Topikseru.com, Jakarta - Perdagangan siang Pada perdagangan Rabu (15/7/2026) nilai tukar rupiah hingga sesi masih menguat di pasar spot.
Meski begitu, penguatan nilai tukar rupiah tidak seperkasa pada perdagangan di pagi hari.
Di mana nilai tukar rupiah menguat 0,07% di level Rp 18.077 per dolar AS pada sesi siang Rabu (15/7/2026).
Diketahui rupiah menjadi mata uang terkuat kedua setelah ringgit Malaysia. Pergerakan mata uang Asia hingga pukul 12.00 WIB kompak menguat kecuali won Korea, baht Thailand dan dolar Taiwan yang melemah terhadap dolar AS di siang hari.
Selain itu, Ringgit menguat sebesar 0,19% di level 4,0703 per dolar AS. Selanjutnya peso Filipina menguat 0,07% di level 61,659 per dolar AS.
Kemudian, Dolar Singapura menguat sebesar 0,062% di 1,2904. Yuan China menguat sebesar 0,058% di 6,7695 per dolar AS.
Rupee India menguat 0,03% di 96,1725 Dolar Hong Kong menguat tipis sebesar 0,004% di 7,8374 per dolar AS.
Sementara itu mata uang Asia yang melemah ada dolar Taiwan melemah sebesar 0,037% di 32,200.
Won Korea melemah lebih dalam yakni sebesar 0,162% di 1.492,26 dan baht Thailand melemah 0,167% di 33,523 per dolar AS.
Nilai Tukar Rupiah Dibuka Menguat 0,15% di Level Rp18.064 per Dolar AS Pagi Ini
Pada perdagangan Rabu (15/7/2026) nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,15% di level Rp 18.064 per dolar AS di pasar spot.
Di mana nilai tukar rupiah menjadi mata uang yang menguat paling tinggi setelah ringgit Malaysia. Pergerakan mata uang Asia hingga pukul 09.00 WIB kompak menguat kecuali won Korea dan baht Thailand yang masih melemah terhadap dolar AS.
Selain it, Ringgit menguat sebesar 0,26% di level 4,0673 per dolar AS. Selanjutnya dolar Taiwan juga menguat sebesar 0,13% di level 32,146 per dolar AS.
Yen Jepang juga menguat sebesar 0,12% di level 162,05 per dolar AS. Yuan China menguat sebesar 0,09% di 6,7668 per dolar AS.
Dolar Singapura menguat sebesar 0,078% di 1,2902. Dolar Hong Kong menguat tipis sebesar 0,004% di 7,8374 per dolar AS.
Berbeda arah gerak, won Korea justru melemah 0,017% di 1.490,10 dan baht Thailand melemah 0,039% di 33,480 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi: Pasar Respons Positif Rating S&P Dorong Nilai Tukar Rupiah Menguat
pada Selasa (14/7/2026) nilai tukar rupiah terpantau masih tertahan di level Rp 18.091 per dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis 0,10% dari sehari sebelumnya.
Sementara itu, kurs rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, ada di level Rp 18.099 per dolar AS pada Selasa (14/7/2026), menguat 0,18% dari sehari sebelumnya.
Di mana nilai tukar rupiah mendapat sedikit angin segar dari afirmasi peringkat kredit stabil dari S&P serta lompatan cadangan devisa hingga US$ 145,6 miliar.
Meski begitu, otot rupiah belum terlalu kuat. Pasalnya, saat ini dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat, yang diindikasikan dari indeks dolar yang terus naik.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menjelaskan bahwa penguatan indeks dolar AS (DXY) kian tak terbendung akibat kembali memanasnya konflik geopolitik AS-Iran.
"Pasar juga mulai pricing in kemungkinan satu kali kenaikan Fed Rate tahun ini, yang memperkuat dolar," katanya.
Menurut David, level Rp 18.000 berpotensi menjadi level pijakan (base) baru bagi rupiah karena secara fundamental nilainya kini telah bergeser ke kisaran tersebut.
Tekanan domestik pun turut memicu ketidakpastian seiring berlanjutnya aksi capital outflow serta pembengkakan beban pembiayaan APBN.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman memproyeksikan rupiah hingga akhir tahun 2026 akan bergerak volatil pada rentang Rp 17.600 hingga Rp 18.300 per dolar AS.
"Penguatan bergantung pada meredanya tensi geopolitik, turunnya harga minyak, membaiknya surplus perdagangan, dan masuknya kembali modal asing," ujarnya.
Di tengah gejolak kurs ini, pelaku pasar uang disarankan untuk menempuh langkah taktis dan defensif dengan mencermati mata uang alternatif untuk melindungi nilai.
Pasangan USD/IDR tetap menjadi pilihan utama yang likuid, namun investor dapat mendiversifikasikan portofolionya secara bertahap ke mata uang safe haven seperti Swiss Franc (CHF) atau Dolar Singapura (SGD).
Untuk menahan depresiasi yang lebih dalam, otoritas moneter dan pemerintah diminta segera bersinergi merumuskan solusi makro yang komprehensif.
Sementara, Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi mengingatkan bahwa kebijakan intervensi pasar oleh Bank Indonesia tidak akan efektif tanpa adanya perbaikan fundamental.
"Jika pemerintah hanya mengandalkan intervensi cadangan devisa tanpa memperbaiki defisit neraca perdagangan dan disiplin fiskal, maka intervensi tersebut hanya akan menjadi obat penenang," pungkas Rahma.
Berita Terkait