Topikseru.com, Jakarta - Perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki Kaesang Pangarep, PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), dikabarkan terlilit utang.
Tekanan likuiditas dan keterbatasan modal kerja membuat pembayaran kredit perusahaan Kaesang Pangarep, seorang pebisnis, YouTuber dan politikus yang menjabat sebagai ketua umum Partai Solidaritas Indonesia sejak September 2023 ini macet. Imbasnya, perusahaan pun mengajukan restrukturisasi pinjaman kepada sejumlah bank.
Berdasarkan laman resmi perusahaan, PMMP didirikan pada 2004 dan merupakan salah satu perusahaan pengolahan dan eksportir udang di Indonesia.
Perusahaan ini berkantor pusat di Surabaya dengan fasilitas pengolahan yang berlokasi di Situbondo dan Tarakan.
Perusahaan memiliki total kapasitas produksi mencapai 25 ribu ton per tahun yang didukung fasilitas penyimpanan dingin (cold storage) berkapasitas 46 ribu ton.
Pada 2019, PMMP mengklaim mereka menempati peringkat kedua eksportir udang nasional berdasarkan total volume ekspor.
Perusahaan mengekspor produknya ke berbagai pasar utama dunia seperti Amerika Serikat, Jepang, Eropa, dan sejumlah negara lainnya. Produk perusahaan juga telah menembus pasar ritel serta layanan makanan (food service) di Amerika Serikat dan Jepang.
Saat ini, susunan direksi PMMP terdiri dari Martinus Soesilo sebagai Direktur Utama, Hirawan Tedjokoesoemo sebagai Wakil Direktur Utama, Alin Rostanti sebagai Direktur, dan Patrick Djuanda sebagai Direktur.
Sementara itu, jajaran komisaris diisi Soesilo Soebardjo sebagai Komisaris Utama, Suwarli sebagai Komisaris, serta Salis Teguh Hartono sebagai Komisaris.
Berdasarkan data pemegang saham, PT Harapan Bangsa Kita, perusahaan yang dimiliki Kaesang Pangarep, tercatat sebagai salah satu pemegang saham dengan kepemilikan di atas 5 persen, yakni sebanyak 188,24 juta saham atau setara 7,27 persen.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (2/7/2026), PMMP memiliki kewajiban kredit terhadap sejumlah bank dengan total sekitar Rp2,87 triliun.
Rinciannya, perusahaan memiliki kewajiban kredit kepada PT Bank Permata Tbk, dengan outstanding US$53,12 juta atau sekitar Rp953,4 miliar (kurs Rp17.948 per dolar AS), ditambah fasilitas sebesar Rp5,49 miliar.
Perseroan juga memiliki utang kepada PT Bank Central Asia Tbk sebesar US$40,29 juta atau sekitar Rp723 miliar, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia sebesar US$30,71 juta atau sekitar Rp551,2 miliar, serta PT Bank SMBC Indonesia Tbk sebesar US$22,8 juta atau sekitar Rp409,1 miliar.
Selain itu, PMMP masih memiliki pinjaman kepada PT Bank Maspion Indonesia Tbk sebesar US$7,21 juta atau Rp129,4 miliar dan PT Bank Resona Perdania sebesar US$5,99 juta atau sekitar Rp107,5 miliar.
"Saldo tersebut di atas di luar utang bunga," tulis manajemen PMMP dalam keterbukaan informasi.
Perseroan mengakui mengalami kendala modal kerja dan membutuhkan sekitar US$15 juta atau sekitar Rp269,1 miliar untuk menjalankan kegiatan operasional.
Akibat keterbatasan tersebut, PMMP saat ini hanya mengoperasikan satu pabrik di Situbondo. Untuk memenuhi permintaan ekspor, perusahaan membeli produk jadi dari perusahaan lain dengan skema pembayaran setelah hasil ekspor diterima.
"Sementara ini perseroan membeli produk jadi dari perusahaan lain dengan pembayaran di belakang setelah hasil ekspor diterima oleh perseroan," tulis manajemen.
Penurunan kapasitas produksi juga berdampak pada efisiensi tenaga kerja. Sejak 2024 hingga saat ini, perusahaan telah melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 37 karyawan staf dan 79 pekerja harian. Selain itu, sebanyak 82 staf tercatat mengundurkan diri.
Dikutip dari situs pancamitra.com pada Rabu (8/7/2026), Didirikan pada tahun 2004, PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP) merupakan salah satu perusahaan pengolahan dan eksportir udang terkemuka di Indonesia. Perusahaan berkantor pusat di Surabaya dan memiliki fasilitas pengolahan yang berlokasi di Situbondo serta Tarakan, dengan total kapasitas produksi gabungan sebesar 25.000 ton per tahun serta fasilitas penyimpanan dingin (*cold storage*) berkapasitas 46.000 ton.
Dalam kurun waktu 16 tahun sejak pendiriannya, PMMP telah tumbuh menjadi eksportir udang terkemuka di Indonesia, menempati peringkat kedua berdasarkan total volume ekspor udang pada tahun 2019. PMMP mengekspor udang ke berbagai pasar utama di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Eropa, dan wilayah lainnya. Produk-produk kami telah berhasil menembus pasar ritel maupun sektor layanan makanan (*food service*) di Amerika Serikat dan Jepang.
PMMP hadir untuk menyediakan dan menyajikan hanya udang beku alami yang terbaik dan paling segar bagi para pelanggan kami. Dengan penanganan yang sangat cermat di sepanjang rantai pasok—mulai dari tambak hingga ke meja makan—kami meyakini bahwa kesegaran bukan sekadar soal kualitas, melainkan jati diri kami.
Ekspansi Pasar Domestik Panca Mitra (PMMP)
Sejak Januari 2021, Emiten pengolahan udang asal Situbondo PT Panca Mitra Multiperdana Tbk. (PMMP) berupaya berekspansi di pasar domestik dengan meluncurkan
brand dengan nama Ebinoya.
Direktur Utama Panca Mitra Multiperdana Martinus Soesilo mengatakan peluncuran Ebinoya merupakan salah satu strategi perseroan untuk menambah porsi penjualan produk
value-added dan memperluas segmen pemasaran selain pasar ekspor.
“Melalui ekspansi bisnis ini, kami berharap dapat melakuan penetrasi pasar lokal yang sebelumnya belum kami
explore. Dengan potensi pasar lokal yang masih sangat besar, PMMP berharap melalui strategi ini dapat meningkatkan pendapatan usaha Perseroan kedepannya,” ungkap Martinus dalam rilisnya.
Martinus mengatakan selama ini perseroan memang terkonsentrasi kepada pasar ekspor terutama Amerika Serikat dan Jepang yang memiliki
demand sangat tinggi khususnya untuk suplai kebutuhan hotel dan restoran.
“Namun dengan kondisi pandemi seperti sekarang permintaan pasokan udang untuk restoran ini menurun, tetapi ternyata permintaan pasar ritel, khususnya produk diversifikasi atau
value added malah naik karena banyak keluarga yang memilih untuk memasak sendiri di rumah,” jelasnya.
Dia mengatakan saat ini kontribusi produk
value added masih sekitar 15 - 20 persen. Diharapkan produk
value added ini bisa berkontribusi menjadi 35 - 40 persen pada 2022.
Sebagai bentuk strategi untuk memperluas pangsa pasar domestik, emiten dengan kode saham PMMP ini telah meneken kontrak kerjasama dengan beberapa
retailers di Indonesia, di antaranya LotteMart, Aeon, Papaya Surabaya, Yogya Group, Meat Mart Bali, Frestive Bali, dan Smarco Medan.
Selain itu, pada segmen restoran dan
foodservice, PMMP memasok brand Ebinoya ke beberapa restoran seperti HokBen, Sushi Tei Surabaya, ThaiStreet Surabaya, dan Das Bistro–Soesjach Bali. Ebinoya juga dipasarkan melalui kerja sama dengan 7
retailer.
Berita Terkait