Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan sesi I, Senin (6/7/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah dan masuk ke zona merah seiring terkoreksinya mayoritas saham sektoral dan sentimen negatif dari bursa Asia.
Berdasarkan data RTI pukul 11.30 WIB, IHSG turun 0,18% atau 10,81 poin ke level 5.864,97. Sebanyak 295 saham melemah, 285 saham menguat, dan 198 saham bergerak stagnan.
Dengan total volume perdagangan mencapai 10,7 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 4,76 triliun. Pelemahan IHSG dipicu oleh penurunan sembilan dari sebelas indeks sektoral.
Tiga sektor yang mencatat koreksi terdalam yakni IDX Infrastructure turun 0,59%, IDX Transportation & Logistics melemah 0,51%, dan IDX Basic Materials terkoreksi 0,43%.
Di jajaran saham berkapitalisasi besar, PT Indosat Tbk (ISAT) menjadi top losers setelah turun 4,53% ke Rp 1.895. Disusul PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang melemah 3,85% ke Rp 500 dan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang terkoreksi 2,08% ke Rp 1.415.
Sementara itu, saham yang menopang IHSG antara lain PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang naik 1,20% ke Rp 1.270, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menguat 0,87% ke Rp 2.330, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) bertambah 0,83% ke Rp 6.100.
Sentimen eksternal juga kurang mendukung. Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Senin (6/7) di tengah sikap hati-hati investor menjelang dimulainya musim laporan keuangan emiten global, terutama perusahaan-perusahaan yang terkait dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,2%, sementara indeks Nikkei Jepang merosot 1,4%. Indeks saham unggulan China bergerak relatif datar, sedangkan indeks saham Korea Selatan terkoreksi 1,2% meski masih mencatat kenaikan sekitar 90% sepanjang tahun ini berkat reli saham-saham semikonduktor yang didorong tingginya permintaan AI.
Di pasar komoditas, harga minyak juga melemah. Minyak Brent turun 0,5% menjadi US$ 71,79 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 0,3% ke US$ 68,47 per barel.
Penurunan harga minyak terjadi setelah kelompok OPEC+ menyepakati kenaikan target produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Agustus, melanjutkan peningkatan produksi yang telah dilakukan pada Juni dan Juli.
Kondisi ini dinilai dapat membantu meredakan tekanan inflasi global, namun sekaligus membebani saham-saham sektor energi.
IHSG Melanjutkan Penguatannya di Awal Perdagangan Senin (6/7/2026)
Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatannya pada awal perdagangan Senin (6/7/2026), seiring sentimen positif dari mayoritas bursa saham Asia yang bergerak di zona hijau.
Mengutip data RTI, hingga pukul 09.07 WIB, IHSG menguat 0,87% atau 50,924 poin ke level 5.926,704. Pergerakan pasar didominasi saham yang menguat. Sebanyak 342 saham naik, 136 saham melemah, dan 202 saham bergerak stagnan.
Total volume perdagangan mencapai 2 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp 944 miliar. Seluruh indeks sektoral dibuka di zona hijau.
Tiga sektor yang mencatat kenaikan tertinggi adalah IDX Basic yang naik 1,98%, diikuti IDX Energy sebesar 1,62%, dan IDX Techno yang menguat 1,50%.
Di jajaran saham penggerak kenaikan (top gainers), PT Dewa Henwa Tbk (DEWA) naik 3,82% ke Rp 326, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menguat 3,60% ke Rp 144, dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) naik 3,28% ke Rp 630.
Sementara itu, saham yang menjadi penekan indeks (top losers) antara lain PT Indosat Tbk (ISAT) yang turun 1,26% ke Rp 1.960, PT United Tractors Tbk (UNTR) melemah 1,25% ke Rp 23.700, serta PT Astra International Tbk (ASII) yang terkoreksi 1,04% ke Rp 4.760.
Sentimen positif juga datang dari bursa regional. Mayoritas saham Asia menguat didorong optimisme investor menjelang musim laporan keuangan emiten global serta penurunan harga minyak dunia yang diperkirakan dapat meredakan tekanan inflasi.
Pada perdagangan pagi, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang menguat 0,4%, sementara indeks Nikkei 225 Jepang melemah tipis 0,1%.
Berita Terkait