Topikseru.com — Momentum Idul Adha identik dengan melimpahnya olahan daging sapi dan kambing di meja makan. Mulai dari sate, gulai, rendang, hingga tongseng menjadi hidangan favorit yang sulit dilewatkan.
Namun di balik nikmatnya hidangan kurban, konsumsi daging merah secara berlebihan ternyata dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, mulai dari kolesterol tinggi hingga penyakit jantung.
Lalu, sebenarnya berapa batas aman makan daging saat Idul Adha?
Baca Juga:
Mengutip informasi kesehatan dari Hello Sehat, konsumsi daging merah sebaiknya tidak lebih dari 50–70 gram per hari atau sekitar 350–500 gram per minggu.
Jumlah tersebut merupakan berat daging yang sudah dimasak.
Jenis daging merah yang perlu dibatasi meliputi:
Agar lebih aman, konsumsi daging merah disarankan tidak lebih dari tiga porsi dalam seminggu atau sekitar dua potong kecil dalam sehari.
Sebagai gambaran, dua potong daging merah kira-kira setara dengan dua per tiga bagian piring makan.
Meski kaya protein dan zat besi, konsumsi daging merah berlebihan bisa berdampak buruk bagi kesehatan, terutama jika diolah dengan cara dibakar atau dimasak menggunakan suhu tinggi.
Berikut beberapa risiko yang perlu diwaspadai.
Daging merah mengandung lemak jenuh yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi terlalu banyak, lemak jenuh dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) di dalam tubuh.
Kolesterol tersebut kemudian dapat menumpuk di pembuluh darah dan membentuk plak yang menghambat aliran darah.
Kondisi ini dapat meningkatkan risiko:
Dalam 100 gram daging sapi panggang, kandungan lemak jenuh bisa mencapai sekitar 2,47 gram. Sementara daging kambing bakar bahkan memiliki kadar lemak jenuh lebih tinggi.
Padahal, batas maksimal konsumsi lemak jenuh harian hanya sekitar 13 gram per hari.
Selain penyakit jantung, konsumsi daging merah berlebihan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, terutama kanker usus besar atau kolorektal.
Risiko ini meningkat jika daging dimasak dengan cara:
Proses memasak tersebut dapat memicu terbentuknya senyawa karsinogenik yang berbahaya bagi tubuh.
Tak hanya itu, konsumsi daging olahan tinggi garam juga dapat meningkatkan risiko kanker lambung dan tekanan darah tinggi.
Meski perlu dibatasi, bukan berarti masyarakat harus menghindari konsumsi daging sepenuhnya saat Idul Adha.
Daging merah tetap mengandung berbagai nutrisi penting, seperti:
Nutrisi tersebut dibutuhkan tubuh untuk menjaga energi, pembentukan sel darah merah, dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Karena itu, yang terpenting adalah menjaga porsinya agar tetap seimbang.
Agar tetap sehat setelah menikmati hidangan kurban, ada beberapa cara yang bisa dilakukan.
Konsumsi makanan tinggi serat seperti:
Serat membantu mengikat kolesterol di saluran pencernaan sehingga tidak banyak terserap ke dalam darah.
Sebelum dimasak, buang bagian lemak berwarna putih kekuningan yang menempel pada daging.
Pilih pula bagian daging yang lebih rendah lemak, seperti:
Daging yang dibakar hingga hangus lebih berisiko menghasilkan senyawa berbahaya.
Sebagai alternatif, gunakan metode memasak slow cooking atau merebus dengan suhu lebih rendah agar kandungan gizi tetap terjaga.
Setelah banyak mengonsumsi makanan berlemak saat Idul Adha, usahakan tetap aktif bergerak agar metabolisme tubuh tetap terjaga.
Olahraga ringan seperti jalan kaki selama 30 menit dapat membantu membakar kalori dan menjaga kesehatan jantung.
Makan daging kurban saat Idul Adha tetap aman selama tidak berlebihan dan diimbangi pola makan sehat.
Batasi konsumsi daging merah, perbanyak serat, serta pilih metode memasak yang lebih sehat agar tubuh tetap fit setelah menikmati hidangan khas Idul Adha.