Topikseru.com - Kepergian Guruh Soekarnoputra menyisakan sejumlah kenangan bagi orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya. Salah satunya datang dari Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mengingat kembali pertemuannya dengan Guruh dalam sebuah pameran lukisan.
SBY mengenang momen ketika dirinya dan Guruh sama-sama menyumbangkan lukisan dalam sebuah pameran sekitar dua tahun lalu.
Bagi SBY, pertemuan tersebut bukan sekadar berada dalam satu acara seni. Ia melihat Guruh sebagai sosok yang memiliki kemampuan kuat dalam mengolah karya seni, termasuk melalui lukisan.
Baca Juga:
"Beliau seorang realis dengan karyanya yang luar biasa. Saya juga belajar menjadi realis impresionis," ujar SBY saat ditemui di tempat persemayaman Guruh di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Kala itu, keduanya menyumbangkan masing-masing lukisan dengan corak yang disebut SBY memiliki kemiripan dengan aliran realisme.
SBY mengatakan dirinya sempat berbincang santai dengan Guruh dalam kesempatan tersebut. Meski keduanya tidak sering bertemu, hubungan silaturahmi tetap terjaga.
Bagi SBY, seni menjadi salah satu ruang yang mempertemukan dirinya dengan adik Megawati Soekarnoputri tersebut.
Tidak banyak orang mengetahui bahwa selain dikenal sebagai pencipta lagu dan penggagas pertunjukan kolosal, Guruh Soekarnoputra juga menekuni seni lukis.
Saat masih menjabat sebagai Presiden RI, SBY pernah mengundang Guruh Soekarnoputra ke Istana Negara.
Pertemuan itu digunakan keduanya untuk bertukar pikiran mengenai Indonesia. Namun, pembicaraan mereka bukan berfokus pada politik praktis.
Justru, seni dan kebudayaan menjadi topik utama.
"Bukan di bidang politik, tetapi apa yang bisa dilakukan bangsa ini melalui pendekatan budaya, pendekatan seni. Sangat-sangat menarik," kata SBY mengenang perbincangan tersebut.
Percakapan itu menggambarkan sisi lain hubungan dua tokoh yang sama-sama memiliki perhatian terhadap seni, meski latar belakang mereka berbeda.
SBY dikenal juga menekuni seni lukis, sementara Guruh membangun perjalanan panjang melalui musik, tari, koreografi dan pertunjukan budaya.
Menurut SBY, posisi Guruh tidak hanya dapat dilihat dari hubungan keluarganya dengan Soekarno.
Guruh, kata dia, telah meninggalkan kontribusi melalui karya yang dibuat selama puluhan tahun.
Sumbangsih tersebut hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari lagu, pagelaran seni hingga lukisan.
"Selain sebagai putra Presiden pertama RI, Guruh telah melakukan banyak hal baik untuk Indonesia," ujar SBY, sebagaimana dikutip dari laporan ANTARA.
Penilaian tersebut sekaligus menggambarkan luasnya bidang yang pernah digeluti Guruh sepanjang hidupnya.
Dia tidak hanya dikenal sebagai anggota keluarga Presiden Soekarno, tetapi juga memiliki rekam jejak sendiri di dunia seni dan politik.
Guruh Soekarnoputra lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953. Ia merupakan putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati serta adik dari Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri.
Sejak kecil, Guruh telah mendapatkan pendidikan seni, termasuk tari. Ketertarikannya kemudian berkembang ke dunia musik dan seni pertunjukan.
Dalam perjalanan kariernya, Guruh mendirikan sejumlah kelompok kesenian, termasuk Gencar Semarak Perkasa (GSP) Production dan Swara Mahardhika.
Dia juga terlibat dalam proyek musik Guruh Gipsy dan Gank Pegangsaan bersama sejumlah musisi, di antaranya Keenan Nasution, Abadi Soesman dan Chrisye.
Guruh kemudian memperluas perannya ke dunia politik dan menjadi anggota DPR RI.
Dia tercatat duduk sebagai anggota DPR pada periode 1992-1997 serta 1999-2024.
Salah satu proyek yang dikenal luas adalah Guruh Gipsy, yang mempertemukan Guruh dengan sejumlah musisi besar Indonesia.
Selain mengembangkan kelompok musik, Guruh juga menciptakan sejumlah lagu yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat.
Salah satunya adalah "Kala Sang Surya Tenggelam", yang semakin dikenal setelah dipopulerkan oleh Chrisye.
Karya tersebut menjadi bagian dari jejak Guruh dalam industri musik Indonesia yang berlangsung selama puluhan tahun.
Keduanya pernah mendiskusikan kemungkinan kontribusi yang dapat diberikan kepada Indonesia melalui pendekatan budaya, bukan melalui politik.
Gagasan tersebut sejalan dengan perjalanan Guruh yang banyak menggunakan seni sebagai medium untuk membawa identitas Indonesia ke panggung pertunjukan.
Mulai dari musik, tari, koreografi, pagelaran kolosal hingga lukisan, aktivitas Guruh memperlihatkan luasnya bidang kesenian yang ia tekuni.
Di sisi lain, keterlibatannya di parlemen membuat isu kebudayaan juga menjadi bagian dari perjalanan publiknya.
Ia berharap almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.
"Sungguh peran yang tidak boleh kita lupakan. Hari ini, kita mesti mengucapkan selamat jalan kepada Mas Guruh," kata SBY.
SBY kemudian mendoakan agar Allah SWT menerima seluruh amal Guruh dan memberikan ketenangan kepadanya.
Pesan tersebut disampaikan SBY ketika berada di tempat persemayaman Guruh pada Sabtu.
Guruh wafat dalam usia 73 tahun. Kabar tersebut sebelumnya dikonfirmasi Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.
Jenazah Guruh kemudian disemayamkan di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sebelum menjalani prosesi pemakaman.
Rencana pemakaman Guruh juga dikaitkan dengan makam ibunya, Fatmawati, di TPU Karet Bivak, Jakarta.
Kepergian Guruh menutup perjalanan panjang seorang seniman yang selama puluhan tahun berkarya melalui musik, tari dan berbagai bentuk seni pertunjukan.
Namun, bagi SBY, salah satu kenangan yang tersisa justru berasal dari ruang yang lebih personal: sebuah pameran lukisan, dua kanvas yang disumbangkan, serta percakapan tentang bagaimana seni dan budaya dapat menjadi bagian dari perjalanan Indonesia.