Topikseru.com, Jakarta – PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) sukse pencatatan perdana saham atau
Initial Public Offering (IPO) di pasar modal Indonesia, dengan menghimpun dana senilai Rp429,25 miliar. Meski dalam laporan keuangannya pendapatan 2025 turun turun 13,9% dan laba tahun berjalan 2025 Turun 41,6%.
Bahkan uang dari penjualan saham di pasar modal digunakan untuk Pelunasan dipercepat utang BNI sebesar 6,98% dengan uang senilai Rp30 miliar.
Setelah IPO, inilah susunan pemegang sahamnya, diantaranya; anak mantan Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep memiliki 115 juta lembar saham (115.250.000) atau 0,91 persen. Dony Oskaria memiliki 345 juta lembar saham (345.250.000) atau 2,74 persen.
Dikutip dari Bareksa pada Jumat (10/7/2026), Kinerja keuangan RANS dalam tiga tahun terakhir menunjukkan tren pendapatan yang menurun, meskipun efisiensi biaya mulai memperlihatkan perbaikan margin.
Pendapatan tahun 2025 turun 13,9% menjadi Rp353,4 miliar, terutama dari penurunan segmen duta merek dan talent management 51,6% dan penjualan produk berbasis IP 12,7%. Manajemen menilai sebagian penurunan bersifat
non-recurring, dipicu oleh tidak adanya lagi kontribusi dari PT Rans Prestisius Klub Sepakbola (RPKSB) yang dilepas pada 2024.
Laba tahun berjalan tahun 2025 turun 41,6% menjadi Rp56,7 miliar. Penurunan ini juga dipengaruhi oleh laba pelepasan entitas anak senilai Rp44,9 miliar yang tercatat pada tahun 2024 — transaksi tidak berulang yang mendistorsi perbandingan antar periode. Di luar normalisasi tersebut, laba operasi inti tahun 2025 lebih mencerminkan kondisi bisnis sesungguhnya.
Penurunan total aset dan ekuitas tahun 2025 terutama dipicu oleh pembagian dividen senilai Rp167,5 miliar kepada pemegang saham lama, bukan dari kerugian operasional. Struktur permodalan tergolong konservatif dengan DER 0,35x. Likuiditas membaik dengan current ratio 2,63x.
Kondisi valuasi emiten di subsektor hiburan dan film BEI saat ini sangat beragam. Berdasarkan data Investing.com per 23 Juni 2026, CNMA (Cinema XXI) diperdagangkan pada P/E 10,9x, sementara MSIN (MNC Studios International) berada di 32,7x. Dua emiten lainnya, FILM (MD Pictures) dan RAAM (Tripar Multivision), mencatat rugi bersih sehingga P/E keduanya tidak dapat dijadikan acuan perbandingan yang bermakna.
Dengan demikian, valuasi IPO RANS di P/E 30–38x berada pada rentang atas peers yang menguntungkan, sebanding dengan MSIN namun jauh di atas CNMA. IHSG diperdagangkan pada P/E sekitar 9,92x pada 22 Juni 2026, sehingga RANS masuk dengan premi valuasi yang signifikan terhadap rata-rata pasar secara keseluruhan.
Justifikasi atas premi valuasi ini bertumpu pada narasi pertumbuhan ke depan: ekspansi Cipungland, rangkaian konser nasional-internasional, pengembangan bisnis AI bersama PT Feedloop Global Teknologi, dan akuisisi Slavina (kosmetik). Namun, kinerja historis yang menunjukkan penurunan pendapatan tiga tahun berturut-turut menjadi faktor yang perlu dicermati investor.
Rencana Penggunaan Dana IPO
Dana hasil IPO (estimasi maksimal Rp429,3 miliar di harga Rp170) akan digunakan sebagai berikut:
| Alokasi |
Persentase |
Estimasi (Rp miliar) |
| Pelunasan dipercepat utang BNI |
6,98% |
~Rp30 M |
| Capex Cipungland (wahana edukatif) |
18,64% |
~Rp80 M |
| Opex penyelenggaraan konser |
37,61% |
~Rp161,4 M |
| Pengembangan bisnis AI (Feedloop) |
8,15% |
~Rp35 M |
| Akuisisi saham PT Rans Kosmetika Indonesia (Slavina) |
19,8% |
~Rp85 M |
| Setoran modal entitas anak RNS |
sisa (~8,82%) |
~Rp37,9 M |
Sumber: Prospektus Ringkas RANS, 23 Juni 2026.
Porsi terbesar yakni 37,6% dialokasikan untuk penyelenggaraan konser, yang merupakan beban operasional (bukan aset produktif permanen). Ini mengindikasikan bahwa sebagian besar dana IPO bersifat revenue-generating jangka pendek, bukan pembangunan aset jangka panjang. Alokasi untuk Cipungland (18,6%) dan Slavina (19,8%) merupakan dua pilar ekspansi aset yang paling dapat dicermati sebagai pembentuk nilai jangka menengah.
Risiko Utama yang Perlu Dicermati
Prospektus RANS menetapkan risiko utama yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kelangsungan usaha, yaitu ketergantungan terhadap talent utama Raffi Ahmad dan Nagita Slavina beserta keluarga. Ketergantungan ini berpotensi menimbulkan dampak negatif apabila terjadi penurunan keterlibatan atau isu reputasi.
Risiko usaha material lainnya mencakup:
- Perubahan dinamika konten digital yang sangat cepat dan meningkatnya kompetisi berbasis teknologi
- Pergeseran strategi pemasaran klien dari kontrak brand ambassador jangka panjang ke jangka pendek, yang menekan pendapatan berulang
- Ketergantungan pada platform teknologi pihak ketiga (YouTube, TikTok, Instagram) yang regulasinya tidak berada dalam kendali Perseroan
- Risiko likuiditas saham pascaIPO: seluruh pemegang saham lama dilarang mengalihkan saham selama 8 bulan setelah pernyataan pendaftaran efektif (lock-up period)
Susunan Pemegang Saham Setelah IPO
| Pemegang Saham |
Jumlah Saham |
Persentase |
| Raffi Farid Ahmad |
7.935.000.000 |
62,93% |
| PT Indonesia Entertainmen Grup |
911.500.000 |
7,23% |
| Soultan Ariq Rachman |
345.500.000 |
2,74% |
| Dony Oskaria |
345.250.000 |
2,74% |
| Sutanto Hartono |
144.000.000 |
1,14% |
| Nagita Slavina Mariana Tengker |
124.750.000 |
0,99% |
| Kaesang Pangarep |
115.250.000 |
0,91% |
| Hikmat Janika |
86.250.000 |
0,68% |
| PT Ekonomi Baru Investasi Teknologi |
76.750.000 |
0,61% |
| Masyarakat (publik) |
2.525.000.000 |
20,02% |
Sumber: Prospektus Ringkas RANS, 23 Juni 2026.
Raffi Ahmad sebagai pengendali memegang 62,93% saham setelah IPO dan telah menyatakan tidak akan mengalihkan pengendalian selama tiga tahun setelah pencatatan perdana. Anak mantan Presiden Joko Widodo yakni Kaesang Pangarep juga tercatat dalam daftar pemegang saham.
Kebijakan Dividen
Setelah IPO, RANS berencana membayarkan dividen tunai dengan rasio sebanyak-banyaknya 35% dari laba bersih setelah dikurangi penyisihan cadangan wajib, mulai tahun buku 2026. Realisasi dan besaran dividen bergantung pada keputusan RUPS Tahunan serta kinerja dan rencana pengembangan bisnis Perseroan.
Catatan: pada tahun 2025, Perseroan telah membagikan dividen senilai Rp167,5 miliar kepada pemegang saham lama, jauh melebihi laba berjalan tahun 2025 Rp56,7 miliar yang berasal dari akumulasi saldo laba tahun-tahun sebelumnya.
Berita Terkait