Topikseru.com - Operasi pencarian korban KM Virgo Transport 8 memasuki babak baru setelah Basarnas mengevaluasi efektivitas pencarian bawah air yang telah berlangsung selama 21 hari.
Tim penyelam gabungan tercatat berhasil mengevakuasi 50 jasad korban dari dalam kapal yang tenggelam di Laut Jawa.
Namun, Basarnas kini menghentikan operasi penyelaman ke dalam bangkai kapal. Keputusan itu diambil setelah kondisi kapal semakin tidak stabil dan risiko terhadap keselamatan penyelam dinilai semakin besar.
Baca Juga:
Meski metode penyelaman dihentikan, operasi SAR KM Virgo Transport 8 tidak ditutup. Pencarian terhadap korban yang masih hilang tetap dilanjutkan dengan strategi berbeda.
Sejak mulai dilakukan sekitar hari ketiga setelah kecelakaan, tim penyelam menjalankan rata-rata empat hingga lima sortie per hari.
Dalam setiap sortie, Basarnas mengerahkan dua sampai tiga tim. Masing-masing tim terdiri atas lima penyelam.
Hasilnya, hingga hari ke-21 operasi SAR, sebanyak 50 korban meninggal dunia berhasil dievakuasi melalui metode penyelaman.
Namun, kondisi di dalam kapal membuat pencarian semakin sulit.
Penyelam hanya mampu melakukan penetrasi sekitar 10 hingga 15 meter ke bagian dalam bangkai kapal. Setelah itu, pergerakan mereka terhambat oleh berbagai barang, material, dan debris yang memenuhi ruang kapal.
Sejumlah akses melalui jendela memang telah dibuka. Akan tetapi, setelah memasuki hari ke-19, tidak lagi ditemukan korban melalui akses tersebut.
Basarnas juga harus memperhitungkan keselamatan penyelam yang bekerja di lingkungan bawah laut dengan kondisi yang semakin tidak bersahabat.
Struktur KM Virgo Transport 8 disebut masih dapat mengalami perubahan posisi, termasuk perubahan trim dan kemiringan kapal.
Situasi tersebut menjadi risiko serius karena perubahan posisi kapal secara tiba-tiba dapat membahayakan penyelam yang sedang berada di dalam bangkai kapal.
Selain itu, jarak pandang di dalam kapal sangat terbatas akibat sedimen dan debris.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan penyelam mengalami disorientasi. Di dalam kapal juga terdapat benda-benda tajam yang berpotensi menyebabkan luka serta risiko kontaminasi akibat tumpahan minyak dan material lainnya.
Bangkai kapal berada di kedalaman sekitar 27 meter. Dengan peralatan scuba yang digunakan, waktu kerja penyelam diperkirakan tidak lebih dari 20 menit dalam satu kali penyelaman.
Artinya, setiap penyelaman harus dilakukan dengan perhitungan yang sangat ketat.
Penyelam tidak hanya mengejar target pencarian, tetapi juga harus mempertimbangkan kondisi kapal, kedalaman, visibilitas, debris, potensi kontaminasi, hingga keterbatasan waktu kerja.
Basarnas menilai pencarian korban tidak boleh dilakukan dengan mengabaikan keselamatan personel yang berada di bawah air.
Basarnas menyebut tiga hari terakhir operasi penyelaman tidak lagi menemukan korban.
Selain itu, kondisi jasad korban yang berada di dalam kapal telah mengalami perubahan.
Menurut Basarnas, pada hari-hari awal korban yang dikeluarkan dari dalam kapal masih memungkinkan untuk terapung sehingga dapat diterima tim di permukaan.
Namun, kondisi tersebut kini berbeda.
Basarnas menilai apabila korban dikeluarkan dari dalam kapal dalam kondisi saat ini, jasad dapat terurai sehingga proses evakuasi bawah air tidak lagi efektif dilakukan dengan metode yang sama.
Rinciannya:
Pencarian Dialihkan ke Jalur Hanyut dan Pesisir
Setelah mengevaluasi perkembangan operasi selama 21 hari, Basarnas mengubah fokus pencarian.
Tim kini akan memperhatikan sejumlah lokasi yang berpotensi menjadi tempat korban terbawa arus, termasuk wilayah perairan dan pesisir.
Area pencarian mencakup wilayah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Barat.
Basarnas juga akan melakukan penilaian ulang terhadap kemungkinan lokasi korban berdasarkan temuan selama operasi sebelumnya.
Fokusnya bukan sekadar menambah jumlah personel, tetapi menentukan kembali area yang paling memungkinkan menghasilkan temuan.
Pelaksanaannya akan dibuat lebih fleksibel sesuai perkembangan di lapangan dan kebutuhan personel.
Posko Banjarmasin tetap menjadi salah satu pusat operasi. Unsur SAR yang sejak awal terlibat juga tetap mendukung pencarian, termasuk Basarnas, TNI, Polri, unsur kesyahbandaran, pihak pemilik kapal, serta potensi SAR lainnya.
Sebelumnya, operasi SAR KM Virgo Transport 8 telah diperpanjang dua kali, masing-masing selama tujuh hari, hingga mencapai hari ke-21.
Kini, setelah kemampuan maksimal penyelaman terhadap bangkai kapal dilakukan, strategi pencarian diarahkan pada kemungkinan korban berada di lokasi lain.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan apakah masih terdapat korban di bagian bangkai kapal yang belum dapat dijangkau penyelam.
Pasalnya, masih ada bagian kapal yang belum tersentuh, termasuk area lambung kiri. Namun, kondisi badan kapal yang semakin labil membuat penyelaman lanjutan dinilai terlalu berisiko bagi personel.
Karena itu, pengangkatan kapal dapat menjadi salah satu opsi untuk membuka kemungkinan pencarian di bagian yang selama ini sulit dijangkau.
Bagi tim SAR, berakhirnya pencarian bawah air bukan berarti pencarian 55 korban KM Virgo Transport 8 selesai.
Setelah 21 hari operasi, medan pencarian memang berubah. Dari sebelumnya berfokus pada bangkai kapal, Basarnas kini harus memperluas pencarian ke jalur kemungkinan hanyut, wilayah permukaan, dan pesisir.
Dengan 188 korban telah ditemukan dan 55 lainnya masih dalam pencarian, operasi SAR KM Virgo Transport 8 masih menyisakan pekerjaan besar untuk memastikan seluruh korban dapat ditemukan dan diserahkan kepada keluarga.