Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan Jumat (7/8/2026) nilai tukar Rupiah dibuka melemah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.933 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,06% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.923 per dolar AS.
Di perdagangan Asia, nilai tukar rupiah melemah Bersama beberapa mata uang lainnya. Peso Filipina mencatat pelemahan terdalam yakni 0,33%.
Disusul nilai tukat rupiah yang melemah 0,06%, dan ringgit Malaysia yang melemah 0,05% terhadap dolar AS. Sedangkan mayoritas mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS pagi ini.
Kemudian, Won Korea mencatat penguatan terbesar yakni 0,22%, disusul dolar Taiwan yang menguat 0,29%, dolar Singapura menguat 0,07%,
Di sisi lain, yen Jepang menguat 0,04%, baht Thailand menguat 0,04%, yuan China menguat 0,03%, dan dolar Hong Kong yang menguat 0,003% terhadap dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 99,94, naik dari sehari sebelumnya yang ada di 99,93.
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah akan Bergerak di Kisaran Rp 17.850-Rp 17.950 per Dolar AS
Pada perdagangan Kamis (6/8/2026) nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat tipis didukung oleh meredanya harga minyak mentah dunia serta rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melampaui ekspektasi pasar.
Meski demikian, ruang penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas karena pelaku pasar memilih menunggu sejumlah data ekonomi penting.
Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (6/8/2026), kurs rupiah di pasar spot ditutup menguat Rp 10 atau 0,06% ke level Rp 17.923 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sejalan dengan itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) juga ditutup menguat 0,1% menjadi Rp 17.919 per dolar AS.
Menanggapi hal tersebut, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah didorong oleh penurunan harga minyak mentah dunia di tengah harapan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Saat ini, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 75,9 per barel atau melemah 9,1% dalam sepekan.
Selain itu, sentimen positif turut datang dari data produk domestik bruto (PDB) Indonesia kuartal II-2026 yang dinilai solid karena melampaui ekspektasi pasar.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 mencapai 5,29% secara tahunan (year on year/YoY).
Meski demikian, laju pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 5,61% YoY.
"Namun penguatan rupiah ke depan masih terbatas, dengan investor cenderung wait and see," ungkap Lukman.
Menurut Lukman, pelaku pasar saat ini lebih memilih bersikap hati-hati menjelang rilis sejumlah indikator ekonomi penting, baik dari dalam negeri maupun Amerika Serikat.
Ia menjelaskan, investor tengah menantikan data cadangan devisa (cadev) Indonesia serta laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat atau nonfarm payrolls (NFP) yang dijadwalkan dirilis pada Jumat (7/8/2026).
Selain itu, pasar juga mencermati rilis data ISM Services Amerika Serikat yang akan diumumkan pada Kamis malam waktu Indonesia.
Namun, dampaknya diperkirakan tidak akan sebesar pengaruh data NFP terhadap pergerakan pasar keuangan global.
Di sisi lain, perkembangan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz serta arah pergerakan harga minyak mentah dunia masih menjadi faktor yang akan diperhatikan investor dalam beberapa waktu ke depan.
Untuk perdagangan Jumat (7/8/2026), Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.850 hingga Rp 17.950 per dolar AS.
Berita Terkait