Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan Selasa pagi (1/9/2026) harga kripto jajaran teratas mayoritas menguat. Harga Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Binance Coin (BNB), XRP hingga Solana (SOL) kompak berada di zona hijau dalam 24 jam terakhir.
Berdasarkan data yang dilansir dari coinmarketcap.com, harga Bitcoin sebagai kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar naik 1,22% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga BTC menguat 1,44%.
Saat ini, harga Bitcoin berada di posisi US$ 78.538,64 atau sekitar Rp 1,39 miliar, dengan asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah sebesar Rp 17.713.
Kenaikan juga terjadi pada Ethereum (ETH). Harga ETH menguat 2,13% dalam 24 jam terakhir dan naik 0,92% dalam sepekan terakhir. Saat ini, harga Ethereum berada di posisi US$ 2.467,20 atau sekitar Rp 43,70 juta.
Harga Tether (USDT) naik tipis 0,01% dalam 24 jam terakhir dan menguat 0,02% selama sepekan terakhir. Saat ini, harga USDT berada di posisi US$ 0,9997 atau sekitar Rp 17.708.
Harga Binance Coin (BNB) naik 1,30% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga BNB menguat 2,40%. Kini harga BNB berada di posisi US$ 693,02 atau sekitar Rp 12,28 juta.
Harga XRP juga menguat 2,19% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, XRP melonjak 8,05%. Saat ini, harga XRP berada di posisi US$ 1,38 atau sekitar Rp 24.444.
Harga USDC naik tipis 0,01% dalam 24 jam terakhir, sementara dalam sepekan terakhir bergerak stabil di level 0%. Kini, harga USDC berada di posisi US$ 0,9999 atau sekitar Rp 17.711.
Harga Solana (SOL) naik 1,50% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga Solana menguat 1,32%. Saat ini, harga SOL berada di posisi US$ 103,17 atau sekitar Rp 1,83 juta.
Harga TRON (TRX) menguat 1,10% dalam 24 jam terakhir, tetapi masih naik 3,95% dalam sepekan terakhir. Saat ini, harga TRX berada di posisi US$ 0,3320 atau sekitar Rp 5.881.
Harga Hyperliquid (HYPE) melonjak 4,85% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga HYPE juga menguat 5,67%. Kini harga HYPE berada di posisi US$ 83,92 atau sekitar Rp 1,49 juta.
Harga Zcash (ZEC) naik 3,21% dalam 24 jam terakhir dan menguat 2,39% dalam sepekan terakhir. Saat ini, harga ZEC berada di posisi US$ 855,29 atau sekitar Rp 15,15 juta.
Kapitalisasi Pasar Kripto Naik
Kapitalisasi pasar kripto global juga berada di zona hijau. Berdasarkan data CoinMarketCap, kapitalisasi pasar kripto global naik 1,34% dalam 24 jam terakhir.
Saat ini, kapitalisasi pasar kripto global tercatat sekitar US$ 2,65 triliun atau sekitar Rp 46.940 triliun.
Data tersebut menunjukkan sentimen positif masih terlihat di pasar kripto pada perdagangan pagi ini, dengan hampir seluruh aset kripto utama berada di zona hijau dalam 24 jam terakhir.
Analis Pasar: Pergerakan Pasar Kripto Masih Dibayangi Sentimen Makroekonomi
Analis Pasar memperkirakan pergerakan pasar kripto masih dibayangi sentimen makroekonomi.
Sementara itu, katalis fundamental yang berpotensi menjadi penggerak harga Bitcoin dan Ether dinilai masih minim.
Kondisi tersebut membuat investor perlu lebih selektif dalam memilih aset kripto, terutama di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.
Berdasarkan data CoinMarketCap per Senin (31/8/2026) pukul 20.08 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 78.029, turun 0,88% dalam 24 jam dan melemah 1,30% dalam sepekan.
Sementara itu, harga Ether berada di level US$ 2.454. Harga aset kripto tersebut turun 0,51% dalam 24 jam dan terkoreksi 2,13% dalam sepekan.
Co-Founder CryptoWatch sekaligus Pengelola Channel Duit Pintar Christopher Tahir mengatakan, Bitcoin dan Ether masih layak menjadi perhatian investor.
“Menurut saya, keduanya layak untuk diperhatikan. Namun, untuk investor pada umumnya, tidak disarankan untuk melirik koin yang lebih kecil, dikarenakan dapat mengekspos risiko yang terlalu besar,” kata Christopher.
Masih Bergantung Sentimen Makro
Christopher mengatakan, pergerakan harga Bitcoin dan Ether saat ini masih sangat dipengaruhi perkembangan faktor makroekonomi.
Menurutnya, belum terdapat katalis fundamental yang cukup kuat untuk mendorong pergerakan harga kedua aset kripto tersebut secara signifikan.
“Untuk saat ini, belum ada katalis yang mendasar yang dapat menggerakkan harga keduanya. Sehingga, saat ini penggerak utamanya hanya berdasarkan faktor makro, yaitu harapan ataupun ekspektasi suku bunga untuk The Fed nantinya,” jelasnya.
Karena itu, perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan investor.
Di sisi lain, ruang koreksi harga Bitcoin dan Ether masih terbuka apabila muncul sentimen negatif yang mampu mengubah persepsi pasar secara fundamental.
“Koreksi lebih dalam dapat terjadi jika adanya faktor negatif yang secara fundamental dapat mengubah sentimen pasar secara umum,” ujarnya.
Dalam menghadapi kondisi pasar yang masih fluktuatif, Christopher menyarankan investor menerapkan strategi dollar-cost averaging (DCA).
Melalui strategi tersebut, investor membeli aset secara bertahap dalam beberapa periode sehingga tidak terlalu bergantung pada satu titik harga.
Strategi ini dinilai dapat membantu investor menghadapi volatilitas pasar sekaligus mengurangi risiko masuk pada harga yang kurang menguntungkan.
Meski demikian, investor tetap perlu mempertimbangkan profil risiko dan kondisi pasar sebelum menentukan alokasi investasi.
Untuk prospek hingga akhir 2026, Christopher memperkirakan harga Bitcoin masih berpotensi mengalami koreksi hingga kembali ke kisaran US$ 50.000.
Sementara itu, harga Ether diperkirakan berpotensi kembali turun di bawah level US$ 2.000.
Berita Terkait