Jumat, 25 September 2026

Nilai Tukar Rupiah Bergerak Melemah 0,05% Dibuka di Level Rp17.972 per Dolar AS

Mhd Rabbani - Senin, 27 Juli 2026 09:42 WIB
Nilai Tukar Rupiah Bergerak Melemah 0,05% Dibuka di Level Rp17.972 per Dolar AS
Nilai Tukar Rupiah
Topikseru.com, Jakarta - Pada awal perdagangan Senin (27/7/2026) nilai tukar rupiah bergerak melemah dibuka di level Rp 17.972 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot. Ternyata, hal ini membuat nilai tukar rupiah melemah 0,05% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.963 per dolar AS. Pergerakan nilai tukar rupiah berbanding terbalik dengan mayoritas mata uang di Asia. Hingga pukul 09.00 WIB, mayoritas mata uang di Asia menguat. Di mana, baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,5%. Selanjutnya, peso Filipina dan yen Jepang yang sama-sama melesat 0,21%. Diikuti, ringgit Malaysia terangkat 0,18%. Berikutnya ada dolar Singapura terapresiasi 0,15% dan yuan China menanjak 0,09%. Lalu, dolar Hong Kong menguat tipis 0,01%. Sementara itu, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,5%. Disusul, dolar Taiwan yang terlihat melemah tipis 0,04% terhadap the greenback di pagi ini.

Analis Pasar: Arah Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Dipengaruhi oleh Lima Sentimen Utama di Pasar Keuangan

Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (24/7/2026), rupiah spot ditutup menguat di level Rp 17.963 per dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan nilai tukar rupiah berpotensi berkonsolidasi di tengah dinamika tekanan sentimen eksternal dan keberadaan benteng penyangga ekonomi domestik. Sementara itu, kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah di posisi Rp 17.973 per dolar AS. Sejumlah katalis global dan upaya penstabilan domestik diperkirakan menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang Garuda pada awal pekan. Menurut Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi menjelaskan bahwa pergerakan rupiah pada Jumat (24/7) terutama digerakkan oleh tarik-menarik antara tekanan global dan penyangga domestik. Dolar AS tetap kuat dengan indeks DXY di sekitar 101,4 seiring ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, sementara lonjakan harga minyak menuju US$ 100 per barel menekan mata uang negara pengimpor energi. Eskalasi konflik Timur Tengah serta kebijakan tarif baru Amerika Serikat turut memperburuk sentimen risiko terhadap aset negara berkembang. Tekanan tersebut sempat membuat mata uang Garuda melemah sebelum akhirnya membaik seiring hadirnya intervensi dan bauran kebijakan Bank Indonesia (BI). Syafruddin menilai dukungan kuat hadir dari keputusan BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75%, intervensi di pasar spot, NDF, dan DNDF, serta daya tarik imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). "Pelemahan rupiah hari ini lebih mencerminkan tekanan dolar, minyak, dan sentimen risk-off global daripada perubahan tajam pada fundamental domestik," kata Syafruddin. Memasuki perdagangan Senin (27/7), diprediksi arah pergerakan rupiah dipengaruhi oleh lima sentimen utama di pasar keuangan. Pertama, respons pasar menjelang keputusan suku bunga The Fed pada 29 Juli mendatang. Kedua, dinamika harga minyak Brent di kisaran US$ 100 per barel berisiko memperbesar beban devisa impor serta inflasi. Faktor ketiga berkaitan dengan dampak kebijakan tarif baru AS terhadap arus modal safe haven. Keempat, prospek arus modal asing pada instrumen SRBI, SBN, dan saham. Kelima, tingkat efektivitas intervensi berkelanjutan BI di pasar valas. Syafruddin menyebutkan bahwa posisi rupiah berpeluang bertahan di bawah level psikologis Rp 18.000 per dolar AS jika pasokan valas domestik tetap terjaga. "Rupiah berpeluang bertahan di bawah 18.000 jika dukungan BI dan arus masuk portofolio mampu mengimbangi penguatan dolar," ujar Syafruddin. Untuk proyeksi perdagangan Senin (27/7/2026), Syafruddin memperkirakan nilai tukar USD/IDR berada di kisaran realistis Rp 17.870–Rp 18.000 per dolar AS. Model estimasi tidak menemukan momentum arah yang dominan, sehingga pergerakan harga berpotensi masuk ke fase konsolidasi. Namun, batas Rp 18.000 tetap rawan teruji apabila harga minyak dan yield obligasi AS kembali melonjak tinggi. "Rentang risiko yang lebih lebar berada pada 17.835–18.035, terutama karena perdagangan Senin membawa risiko gap setelah akhir pekan," tutup Syafruddin.
Sumber
:
Berita Terkait
IHSG Terkoreksi ke 6.349, Pasar Awas RDG BI & Aturan Baru Saham Rp 1
Pergerakan Valas Masih Dipengaruhi Divergensi Bank Sentral dan Geopolitik
Analis Pasar: IHSG Masih Rawan Koreksi dengan Support di 6.370 dan Resistance 6.406
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Masih akan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.840-Rp17.900 per Dolar AS
IHSG Dibuka Melemah 23,43 Poin, Hanya 4 Indeks Sektoral yang Selamat ke Zona Hijau
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,12% Terseret di Level Rp17.779 per Dolar AS Pagi Ini