Topikseru.com -Banyak orang tua masih menerima berbagai nasihat tentang perawatan bayi dari keluarga atau lingkungan sekitar. Sebagian memang berasal dari kebiasaan yang sudah dilakukan turun-temurun, tetapi tidak semuanya sesuai dengan rekomendasi kesehatan saat ini.
Mulai dari anggapan bayi harus dibedong agar kakinya lurus hingga kolostrum harus dibuang karena dianggap sebagai ASI yang "kotor". Padahal, beberapa kepercayaan tersebut justru bertentangan dengan informasi medis yang sudah ada.
Berikut tujuh mitos kesehatan bayi yang masih sering terdengar dan fakta di baliknya.
Baca Juga:
1. Kolostrum harus dibuang karena dianggap bukan ASI yang baik
Mitos.
Kolostrum adalah ASI pertama yang keluar setelah persalinan dan biasanya berwarna kekuningan serta memiliki tekstur yang lebih kental. Warna dan bentuknya sering membuat sebagian orang menganggap kolostrum sebagai susu yang belum bagus untuk diberikan kepada bayi.
Padahal, WHO menyebut kolostrum kaya akan faktor pelindung dan merekomendasikan bayi mulai menyusu dalam satu jam pertama setelah lahir agar mendapatkan ASI pertama tersebut.
Jadi, kolostrum bukan sesuatu yang harus dibuang. Justru pemberian ASI sejak awal merupakan bagian penting dalam mendukung kesehatan bayi.
2. Bayi harus diberi air putih agar tidak haus
Mitos.
Bayi berusia di bawah enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif pada umumnya tidak membutuhkan tambahan air putih. WHO merekomendasikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama, yang berarti bayi tidak diberikan makanan atau minuman lain, termasuk air, kecuali ada kebutuhan medis tertentu.
ASI sudah menyediakan cairan dan zat gizi yang dibutuhkan bayi pada periode tersebut.
Setelah berusia sekitar enam bulan, bayi mulai membutuhkan makanan pendamping yang aman dan bergizi sesuai tahap perkembangannya, sementara pemberian ASI tetap dapat dilanjutkan.
3. Bayi harus dibedong supaya kakinya tidak bengkok
Tidak sepenuhnya benar.
Membedong bayi memang dapat digunakan untuk membantu menenangkan bayi, tetapi bedong bukan cara untuk membuat kaki bayi menjadi lurus.
Yang lebih penting adalah cara membedongnya. Bedong yang terlalu ketat, terutama pada bagian kaki dan pinggul, tidak dianjurkan karena bayi membutuhkan ruang untuk menggerakkan kakinya dengan posisi yang aman.
Jadi, jika orang tua memilih membedong bayi, pastikan bagian pinggul dan kaki tidak terikat terlalu ketat.
4. Bayi demam cukup dikompres atau dimandikan agar panasnya turun
Tidak sesederhana itu.
Demam merupakan tanda tubuh sedang merespons suatu kondisi, termasuk infeksi. Ketika bayi terasa panas, orang tua sebaiknya mengukur suhu dengan termometer, bukan hanya mengandalkan sentuhan tangan.
Pada bayi berusia di bawah tiga bulan, suhu 38°C atau lebih perlu mendapat perhatian medis segera karena pada usia tersebut demam dapat menjadi tanda infeksi serius.
Karena itu, jangan hanya mengandalkan kompres atau cara rumahan ketika bayi mengalami demam. Kondisi bayi dan penyebab demam tetap perlu diperhatikan.
5. Bayi baru lahir tidak boleh dimandikan sama sekali
Mitos, tetapi ada anjuran waktunya.
Bayi baru lahir tetap perlu dirawat kebersihannya. Namun, WHO merekomendasikan agar mandi pertama ditunda hingga setidaknya setelah 24 jam kelahiran. Jika hal tersebut tidak memungkinkan karena alasan tertentu, mandi dapat ditunda setidaknya enam jam.
Artinya, bukan berarti bayi tidak boleh mandi. Yang perlu diperhatikan adalah waktu mandi pertama serta kondisi bayi dan lingkungan.
6. Bayi yang sering digendong akan menjadi "bau tangan"
Mitos.
Tidak ada dasar bahwa menggendong bayi akan membuat bayi menjadi ketergantungan hanya karena terlalu sering digendong.
Bayi memang membutuhkan sentuhan dan kedekatan dengan orang yang merawatnya. Menggendong juga dapat menjadi salah satu cara untuk menenangkan bayi ketika menangis.
Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan keselamatan saat menggendong, terutama menopang kepala dan leher bayi yang masih berkembang.
7. Bayi menangis terus berarti kurang ASI
Belum tentu.
Menangis merupakan salah satu cara bayi berkomunikasi. Bayi dapat menangis karena lapar, popok basah, merasa tidak nyaman, lelah, membutuhkan sentuhan, atau karena berbagai alasan lainnya.
Karena itu, tangisan saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa produksi ASI tidak mencukupi.
Orang tua dapat memperhatikan tanda lain, seperti pola menyusu, buang air kecil, kondisi bayi, dan pertumbuhan berat badannya. Jika khawatir bayi tidak mendapatkan cukup ASI, konsultasi dengan tenaga kesehatan atau konselor laktasi dapat membantu.
Jangan Langsung Percaya Semua Nasihat Turun-temurun
Nasihat dari orang tua atau keluarga tentu sering diberikan dengan niat baik. Namun, perkembangan ilmu kesehatan membuat beberapa kebiasaan lama perlu ditinjau kembali.
Dalam merawat bayi, orang tua sebaiknya membedakan antara kebiasaan keluarga dan rekomendasi kesehatan yang didukung bukti. Terutama untuk kondisi seperti demam pada bayi, jangan menunda pemeriksaan hanya karena mengandalkan cara rumahan.
Jika bayi terlihat sakit, sulit menyusu, sangat lemas, mengalami kesulitan bernapas, atau menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan, segera cari bantuan medis.