Usaha seperti ini juga masih melibatkan pekerja lain dan mampu menghasilkan puluhan parang dalam sehari, meski proses produksinya masih mengandalkan peralatan tradisional.

Pekerjaan ini menunjukkan bahwa keterampilan menempa logam masih memiliki pasar, terutama untuk peralatan yang digunakan dalam kegiatan pertanian maupun kebutuhan sehari-hari.

3. Pengrajin Rotan

Rotan juga menjadi salah satu bahan yang sejak lama digunakan dalam kerajinan tradisional Sumatera Utara.

Pekerjaan pengrajin rotan membutuhkan ketelitian sejak proses pemilihan bahan, pembentukan hingga penyelesaian produk. Hasilnya dapat berupa berbagai perabot dan barang kerajinan yang memiliki nilai guna sekaligus nilai jual.

Dokumentasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai pengrajin tradisional di Sumatera Utara juga mencatat kerajinan rotan sebagai salah satu kerajinan yang berkembang di masyarakat. (Repositori Kemendikdasmen)

Di Medan sendiri, aktivitas usaha berbasis kerajinan rotan masih dapat ditemukan, menunjukkan bahwa keterampilan mengolah bahan alam tersebut belum sepenuhnya ditinggalkan.

4. Pengrajin Batu Akik

Batu akik sempat menjadi tren besar di Indonesia. Meski popularitasnya tidak seperti ketika masa booming, pekerjaan mengolah dan membuat perhiasan dari batu tetap dapat ditemukan.

Pengrajin harus memiliki kemampuan memilih bahan, memotong, membentuk, menghaluskan hingga memoles batu agar menghasilkan tampilan yang menarik.

Di Medan, usaha pengrajin batu akik masih tercatat sebagai salah satu jenis usaha kerajinan. Bagi sebagian pelakunya, pekerjaan ini bukan hanya soal mengikuti tren, tetapi juga keterampilan mengolah bahan menjadi produk bernilai jual.

5. Pengrajin Tenun Tradisional

Selain ulos, aktivitas menenun kain tradisional juga menjadi bagian dari pekerjaan yang membutuhkan keterampilan khusus.

Prosesnya tidak sekadar memasukkan benang ke alat tenun. Penenun harus memahami pola, kombinasi warna dan teknik tertentu agar kain yang dihasilkan sesuai dengan desain.

Keterampilan tersebut umumnya diperoleh melalui proses belajar langsung dan diwariskan dalam keluarga atau komunitas. Karena proses pembuatannya dilakukan secara manual, sebuah kain tenun dapat membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk diselesaikan.

Berbagai pekerjaan tersebut memperlihatkan bahwa sumber penghasilan masyarakat tidak selalu berasal dari profesi yang terlihat modern.

Ada keterampilan yang justru memiliki nilai karena keunikannya. Penenun mempertahankan teknik tradisional, pandai besi mengandalkan keahlian menempa, sementara pengrajin mengubah bahan sederhana menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Tantangannya adalah regenerasi. Ketika anak muda semakin banyak memilih pekerjaan di sektor formal dan digital, keterampilan tradisional berisiko semakin sedikit penerusnya.

Padahal, jika dipadukan dengan pemasaran digital, desain yang lebih inovatif dan akses pasar yang lebih luas, pekerjaan tradisional tersebut masih memiliki peluang untuk berkembang.

Bagi generasi muda Sumatera Utara, pekerjaan seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun di baliknya terdapat keterampilan, budaya dan peluang ekonomi yang sudah bertahan selama bertahun-tahun.

Berita Terkait
5 Bangunan Tua Ini Jadi Saksi Perjalanan Kota Medan
Anak Lebih Banyak Diasuh Mertua? Jangan Sampai Pola Asuh Jadi Berbeda
Tinggal Serumah dengan Mertua? 7 Hal Ini Wajib Disepakati Agar Rumah Tangga Tetap Harmonis
Daftar Konser yang Akan Hadir di Medan, Catat Tanggalnya
Dari Medan hingga Nias, Menyusuri Desa-Desa dengan Tradisi Unik di Sumatera Utara
Hidden Gem Kuliner Medan, Tempat Makan Tersembunyi yang Wajib Dicoba