Sabtu, 24 Oktober 2026

ISPU Medan Johor Tembus 122, Kelompok Ini Perlu Lebih Waspada terhadap Kabut Asap

Rizky Aisyah - Sabtu, 24 Oktober 2026 20:37 WIB
ISPU Medan Johor Tembus 122, Kelompok Ini Perlu Lebih Waspada terhadap Kabut Asap
AI
Ilustrasi seorang anak mengenakan masker di tengah kabut asap sebagai gambaran pentingnya perlindungan anak dari paparan polusi udara.

Topikseru.com - Kualitas udara di kawasan Medan Johor, Kota Medan, kembali menjadi perhatian setelah Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tercatat mencapai 122 pada Jumat, 23 Oktober 2026 pukul 08.00 WIB. Angka tersebut masuk kategori Tidak Sehat, sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap.

Berdasarkan pemantauan stasiun Air Quality Monitoring System (AQMS) di Jalan Jenderal Besar A.H. Nasution, Medan Johor, kondisi udara berada pada zona kuning. Sementara itu, stasiun pemantau di Jalan Pinang Baris, Medan Sunggal, mencatat ISPU 84 atau kategori Sedang, sedangkan kawasan Rusunawa di Jalan Kayu Putih, Medan Deli, mencatat ISPU 22 atau kategori Baik.

Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara di Kota Medan dapat berubah menurut lokasi dan waktu pemantauan. Karena itu, warga sebaiknya tidak hanya mengandalkan kondisi langit yang terlihat cerah untuk menentukan apakah udara aman bagi kesehatan.

Baca Juga:

Anak-anak hingga lansia termasuk kelompok rentan

Kabut asap mengandung partikel pencemar yang dapat mengganggu saluran pernapasan. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah PM2,5, yaitu partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru.

Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa kelompok yang memerlukan perlindungan ekstra saat terjadi kabut asap meliputi bayi dan balita, anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang yang memiliki penyakit kronis, terutama asma dan gangguan jantung atau paru-paru. Pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan juga berisiko mengalami paparan lebih lama.

Pada kelompok tersebut, paparan polusi dapat memicu atau memperburuk keluhan kesehatan. Dampaknya bisa berupa iritasi mata, batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, hingga sesak napas.

Meski demikian, bukan berarti orang yang sehat sepenuhnya terbebas dari risiko. Paparan asap tetap perlu dikurangi, terutama ketika kualitas udara berada pada kategori Tidak Sehat.

Kenali gejala akibat paparan kabut asap

Masyarakat perlu memperhatikan perubahan kondisi tubuh selama kabut asap masih menyelimuti wilayahnya. Beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain:

• Mata terasa perih, merah, atau berair.

• Hidung dan tenggorokan mengalami iritasi.

• Batuk atau napas terasa tidak nyaman.

• Sesak napas atau mengi, terutama pada orang dengan riwayat asma.

• Keluhan penyakit pernapasan atau jantung yang sudah ada menjadi lebih berat.

Jika keluhan muncul atau memburuk, terutama sesak napas, segera cari pertolongan medis. Orang dengan penyakit kronis sebaiknya mengikuti arahan tenaga kesehatan terkait pengelolaan kondisinya selama kualitas udara menurun.

Cara melindungi diri saat kualitas udara memburuk

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi paparan kabut asap.

1. Batasi aktivitas di luar rumah

Kurangi kegiatan di luar ruangan yang tidak mendesak, khususnya bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis. Aktivitas fisik berat di luar ruangan sebaiknya dihindari ketika kualitas udara memburuk.

2. Jaga udara di dalam rumah

Tutup jendela dan pintu ketika asap masuk ke lingkungan sekitar. Jika tersedia, gunakan penyaring udara yang sesuai dan hindari sumber polusi tambahan di dalam rumah, seperti asap rokok.

3. Gunakan masker yang sesuai jika harus keluar

Jika harus beraktivitas di luar saat udara tercemar, gunakan masker respirator seperti N95 yang terpasang rapat di wajah apabila tersedia dan sesuai. Masker tidak menghilangkan seluruh risiko paparan, sehingga pembatasan aktivitas di luar tetap penting.

4. Lindungi anak-anak

Orang tua sebaiknya membatasi waktu bermain anak di luar rumah ketika kualitas udara tidak sehat. Aktivitas dapat dialihkan ke dalam ruangan yang bersih dan memiliki sirkulasi udara yang dikelola dengan baik.

5. Pantau informasi kualitas udara

Periksa pembaruan ISPU sebelum bepergian atau merencanakan kegiatan luar ruangan. Data pemantauan kualitas udara Kota Medan dapat diakses melalui situs resmi ISPU Kementerian Lingkungan Hidup.

Jangan menunggu sampai keluhan semakin berat

Angka ISPU 122 di Medan Johor menjadi pengingat bahwa paparan kabut asap perlu ditanggapi dengan serius, terutama oleh kelompok rentan. Kondisi udara dapat berbeda antarwilayah dan berubah dari waktu ke waktu, sehingga masyarakat perlu memperhatikan pembaruan data serta gejala yang dirasakan.

Mengurangi aktivitas di luar ruangan, menjaga kualitas udara dalam rumah, dan segera memeriksakan diri ketika mengalami gangguan pernapasan merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko kesehatan selama kabut asap berlangsung.

Sumber: Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan, Kementerian Kesehatan RI, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
Kasus ISPA di Medan Meledak! Naik 40,6 Persen dalam Sebulan, Tembus 45 Ribu
2.458 Penerbangan Terdampak Kabut Asap Karhutla, Gangguan Meluas ke Sejumlah Wilayah
Kabut Asap Bikin Batuk dan Sesak? Kenali Gejala Gangguan Pernapasan yang Perlu Diwaspadai
Medan Terapkan PJJ hingga 21 Oktober, Apa yang Perlu Disiapkan Orang Tua?
Rumah Ikut Dipenuhi Asap? Ini Cara Mengurangi Polusi Udara di Dalam Ruangan
Susu Bisa Menetralkan Racun Kabut Asap? Ini Penjelasan Medisnya