Minggu, 18 Oktober 2026

Anak Susah Makan? Kenali Penyebab GTM dan Cara Menghadapi Anak Tanpa Memaksa

Rizky Aisyah - Minggu, 18 Oktober 2026 14:36 WIB
Anak Susah Makan? Kenali Penyebab GTM dan Cara Menghadapi Anak Tanpa Memaksa
Stock/ozgurcankayaa
Anak yang menolak makan membutuhkan pendekatan yang tenang dan responsif. Orang tua dapat mencoba jadwal makan teratur, porsi kecil, dan variasi menu tanpa memaksa anak menghabiskan makanan.

Topikseru.com – Anak yang tiba-tiba menolak makanan, mengatupkan mulut saat disuapi, atau hanya mau makan beberapa suap sering membuat orang tua khawatir. Kondisi ini dikenal luas sebagai Gerakan Tutup Mulut (GTM), istilah yang kerap digunakan untuk menggambarkan perilaku anak menolak makan.

Ketika anak susah makan, orang tua mungkin mencoba berbagai cara agar makanan habis, mulai dari mengalihkan perhatian dengan ponsel hingga membujuk anak berkali-kali. Namun, memaksa anak makan justru dapat membuat waktu makan menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa kesulitan makan pada anak dapat berkaitan dengan praktik pemberian makan yang kurang tepat, termasuk jadwal, jumlah, jenis, dan tekstur makanan yang tidak sesuai dengan usia serta kemampuan anak. Karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami penyebabnya sebelum menentukan cara mengatasinya.

Baca Juga:

Apa itu GTM pada anak?

GTM atau Gerakan Tutup Mulut merupakan istilah yang umum digunakan ketika anak menolak makanan. Perilakunya bisa bermacam-macam, misalnya menutup mulut saat sendok mendekat, memalingkan kepala, menangis ketika melihat makanan, atau hanya mau mengonsumsi makanan tertentu.

Penolakan makan sesekali tidak selalu menandakan masalah serius. Nafsu makan anak dapat berubah dari hari ke hari, terutama ketika pertumbuhannya melambat dibandingkan masa bayi atau ketika anak mulai ingin menentukan pilihannya sendiri.

Meski begitu, GTM yang berlangsung terus-menerus perlu diperhatikan. Jika asupan makanan tidak mencukupi dalam jangka panjang, pertumbuhan dan status gizi anak dapat terganggu.

Oleh sebab itu, orang tua perlu melihat pola makan secara keseluruhan, bukan hanya menilai dari satu kali waktu makan.

Apa penyebab anak susah makan?

Ada beberapa faktor yang dapat membuat anak menolak makanan. Penyebabnya tidak selalu sama pada setiap anak.

1. Jadwal makan tidak teratur

Anak yang terlalu sering diberi camilan, susu, atau minuman berkalori di luar jadwal makan mungkin belum merasa lapar ketika makanan utama disajikan.

Sebaliknya, jeda makan yang terlalu panjang juga bisa membuat anak terlalu lelah atau rewel ketika waktunya makan.

Jadwal makanan utama dan camilan yang teratur membantu anak mengenali pola makan sehari-hari. Orang tua juga dapat memperhatikan apakah anak sudah cukup lapar saat makanan disajikan.

2. Tekstur makanan tidak sesuai usia

Anak membutuhkan penyesuaian tekstur makanan seiring bertambahnya usia dan kemampuan mengunyah. Makanan yang terlalu kasar, terlalu keras, atau sulit ditelan dapat membuat anak menolak makan.

Namun, makanan yang terus-menerus dibuat terlalu halus juga dapat membatasi kesempatan anak belajar menerima tekstur yang lebih beragam.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan agar tekstur dan variasi makanan ditingkatkan secara bertahap sesuai usia serta kemampuan anak. Keamanan makanan tetap penting untuk mencegah tersedak.

3. Anak bosan dengan menu yang sama

Sebagian anak menunjukkan ketertarikan terhadap makanan tertentu, tetapi menolak menu lain. Kondisi ini dapat terjadi ketika anak sedang belajar mengenali rasa, aroma, warna, dan tekstur makanan.

Orang tua dapat mencoba variasi bahan makanan, cara penyajian, atau kombinasi menu tanpa langsung mengganti semua makanan yang ditolak dengan camilan manis atau makanan rendah zat gizi.

Makanan baru terkadang perlu ditawarkan berulang kali dalam suasana yang nyaman sebelum anak bersedia mencobanya.

4. Anak sedang tumbuh gigi atau tidak enak badan

Ketika tumbuh gigi, mengalami sariawan, sembelit, infeksi, atau gangguan kesehatan lainnya, anak mungkin merasa tidak nyaman saat makan.

Dalam kondisi sakit, anak bisa mengalami penurunan nafsu makan untuk sementara. Orang tua dapat menawarkan makanan yang sesuai dengan kemampuan dan kenyamanan anak, serta memastikan kebutuhan cairannya terpenuhi.

Jika anak terlihat kesakitan saat menelan, menolak hampir semua makanan dan minuman, atau mengalami gejala lain yang mengkhawatirkan, sebaiknya segera diperiksa tenaga kesehatan.

5. Anak ingin lebih mandiri

Pada usia batita, anak mulai menunjukkan keinginan untuk memilih dan melakukan sesuatu sendiri. Sebagian anak ingin memegang sendok, mengambil makanan dengan tangan, atau menentukan makanan yang ingin dicoba.

Jika orang tua selalu mengambil alih proses makan, anak mungkin menjadi frustrasi atau semakin menolak disuapi.

Selama aman dan sesuai kemampuan usianya, anak dapat diberi kesempatan makan sendiri dengan pengawasan orang dewasa.

6. Suasana makan penuh tekanan

Teriakan, ancaman, memaksa membuka mulut, atau menjadikan makanan sebagai hadiah dapat membuat anak mengaitkan waktu makan dengan pengalaman negatif.

IDAI mengingatkan bahwa pemaksaan dalam proses makan berpotensi menimbulkan trauma dan membuat kesulitan makan semakin berat. Karena itu, pendekatan yang tenang dan responsif lebih dianjurkan.

Cara menghadapi anak GTM tanpa memaksa

Menghadapi anak yang susah makan memang membutuhkan kesabaran. Berikut beberapa langkah yang dapat dicoba orang tua.

1. Buat jadwal makan yang konsisten

Usahakan waktu makan utama dan camilan berlangsung teratur setiap hari. Hindari memberikan camilan terus-menerus di antara jadwal karena anak mungkin belum merasa lapar ketika makanan utama disajikan.

Untuk anak usia 6–23 bulan, WHO merekomendasikan frekuensi makan yang disesuaikan dengan usia, ditambah camilan bergizi sesuai kebutuhan. Anak yang lebih besar membutuhkan penyesuaian berdasarkan usia, aktivitas, dan pola makannya.

2. Sajikan makanan dalam porsi kecil

Porsi yang terlalu besar dapat membuat anak merasa kewalahan. Mulailah dengan jumlah kecil, lalu tawarkan tambahan jika anak masih lapar.

Jangan menjadikan piring kosong sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Perhatikan juga ketertarikan anak terhadap makanan, kemampuan makan, dan pola asupan sepanjang hari.

3. Hindari memaksa anak menghabiskan makanan

Jika anak menutup mulut, memalingkan kepala, atau menunjukkan tanda kenyang, berhentilah sejenak dan perhatikan responsnya.

Orang tua boleh mengajak anak makan dengan lembut, tetapi tidak perlu memasukkan makanan secara paksa. Pendekatan responsive feeding menekankan pentingnya mengenali dan merespons tanda lapar serta kenyang anak.

4. Kurangi gangguan saat makan

Cobalah membiasakan makan di tempat yang sama dengan suasana tenang. Matikan televisi dan jauhkan ponsel agar anak dapat mengenali makanan serta berinteraksi dengan keluarga.

Orang tua juga sebaiknya menghindari mengejar anak dengan sendok ke berbagai ruangan. Waktu makan yang terstruktur dapat membantu anak membangun kebiasaan makan yang lebih baik.

5. Beri kesempatan anak makan sendiri

Sesuaikan alat makan dan bentuk makanan dengan usia serta kemampuan anak. Biarkan anak berlatih mengambil makanan dengan tangan atau menggunakan sendok jika sudah mampu.

Proses belajar makan mungkin membuat meja berantakan, tetapi pengalaman ini membantu anak mengenali makanan dan mengembangkan kemandirian. Tetap awasi anak dan hindari makanan yang berisiko menyebabkan tersedak.

6. Kenalkan makanan baru secara bertahap

Jika anak menolak sayur, ikan, telur, atau makanan tertentu, jangan langsung menyerah. Tawarkan kembali pada kesempatan berbeda dalam jumlah kecil, dengan penyajian yang sesuai usia.

Anak tidak harus langsung menghabiskan makanan baru. Melihat, menyentuh, mencium, atau mencicipinya sedikit demi sedikit dapat menjadi bagian dari proses mengenal makanan.

7. Batasi waktu makan

IDAI menyarankan agar waktu makan tidak berlangsung lebih dari 30 menit. Jika anak tetap menolak makan, hindari memperpanjang sesi dengan membujuk atau memaksanya terus-menerus.

Akhiri makan dengan tenang, lalu lanjutkan rutinitas sesuai jadwal berikutnya. Jangan langsung mengganti makanan yang ditolak dengan camilan yang kurang bergizi setiap kali anak menolak makan.

Kapan anak susah makan perlu diperiksa?

Tidak semua anak yang menolak makan mengalami gangguan gizi. Namun, orang tua sebaiknya tidak mengabaikan kesulitan makan yang menetap atau semakin berat.

Pertimbangkan untuk membawa anak ke dokter atau tenaga kesehatan apabila:

• Berat badan tidak bertambah sesuai pola pertumbuhan atau justru menurun.

• Anak tampak semakin lemas, kurang aktif, atau menunjukkan tanda dehidrasi.

• Anak terus-menerus menolak berbagai jenis makanan sehingga asupannya sangat terbatas.

• Anak sering batuk, tersedak, muntah, atau terlihat kesulitan mengunyah dan menelan saat makan.

• Anak mengalami nyeri saat makan, atau kesulitan makan disertai keluhan kesehatan lain.

• Pertumbuhan atau perkembangan anak menimbulkan kekhawatiran.

Dokter dapat menilai riwayat makan, kondisi kesehatan, serta pertumbuhan anak melalui pengukuran berat badan dan panjang atau tinggi badan. Pemeriksaan mulut, kemampuan mengunyah dan menelan, serta faktor lain juga dapat diperlukan sesuai keluhan.

Jika diperlukan, orang tua dapat memperoleh bantuan dari dokter anak, ahli gizi, atau tenaga profesional lain yang sesuai dengan penyebab masalahnya. Jangan langsung memberikan obat penambah nafsu makan atau suplemen tanpa saran tenaga kesehatan.

Kesalahan yang sebaiknya dihindari saat anak GTM

Ada beberapa kebiasaan yang sebaiknya dikurangi ketika anak menolak makanan.

Pertama, memaksa anak membuka mulut atau menghabiskan semua makanan. Cara ini dapat membuat waktu makan semakin menegangkan.

Kedua, selalu memberikan ponsel atau video agar anak mau disuapi. Anak mungkin makan sambil terdistraksi tanpa benar-benar memperhatikan rasa kenyang.

Ketiga, mengganti setiap makanan yang ditolak dengan camilan manis atau minuman yang mengenyangkan. Kebiasaan ini berpotensi mengurangi kesempatan anak mengonsumsi makanan utama yang bergizi.

Keempat, membandingkan porsi makan anak dengan anak lain. Kebutuhan makan dan perkembangan setiap anak berbeda.

Terakhir, menganggap semua GTM sebagai fase biasa. Jika masalah berlangsung lama, pola pertumbuhan terganggu, atau anak mengalami kesulitan mengunyah maupun menelan, evaluasi profesional diperlukan.

Anak susah makan atau GTM dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari jadwal makan yang tidak teratur, tekstur makanan yang kurang sesuai, kondisi kesehatan, hingga suasana makan yang penuh tekanan.

Orang tua dapat membantu dengan membangun jadwal makan konsisten, memberikan porsi kecil, mengenalkan variasi makanan secara bertahap, dan merespons tanda lapar serta kenyang tanpa memaksa.

Meski begitu, GTM yang menetap tidak boleh dianggap sepele, terutama jika disertai penurunan berat badan, gangguan pertumbuhan, atau kesulitan mengunyah dan menelan. Jika muncul tanda tersebut, konsultasikan kondisi anak kepada tenaga kesehatan agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
Perlukah Minum Vitamin Setiap Hari? Kenali Manfaat, Risiko, dan Siapa yang Membutuhkannya
Berlliana Lovell Singgung Permintaan Maaf Amat Jelangskuy, Ada Apa Sebenarnya?
BPS Catat Pengangguran Medan 7,99 Persen, Persaingan Kerja Jadi Sorotan
Medan Produksi 1.600 Ton Sampah per Hari, 1.300 Ton Ditargetkan Diolah Jadi Listrik
Tak Ada yang Menyangka! Yadi Timo Sempat Bercanda Sebelum Tutup Usia
Ngeri! Ribuan Kasus Narkoba dan Ratusan Pencurian Terungkap di Sumut Sepanjang 2026