Topikseru.com - Persoalan cabai merah pascapanen tidak hanya berkaitan dengan hasil produksi. Kondisi penyimpanan yang lembap, terutama setelah banjir, juga dapat mempercepat kerusakan sehingga berpengaruh terhadap kualitas dan nilai jual komoditas tersebut.
Melihat persoalan itu, mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) mengembangkan teknologi kemasan ramah lingkungan yang dirancang untuk membantu mempertahankan mutu cabai merah dalam kondisi kelembapan tinggi.
Menariknya, bahan yang digunakan berasal dari sejumlah limbah agroindustri, mulai dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS), kulit rambutan, hingga cangkang udang.
Baca Juga:
Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) dengan penelitian berjudul "Pengembangan Edible Film Kitosan Nanofiber Selulosa Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Ekstrak Kulit Rambutan sebagai Kemasan Aktif Cabai Merah Pascabanjir."
Cabai merah menjadi salah satu komoditas yang rentan mengalami penurunan mutu ketika berada dalam kondisi penyimpanan yang tidak sesuai.
Perubahan cuaca dan bencana hidrometeorologi seperti banjir dapat memperburuk kondisi tersebut. Kelembapan tinggi berpotensi mempercepat penurunan kualitas dan pertumbuhan mikroorganisme pembusuk.
Kondisi itu kemudian mendorong tim mahasiswa USU mencari alternatif kemasan yang tidak hanya dapat membantu memperpanjang kesegaran cabai, tetapi juga memanfaatkan bahan yang tersedia di Sumatera Utara.
Bahan tersebut dipadukan dengan kitosan yang berasal dari cangkang udang sebagai komponen dalam pembuatan edible film.
Sementara itu, kulit rambutan digunakan sebagai sumber ekstrak yang mengandung senyawa dengan aktivitas antioksidan dan antimikroba alami.
"Kami memanfaatkan kitosan dari cangkang udang yang dikombinasikan dengan nanofiber selulosa dari limbah TKKS sebagai bahan penguat, serta ekstrak kulit rambutan yang kaya akan senyawa antioksidan dan antimikroba alami," ujar Inggrid.
Dengan komposisi tersebut, penelitian tidak hanya berfokus pada pengawetan cabai merah, tetapi sekaligus mengangkat konsep pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah.
Lapisan tersebut kemudian diaplikasikan pada cabai merah untuk menguji kemampuannya mempertahankan kualitas selama penyimpanan.
Pengujian dilakukan selama 15 hari dengan kelembapan relatif atau relative humidity (RH) minimal 85 persen.
Kondisi tersebut dirancang untuk menggambarkan lingkungan penyimpanan yang lembap, termasuk situasi yang dapat terjadi pada cabai setelah terkena dampak banjir.
Selama masa penyimpanan, susut bobot cabai dengan edible film tercatat sekitar 12 persen.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan cabai tanpa perlakuan yang mengalami susut bobot hingga 21,5 persen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa lapisan yang dikembangkan mahasiswa USU berpotensi membantu mengurangi kehilangan bobot cabai selama penyimpanan dalam kondisi kelembapan tinggi.
Tidak hanya itu, edible film juga menunjukkan kemampuan menghambat pertumbuhan mikroba pembusuk.
Dalam pengujian, cabai yang mendapatkan perlakuan tersebut masih mampu mempertahankan kesegaran dan warna merah hingga hari ke-15.
Kemampuan tersebut menjadi penting karena perubahan warna, penurunan kesegaran, dan pembusukan merupakan sejumlah indikator yang dapat memengaruhi penerimaan konsumen serta nilai jual cabai.
Meski demikian, hasil penelitian ini masih berada pada tahap pengembangan dan pengujian laboratorium sehingga diperlukan penelitian lanjutan sebelum teknologi dapat diterapkan secara luas pada rantai pasok cabai.

Bagi tim peneliti, nilai penting inovasi ini bukan hanya terletak pada kemampuannya membantu menjaga kualitas cabai pascapanen.
Bahan yang digunakan juga berasal dari limbah yang relatif mudah ditemukan di sektor agroindustri Sumatera Utara.
Tandan kosong kelapa sawit dan kulit rambutan yang sebelumnya memiliki nilai guna terbatas dikembangkan menjadi bagian dari teknologi kemasan aktif.
Pendekatan tersebut membuka peluang pemanfaatan biomassa lokal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap material kemasan konvensional.
Terutama ketika kondisi cuaca ekstrem mengganggu proses distribusi dan penyimpanan hasil pertanian.
Jika pengembangan berlanjut hingga tahap penerapan, teknologi kemasan aktif untuk cabai merah tersebut berpotensi menjadi salah satu alternatif untuk menekan kehilangan hasil setelah panen.
Namun, diperlukan pengujian lebih lanjut untuk mengetahui efektivitas, keamanan, daya tahan, biaya produksi, serta penerapannya dalam skala yang lebih besar.
Inggrid Auralya Sandy menjadi ketua tim bersama Novaldo Imanuel Haloho dan Crisya Lestari Siregar, serta anggota lainnya dari FMIPA USU.
Penelitian tersebut berada di bawah bimbingan dosen Fakultas Vokasi USU, Juli Novita Sari, S.Si., M.Si.
Inggrid berharap penelitian yang mereka kembangkan dapat terus memperoleh pengembangan dan membawa tim melangkah ke PIMNAS 39.
"Tim kami juga berharap penelitian ini bisa mengantarkan kami ke PIMNAS 39 dan menginspirasi mahasiswa lain untuk terus berinovasi," ujar Inggrid.
Tim juga memperkenalkan inovasi yang mereka kembangkan dengan nama SPICEFILM melalui akun media sosial @spicefilm.team.
Bagi dunia pertanian, inovasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan cabai merah pascapanen dapat didekati tidak hanya melalui cara penyimpanan konvensional, tetapi juga melalui pemanfaatan teknologi dan bahan lokal yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.