Minggu, 27 September 2026

Harga Bitcoin Tak Bisa Menembus Angka US$111.000, Kenapa Ya?

Mhd Rabbani - Jumat, 27 Juni 2025 07:46 WIB
Harga Bitcoin Tak Bisa Menembus Angka US$111.000, Kenapa Ya?
Bitcoin kembali diperdagangkan di US$105.900 menyusul pengumuman gencatan senjata Israel-Iran pada Selasa (24/6).
Topikseru.com - Banyak bertanya-tanya tentang Harga Bitcoin Tak Bisa Menembus Angka US$111.000, Kenapa Ya? kali ini redaksi akan mengupas tuntas soal pertanyaan tersebut. Sebelumnya, Bitcoin kembali diperdagangkan di US$105.900 menyusul pengumuman gencatan senjata Israel-Iran pada Selasa (24/6). Namun, kepanikan dan FUD yang terpicu oleh crypto whale anyar justru memperbesar volatilitas aset kripto terbesar ini. CryptoQuant menyoroti kerugian parah yang direalisasikan oleh whale baru sebagai pemicu utama. Para investor ini menjual Bitcoin dalam tekanan, lantas memperdalam crash pasar. Bagaimana Crypto Whale Baru Sulut Aksi Harga Bitcoin Belakangan Ini Sejak pertengahan Juni, harga Bitcoin mengalami fluktuasi tajam. Awal bulan, harga sempat bertengger di kisaran US$107.000, lalu melonjak di atas US$110.000, sebelum jatuh ke bawah US$100.000. Antara tanggal 14 hingga 22 Juni, whale mencatat kerugian sekitar US$228 juta, menurut analis CryptoQuant JA Maartunn. Lonjakan signifikan terjadi pada 17 Juni, dengan kerugian mencapai US$95 juta hanya dalam sehari. Mayoritas kerugian—nyaris US$85 juta—berasal dari crypto whale baru, sementara whale lama hanya menyumbang sekitar US$8,2 juta. Lonjakan lain yang mencolok terjadi pada 22 Juni, dengan total kerugian US$51 juta. Kali ini terbagi lebih merata antara whale baru dan lama. Crypto whale anyar, yang masuk di level harga lebih tinggi, terlihat lebih rentan akan aksi jual panik kala tensi geopolitik meningkat. Aksi keluar cepat ini memperbesar ayunan harga dan memperkuat resistance di level-level kritis, terutama di kisaran US$111.000. Exchange Whale Ratio Sinyalkan Tekanan Jual Mendukung tren ini, Exchange Whale Ratio versi CryptoQuant tetap tinggi sepanjang bulan Juni. Indikator ini berfungsi mengukur aktivitas whale di exchange. Rasio yang tinggi maknanya whale secara aktif menyetor Bitcoin ke exchange—biasanya sebagai persiapan untuk menjual. Data membeberkan rasio ini naik saat Bitcoin berusaha menembus level US$110.000. Whale nampaknya bersiap menempatkan order jual di level tersebut, yang bisa membatasi potensi momentum naik. Rasio ini sempat turun ketika harga Bitcoin merosot di bawah US$102.000. Namun, rasio kembali naik saat harga pulih ke kisaran US$105.900. Aktivitas ini mencerminkan bahwa whale terus mengelola risiko mereka, menciptakan tekanan jual yang berkelanjutan serta menambah ketidakpastian di pasar. Ketidakpastian Geopolitik Perparah Kecemasan Whale Peristiwa geopolitik terbaru—termasuk perang Israel-Iran dan pengumuman gencatan senjata setelahnya—telah meningkatkan kegelisahan pasar. Investor whale baru nampak begitu sensitif, bereaksi cepat terhadap berita utama yang bersifat negatif. Aksi jual yang terlalu cepat tak ayal memantik volatilitas lebih lanjut. Trader leverage menghadapi margin call, walhasil memperparah crash harga dan menghambat momentum naik yang awet. Untuk menjaga peluang breakout di atas level krusial US$111.000, analis menyebut aksi jual dari whale harus mereda. Kerugian yang terealisasi yang lebih rendah dan juga arus masuk bersih ke exchange yang berkurang bisa menjadi sinyal bahwa kepercayaan pasar mulai pulih.

Sumber
:
Berita Terkait
The Fed Kerek Suku Bunga 25 Bps, Tokocrypto Peringatkan Risiko Pasar Kripto
Harga Bitcoin Naik 4,97% Bertengger di level US$81.077 per Koin Didorong Pelemahan Dolar AS
Harga Bitcoin Melorot 0,2 Persen Tersudut di Level U$D77.132,6
Harga Kripto Mayoritas Menguat di Perdagangan Selasa (1/9/2026): Bitcoin Menguat 1,44% dan Ethereum 2,13%
Analis Pasar: Pergerakan Pasar Kripto Masih Dibayangi Sentimen Makroekonomi
Harga Bitcoin Naik 0,30% Bersandar di Level US$77.471,07 atau Rp1,36 Miliar