Bahlil menjelaskan harga BBM nonsubsidi dipengaruhi harga minyak global yang tercermin dalam Indonesian Crude Price (ICP).
Ketika harga minyak dunia dan ICP naik, harga BBM nonsubsidi dapat mengalami penyesuaian. Sebaliknya, ketika ICP turun, harga BBM nonsubsidi juga dapat dikoreksi.
Baca Juga:
Dengan mekanisme tersebut, harga BBM nonsubsidi memiliki hubungan yang lebih langsung dengan perkembangan pasar energi global.
ESDM sebelumnya menyebut konsumsi BBM nasional masih jauh lebih besar dibandingkan produksi minyak dalam negeri.
Pada April 2026, pemerintah menyebut kebutuhan impor sekitar 1 juta barel per hari karena konsumsi BBM mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi domestik berada di kisaran 600-610 ribu barel per hari.
Ketergantungan terhadap impor membuat kondisi geopolitik global menjadi faktor penting bagi ketahanan energi Indonesia.
Karena itu, diversifikasi sumber pasokan menjadi salah satu strategi yang terus didorong pemerintah.
Pada awal Oktober, ESDM juga menyatakan Indonesia tidak mengimpor BBM dari China dan menyebut pasokan crude maupun BBM masih aman.
Mayoritas impor BBM Indonesia disebut berasal dari kawasan Asia Tenggara, termasuk Singapura dan Malaysia.
Pemerintah kini harus memastikan tiga hal berjalan bersamaan: stok BBM tersedia, sumber pasokan beragam, dan biaya pengadaan tetap terkendali.
Di sisi konsumen, pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi hingga akhir tahun. Namun untuk BBM nonsubsidi, perkembangan harga minyak dunia dan ICP tetap menjadi faktor penentu.
Dengan kondisi geopolitik yang belum sepenuhnya stabil, strategi mencari stok BBM ke berbagai negara menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk menjaga pasokan energi Indonesia dalam jangka pendek.