Minggu, 18 Oktober 2026

Kabut Asap Bikin Batuk dan Sesak? Kenali Gejala Gangguan Pernapasan yang Perlu Diwaspadai

Rizky Aisyah - Minggu, 18 Oktober 2026 15:37 WIB
Kabut Asap Bikin Batuk dan Sesak? Kenali Gejala Gangguan Pernapasan yang Perlu Diwaspadai
Klikdokter
Kabut asap dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu batuk hingga sesak napas. Kurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk.

Topikseru.com – Kabut asap bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Paparan asap kebakaran hutan dan lahan dapat memicu iritasi saluran pernapasan, menyebabkan batuk, tenggorokan terasa kering, hingga sesak napas. Kondisi ini perlu diwaspadai, terutama ketika kualitas udara memburuk dan masyarakat harus beraktivitas di tengah paparan polusi.

Asap mengandung campuran gas dan partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Partikel berukuran sangat kecil bahkan dapat mencapai bagian dalam paru-paru dan memicu peradangan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa paparan polusi udara berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan, termasuk penyakit pernapasan.

Lantas, apa saja gejala gangguan pernapasan akibat kabut asap yang perlu diwaspadai? Berikut penjelasannya.

Baca Juga:

1. Batuk yang Muncul Berulang

Batuk merupakan salah satu reaksi tubuh ketika saluran pernapasan mengalami iritasi. Saat terpapar kabut asap, seseorang dapat mengalami batuk kering atau batuk berdahak.

Keluhan bisa muncul selama atau setelah berada di lingkungan dengan kualitas udara buruk. Jika batuk terus berulang, semakin parah, atau tidak kunjung membaik meski paparan asap sudah dikurangi, sebaiknya periksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Batuk tidak selalu disebabkan oleh kabut asap. Infeksi saluran pernapasan dan kondisi kesehatan lain juga dapat menimbulkan keluhan serupa.

2. Sesak Napas atau Sulit Bernapas

Sesak napas merupakan gejala yang tidak boleh diabaikan. Paparan asap dapat membuat seseorang merasa kesulitan mengambil napas, terutama jika memiliki asma atau penyakit paru kronis.

Jika sesak terasa berat, muncul mendadak, atau disertai nyeri dada, segera cari pertolongan medis darurat. Jangan menunggu gejala hilang dengan sendirinya.

Pada orang yang sudah memiliki gangguan pernapasan, kabut asap juga dapat memperburuk kondisi yang sebelumnya terkendali.

3. Napas Berbunyi Mengi

Mengi adalah bunyi seperti siulan ketika bernapas. Gejala ini dapat terjadi ketika saluran pernapasan menyempit, misalnya saat asma kambuh.

Paparan asap dapat memicu atau memperburuk mengi pada orang yang rentan. Jika napas berbunyi disertai sesak, dada terasa berat, atau kesulitan berbicara karena kehabisan napas, segera dapatkan pertolongan medis.

Orang yang memiliki asma sebaiknya mengikuti rencana penanganan dari dokter dan menggunakan obat sesuai petunjuk yang diberikan.

4. Tenggorokan Terasa Kering dan Perih

Tenggorokan yang terasa gatal, kering, atau perih bisa menjadi tanda iritasi akibat paparan asap. Sebagian orang juga mengalami rasa tidak nyaman saat menelan atau terdorong untuk terus berdeham.

Untuk mengurangi paparan, batasi kegiatan di luar ruangan ketika kualitas udara buruk dan hindari sumber iritasi lain, seperti asap rokok. Minum air yang cukup dapat membantu menjaga kenyamanan tenggorokan, tetapi tidak menghilangkan partikel asap yang sudah terhirup.

Jika keluhan semakin berat atau disertai gangguan pernapasan, segera periksakan diri.

5. Hidung Berair dan Mata Perih

Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan di paru-paru. Mata dapat terasa perih, merah, atau berair, sedangkan hidung bisa berair dan terasa teriritasi.

Keluhan ini terjadi karena asap mengiritasi selaput lendir pada mata, hidung, dan tenggorokan. Jika mata terpapar asap, hindari menggosoknya karena dapat memperburuk iritasi.

Kurangi paparan dengan berada di dalam ruangan yang udaranya lebih bersih. Jika mata terasa sangat sakit, penglihatan terganggu, atau gejala tidak membaik, mintalah pemeriksaan medis.

6. Mudah Lelah dan Sakit Kepala

Paparan asap juga dapat disertai sakit kepala, tubuh terasa lelah, dan berkurangnya kenyamanan saat beraktivitas.

Meski demikian, keluhan tersebut tidak secara khusus menunjukkan gangguan pernapasan akibat kabut asap. Sakit kepala dan kelelahan dapat disebabkan oleh berbagai kondisi lain, sehingga perlu mempertimbangkan gejala yang menyertai dan tingkat keparahannya.

Jika keluhan muncul bersamaan dengan sesak napas, nyeri dada, atau kondisi tubuh yang memburuk, segera cari bantuan medis.

Siapa yang Lebih Rentan Terkena Dampak Kabut Asap?

Semua orang dapat mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap. Namun, sejumlah kelompok perlu mendapatkan perhatian lebih karena berisiko mengalami gejala yang lebih berat.

Kelompok tersebut meliputi:

• Bayi dan anak-anak, karena sistem pernapasannya masih berkembang.

• Ibu hamil, yang perlu mengurangi paparan polusi udara.

• Lansia, yang dapat memiliki kerentanan kesehatan lebih tinggi.

• Penderita asma dan penyakit paru kronis, karena asap dapat memicu kekambuhan.

• Orang dengan penyakit jantung atau kondisi kronis tertentu, yang berisiko mengalami dampak kesehatan lebih serius.

Karena itu, ketika kualitas udara memburuk, kelompok rentan sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan dan lebih memperhatikan munculnya gejala.

Cara Melindungi Diri dari Kabut Asap

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan asap dan menjaga kesehatan saluran pernapasan.

1. Batasi aktivitas di luar ruangan

Jika kualitas udara sedang buruk, kurangi olahraga, pekerjaan berat, dan kegiatan lain di luar rumah. Ikuti informasi kualitas udara serta imbauan dari otoritas setempat.

2. Jaga udara di dalam rumah

Tutup pintu dan jendela ketika udara luar tercemar. Jika tersedia, gunakan alat penyaring udara yang sesuai dan pastikan sirkulasi udara tidak justru memasukkan lebih banyak asap ke dalam ruangan.

3. Gunakan masker yang sesuai

Jika harus keluar rumah, gunakan respirator yang mampu menyaring partikel halus, seperti N95, dengan ukuran dan pemasangan yang tepat. Masker kain biasa dan masker bedah tidak memberikan perlindungan setara terhadap partikel halus dari asap.

4. Hindari sumber polusi tambahan

Jangan merokok di dalam rumah. Kurangi kegiatan yang menghasilkan asap, seperti membakar sampah, serta memasak dengan cara yang menambah polusi udara di dalam ruangan.

5. Perhatikan kondisi anak dan anggota keluarga yang rentan

Usahakan bayi dan anak-anak tetap berada di lingkungan dengan udara yang lebih bersih. Segera cari bantuan medis jika anak mengalami kesulitan bernapas, tampak sangat lemas, atau tidak mau makan dan minum.

6. Jangan mengabaikan obat yang diresepkan

Bagi penderita asma atau penyakit paru kronis, gunakan obat sesuai petunjuk dokter. Jangan mengubah dosis atau mengonsumsi antibiotik maupun obat lain tanpa anjuran tenaga kesehatan.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Tidak semua keluhan setelah terpapar kabut asap merupakan kondisi darurat. Namun, beberapa tanda memerlukan pertolongan segera, antara lain:

• Sesak napas berat atau semakin memburuk.

• Nyeri atau tekanan pada dada.

• Kesulitan berbicara akibat sesak.

• Bibir tampak kebiruan atau terjadi penurunan kesadaran.

• Anak mengalami kesulitan bernapas, sangat mengantuk atau lemas, maupun tidak mampu makan dan minum dengan baik.

Jika tanda darurat muncul, segera menuju instalasi gawat darurat atau hubungi layanan kegawatdaruratan setempat. Untuk batuk yang tidak kunjung berhenti, sesak ringan yang menetap, atau keluhan lain yang tidak membaik setelah paparan dikurangi, periksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Jangan menunda pertolongan hanya karena gejala dianggap sebagai batuk biasa.

Kabut asap dapat memicu batuk, iritasi tenggorokan, hidung berair, mengi, hingga sesak napas. Dampaknya bisa lebih serius pada bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang yang memiliki penyakit paru atau jantung.

Mengurangi paparan asap merupakan langkah penting untuk melindungi kesehatan. Pantau kualitas udara, batasi aktivitas di luar ruangan saat polusi meningkat, dan segera cari pertolongan medis apabila muncul gejala berat atau keluhan yang tidak membaik.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
Medan Terapkan PJJ hingga 21 Oktober, Apa yang Perlu Disiapkan Orang Tua?
Rumah Ikut Dipenuhi Asap? Ini Cara Mengurangi Polusi Udara di Dalam Ruangan
Susu Bisa Menetralkan Racun Kabut Asap? Ini Penjelasan Medisnya
9 Cara Menjaga Kesehatan saat Kabut Asap Menyelimuti Permukiman
Waspada! Ini 8 Gejala Tubuh Terpapar Kabut Asap yang Tak Boleh Diabaikan
8 Penyakit Akibat Kabut Asap Karhutla yang Perlu Diwaspadai, dari ISPA hingga Gangguan Jantung