Dalam pengujian, cabai yang mendapatkan perlakuan tersebut masih mampu mempertahankan kesegaran dan warna merah hingga hari ke-15.
Kemampuan tersebut menjadi penting karena perubahan warna, penurunan kesegaran, dan pembusukan merupakan sejumlah indikator yang dapat memengaruhi penerimaan konsumen serta nilai jual cabai.
Baca Juga:
Meski demikian, hasil penelitian ini masih berada pada tahap pengembangan dan pengujian laboratorium sehingga diperlukan penelitian lanjutan sebelum teknologi dapat diterapkan secara luas pada rantai pasok cabai.

Bagi tim peneliti, nilai penting inovasi ini bukan hanya terletak pada kemampuannya membantu menjaga kualitas cabai pascapanen.
Bahan yang digunakan juga berasal dari limbah yang relatif mudah ditemukan di sektor agroindustri Sumatera Utara.
Tandan kosong kelapa sawit dan kulit rambutan yang sebelumnya memiliki nilai guna terbatas dikembangkan menjadi bagian dari teknologi kemasan aktif.
Pendekatan tersebut membuka peluang pemanfaatan biomassa lokal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap material kemasan konvensional.
Terutama ketika kondisi cuaca ekstrem mengganggu proses distribusi dan penyimpanan hasil pertanian.
Jika pengembangan berlanjut hingga tahap penerapan, teknologi kemasan aktif untuk cabai merah tersebut berpotensi menjadi salah satu alternatif untuk menekan kehilangan hasil setelah panen.
Namun, diperlukan pengujian lebih lanjut untuk mengetahui efektivitas, keamanan, daya tahan, biaya produksi, serta penerapannya dalam skala yang lebih besar.
Inggrid Auralya Sandy menjadi ketua tim bersama Novaldo Imanuel Haloho dan Crisya Lestari Siregar, serta anggota lainnya dari FMIPA USU.
Penelitian tersebut berada di bawah bimbingan dosen Fakultas Vokasi USU, Juli Novita Sari, S.Si., M.Si.
Inggrid berharap penelitian yang mereka kembangkan dapat terus memperoleh pengembangan dan membawa tim melangkah ke PIMNAS 39.
"Tim kami juga berharap penelitian ini bisa mengantarkan kami ke PIMNAS 39 dan menginspirasi mahasiswa lain untuk terus berinovasi," ujar Inggrid.
Tim juga memperkenalkan inovasi yang mereka kembangkan dengan nama SPICEFILM melalui akun media sosial @spicefilm.team.
Bagi dunia pertanian, inovasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan cabai merah pascapanen dapat didekati tidak hanya melalui cara penyimpanan konvensional, tetapi juga melalui pemanfaatan teknologi dan bahan lokal yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.