Minggu, 25 Oktober 2026

Kuliner Khas Medan yang Mulai Jarang Ditemukan, Masih Ingat Kuliner Ini?

Rizky Aisyah - Minggu, 25 Oktober 2026 10:58 WIB
Kuliner Khas Medan yang Mulai Jarang Ditemukan, Masih Ingat Kuliner Ini?
Ilustrasi AI
Medan punya beragam kuliner tradisional yang menyimpan cita rasa dan cerita tersendiri. Dari ombus-ombus hingga anyang pakis, mana yang masih kamu ingat atau rindukan sampai sekarang?

Topikseru.com - Medan dikenal sebagai surga kuliner dengan beragam makanan bercita rasa gurih, pedas, dan kaya rempah. Namun, di balik popularitas lontong Medan dan soto Medan, ada sejumlah makanan tradisional Sumatera Utara yang tidak lagi mudah dijumpai dalam keseharian masyarakat.

Sebagian makanan tersebut dahulu akrab dengan kehidupan keluarga, termasuk sebagai menu sarapan atau teman minum kopi pada pagi hari. Kini, beberapa di antaranya lebih sering dijumpai pada kesempatan tertentu, di pasar tradisional, atau melalui penjual yang masih mempertahankan resep turun-temurun.

Perubahan kebiasaan makan, ketersediaan bahan baku, dan berkurangnya penerus resep tradisional menjadi sejumlah tantangan bagi keberlangsungan kuliner lokal.

Baca Juga:

Lantas, apa saja makanan tradisional yang layak dikenang kembali?

1. Ombus-ombus, Kue Tradisional yang Pernah Menjadi Teman Sarapan

Ombus-ombus merupakan kue tradisional yang dikenal dalam budaya Batak, khususnya di kawasan Siborongborong, Tapanuli Utara. Kue ini dibuat dari tepung beras atau tepung beras ketan dengan gula di bagian tengahnya, kemudian dibungkus menggunakan daun dan dikukus.

Rasanya cenderung manis dengan aroma khas daun pembungkus. Ombus-ombus dapat dinikmati sebagai camilan pagi, teman minum teh, maupun pelengkap saat berkumpul bersama keluarga.

Salah satu hal yang membuat kue ini menarik adalah kesederhanaan bahan dan proses pembuatannya. Namun, laporan mengenai pengalaman warga Medan menunjukkan bahwa ombus-ombus kini tidak semudah dahulu ditemukan di sejumlah warung kue dan pasar.

Meski demikian, makanan ini masih dikenal dan dibuat di daerah asalnya maupun pada kesempatan tertentu. Karena itu, ombus-ombus lebih tepat disebut mulai sulit ditemukan di beberapa tempat, bukan telah menghilang sepenuhnya.

2. Pakkat, Kuliner Rotan Muda dengan Cita Rasa Khas

Pakkat merupakan makanan tradisional yang menggunakan bagian pucuk rotan muda sebagai bahan utama. Kuliner ini dikenal di sejumlah masyarakat Sumatera Utara, termasuk masyarakat Mandailing dan kawasan sekitarnya.

Bagian rotan yang digunakan diolah terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Pakkat umumnya memiliki rasa pahit yang khas sehingga pengalaman menyantapnya berbeda dari sayuran yang biasa ditemukan di rumah makan.

Bagi sebagian masyarakat, pakkat bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari kebiasaan kuliner yang diwariskan antargenerasi.

Ketersediaan bahan dan proses pengolahan menjadi faktor yang memengaruhi keberadaan makanan tradisional seperti ini. Pengenalan kembali pakkat dapat menjadi cara untuk memperluas pengetahuan generasi muda mengenai keragaman pangan lokal Sumatera Utara.

3. Anyang Pakis, Olahan Pakis dengan Kelapa Sangrai

Anyang pakis merupakan hidangan tradisional masyarakat Melayu Sumatera Utara yang menggunakan daun pakis muda sebagai bahan utama.

Sayuran ini dipadukan dengan kelapa sangrai dan aneka bumbu sehingga menghasilkan perpaduan rasa gurih, segar, dan sedikit pedas. Anyang pakis dapat disajikan sebagai pendamping nasi dan lauk.

Hidangan ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat setempat mengolah bahan yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi makanan dengan karakter rasa tersendiri.

Sejumlah tulisan mengenai kuliner tradisional Sumatera Utara menyebutkan bahwa anyang pakis semakin sulit dijumpai di beberapa tempat, meskipun masih dikenal di wilayah tertentu.

Keberadaannya menarik untuk ditelusuri lebih jauh, terutama melalui pasar tradisional, penjual makanan Melayu, dan keluarga yang masih mempertahankan resep lama.

4. Halua, Manisan Tradisional yang Menyimpan Cerita

Halua merupakan sebutan untuk jenis manisan tradisional yang dikenal dalam sejumlah tradisi kuliner Sumatera Utara, termasuk masyarakat Melayu.

Bahan yang digunakan dapat beragam, bergantung pada jenis dan resep daerahnya. Buah atau bahan pangan tertentu diolah bersama gula melalui proses yang membutuhkan ketelatenan.

Halua tidak selalu dikonsumsi sebagai sarapan utama. Namun, makanan ini dapat menjadi teman minum teh atau kopi pada pagi hari, sekaligus pelengkap sajian dalam acara keluarga dan perayaan tertentu.

Keberadaan halua menarik untuk dibahas karena makanan tradisional tidak hanya berkaitan dengan rasa, tetapi juga dengan kebiasaan menyajikan hidangan dalam kehidupan sosial masyarakat.

5. Paniaram, Jajanan Tradisional yang Patut Dikenalkan Kembali

Paniaram merupakan salah satu jajanan tradisional yang dikenal dalam khazanah kuliner Melayu Sumatera Utara.

Bentuk, bahan, dan penyebutannya dapat berbeda menurut daerah serta tradisi keluarga. Seperti jajanan tradisional lainnya, keberlangsungannya turut bergantung pada keberadaan pembuat yang menguasai resep dan teknik pengolahan.

Di tengah maraknya roti modern, kue kemasan, dan aneka camilan kekinian, makanan tradisional seperti paniaram layak mendapat perhatian lebih.

Mendokumentasikan resep, mengenalkan sejarahnya, serta memberi ruang kepada pelaku usaha kecil dapat membantu menjaga keberadaan jajanan ini agar tetap dikenal generasi berikutnya.

Mengapa Kuliner Tradisional Bisa Semakin Sulit Ditemukan?

Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi keberlangsungan makanan tradisional.

Pertama, perubahan kebiasaan masyarakat. Pilihan makanan praktis dan produk modern membuat sebagian jajanan tradisional tidak lagi menjadi pilihan sehari-hari.

Kedua, proses pembuatan yang membutuhkan waktu dan keterampilan khusus. Tidak semua resep mudah diproduksi dalam jumlah besar atau dijadikan usaha yang menguntungkan.

Ketiga, ketersediaan bahan baku. Beberapa makanan mengandalkan tanaman, hasil kebun, atau bahan lokal yang tidak selalu tersedia di setiap wilayah.

Keempat, regenerasi pembuat. Ketika resep hanya diwariskan secara lisan dan tidak diteruskan kepada generasi muda, pengetahuan mengenai cara pengolahan makanan tersebut berisiko hilang.

Namun, kondisi setiap makanan berbeda. Ada yang memang mulai sulit ditemukan di kota tertentu, tetapi masih mudah dijumpai di daerah asalnya atau pada acara adat.

Menjaga Warisan Kuliner Sumatera Utara

Kuliner tradisional merupakan bagian dari identitas dan perjalanan budaya masyarakat. Mengenalkan kembali makanan lama tidak harus dilakukan melalui festival besar. Dokumentasi resep keluarga, promosi pedagang lokal, dan konten digital juga dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga keberadaannya.

Bagi masyarakat, mencari dan mencicipi kembali makanan tradisional juga bisa menjadi cara untuk mengenal sejarah keluarga serta keragaman budaya di Sumatera Utara.

Di antara ombus-ombus, pakkat, anyang pakis, halua, dan paniaram, mungkin ada makanan yang mengingatkan seseorang pada masa kecil atau kampung halaman.

Kalau kamu tumbuh besar di Medan atau Sumatera Utara, makanan tradisional apa yang paling kamu rindukan dan kini mulai sulit ditemukan? Cerita pembaca bisa menjadi pintu untuk mengenalkan kembali kekayaan kuliner daerah kepada generasi berikutnya.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
Mengenal Kidu-Kidu, Kuliner Khas Karo yang Tidak Semua Orang Berani Mencobanya
GMPET-SU Desak KPK Terbitkan Sprindik Baru Kasus Korupsi Jalan Sumut dan DJKA
Bukan Sekadar Menyirih, Tradisi Menyuntil Masyarakat Karo Simpan Makna Kebersamaan dan Warisan Leluhur
ISPU Medan Johor Tembus 122, Kelompok Ini Perlu Lebih Waspada terhadap Kabut Asap
Bukan Cuma Danau Toba! 5 Destinasi Unik di Sumut yang Punya Fenomena Alam Bikin Penasaran
ASN Dilarang Menggunakan Vape? Ini Alasan dan Dampak Aturan yang Jadi Sorotan