Topikseru.com - Keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75%–4,00% menjadi sinyal krusial bagi peta likuiditas global.
Kendati pergerakan pasar aset digital cenderung tenang, investor ritel diimbau tidak terjebak dalam arus transaksi emosional.
CEO Tokocrypto Calvin Kizana menilai pergerakan Bitcoin yang stabil pasca-pengumuman pada Rabu (16/9/2026) waktu setempat menandakan bahwa mayoritas pelaku pasar telah mengantisipasi (priced-in) langkah pengetatan moneter tersebut.
Mengukur Dampak Suku Bunga The Fed ke Pasar Kripto
Penetapan suku bunga anyar ini secara langsung memengaruhi selera risiko (risk appetite) pemodal global. Sebagai aset berisiko tinggi (risk-on asset), dinamika likuiditas akibat lonjakan bunga acuan AS dapat menekan arus modal masuk ke pasar kripto dalam jangka pendek.
"Kebijakan suku bunga akan mempengaruhi kondisi likuiditas dan appetite investor terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto," ujar Calvin dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Meski reaksi awal pasar tergolong minim kejutan, potensi antisipasi volatilitas pasar kripto tetap membayangi. Pergerakan harga aset digital ke depan dinilai sangat bergantung pada rilis data ekonomi AS lanjutan serta arah kebijakan moneter The Fed pada kuartal mendatang.
Investor Ritel Diwanti-wanti Hindari 'FOMO' dan 'Panic Selling'
Menghadapi ketidakpastian makroekonomi ini, Tokocrypto menekankan pentingnya disiplin eksekusi bagi para pemodal domestik.
Sikap reaktif yang dipicu oleh rasa takut tertinggal momen (FOMO) maupun aksi jual panik (panic selling) justru menjadi ancaman utama bagi portofolio investor.
"Pastikan dana yang digunakan sesuai kemampuan dan toleransi risiko, lakukan diversifikasi secara bijak, dan pahami aset yang dibeli sebelum mengambil keputusan," tutur Calvin.
Berita Terkait