Selasa, 06 Oktober 2026

Bukan Fenomena Baru, Begini Sejarah El Niño dan Dampaknya bagi Indonesia

Rizky Aisyah - Selasa, 06 Oktober 2026 13:00 WIB
Bukan Fenomena Baru, Begini Sejarah El Niño dan Dampaknya bagi Indonesia
Suara.com
El Niño merupakan fenomena iklim yang dapat memengaruhi pola cuaca Indonesia, termasuk menurunkan curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan.

Topikaeru.com -El Niño bukanlah fenomena iklim yang baru dikenal dalam beberapa dekade terakhir. Jauh sebelum istilah tersebut digunakan dalam ilmu klimatologi modern, masyarakat pesisir Amerika Selatan sudah mengenali perubahan kondisi laut yang terjadi secara berkala dan memengaruhi kehidupan mereka.

Fenomena tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu topik penting dalam ilmu iklim karena pengaruhnya tidak hanya dirasakan di sekitar Samudra Pasifik. Perubahan suhu permukaan laut yang berkaitan dengan El Niño dapat mengubah pola cuaca di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia.

Di Tanah Air, El Niño paling sering dikaitkan dengan berkurangnya curah hujan, musim kemarau yang lebih panjang, kekeringan hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Baca Juga:

Berawal dari Pengamatan Nelayan di Peru

Sejarah El Niño bermula dari kawasan pesisir Peru dan Ekuador di Amerika Selatan.

Para nelayan di wilayah tersebut telah lama memperhatikan munculnya air laut yang lebih hangat secara berkala. Kondisi itu berpengaruh terhadap jumlah ikan yang mereka tangkap karena perubahan suhu laut mengganggu ekosistem yang biasanya mendukung kehidupan ikan.

Air laut yang lebih hangat tersebut juga cenderung muncul sekitar periode Natal.

Dari sinilah istilah El Niño muncul. Dalam bahasa Spanyol, El Niño berarti "anak laki-laki" dan merujuk pada El Niño Jesús atau Yesus Kristus. Istilah tersebut digunakan karena fenomena air hangat biasanya muncul di sekitar waktu Natal.

Namun, istilah El Niño pada awalnya tidak merujuk secara spesifik pada fenomena iklim global seperti yang dipahami saat ini. Istilah itu digunakan untuk menyebut arus laut hangat yang muncul secara musiman di sepanjang pesisir Peru dan Ekuador.

Seiring waktu, para ilmuwan mulai memahami bahwa pemanasan tersebut bukan sekadar perubahan lokal di pesisir Amerika Selatan.

Ilmuwan Mulai Menghubungkan Laut dan Atmosfer

Pada akhir abad ke-19, pengamatan terhadap anomali iklim di kawasan Amerika Selatan mulai mendapatkan perhatian ilmiah.

Salah satu perkembangan penting terjadi pada dekade 1890-an melalui pembahasan antara kalangan geograf Peru dan komunitas ilmiah internasional. Dari pengamatan tersebut, para peneliti mulai melihat bahwa perubahan kondisi laut di Pasifik memiliki hubungan dengan perubahan cuaca yang lebih luas.

Pada tahap awal, El Niño masih lebih banyak dipahami sebagai fenomena laut. Penelitian berikutnya kemudian menunjukkan adanya hubungan erat antara perubahan suhu permukaan laut dan perubahan tekanan udara serta pola angin.

Hubungan tersebut akhirnya menjadi bagian dari konsep yang sekarang dikenal sebagai El Niño-Southern Oscillation atau ENSO.

ENSO menggambarkan interaksi antara lautan dan atmosfer di kawasan tropis Samudra Pasifik. El Niño merupakan fase hangat, sedangkan La Niña merupakan fase dingin.

Apa yang Sebenarnya Terjadi Saat El Niño?

Dalam kondisi normal, angin pasat mendorong air permukaan yang hangat ke arah barat Samudra Pasifik, termasuk menuju sekitar Indonesia.

Ketika El Niño berkembang, angin pasat melemah. Air hangat yang biasanya menumpuk di Pasifik bagian barat kemudian bergerak lebih ke arah tengah dan timur Pasifik.

Akibatnya, suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Pasifik tropis menjadi lebih hangat dari kondisi normal.

Perubahan tersebut kemudian memengaruhi pertumbuhan awan dan distribusi hujan.

Menurut BMKG, ketika El Niño terjadi, wilayah pertumbuhan awan bergeser dari Indonesia menuju kawasan Pasifik bagian tengah. Kondisi tersebut menyebabkan curah hujan di Indonesia cenderung berkurang.

Jadi, El Niño bukan sekadar "cuaca panas". Fenomena tersebut merupakan bagian dari interaksi kompleks antara laut dan atmosfer.

Mengapa El Niño Bisa Berdampak pada Indonesia?

Letak Indonesia menjadi salah satu alasan mengapa perubahan kondisi Pasifik sangat penting bagi pola cuaca di Nusantara.

Ketika El Niño terjadi, berkurangnya pembentukan awan di sekitar Indonesia dapat menyebabkan curah hujan menurun, terutama pada periode tertentu.

BMKG mencatat pengaruh El Niño paling terasa terhadap penurunan curah hujan Indonesia pada periode Juni-Juli-Agustus (JJA) dan September-Oktober-November (SON). Namun, pengaruhnya tidak sama di setiap wilayah dan setiap musim.

Karena itu, El Niño tidak berarti Indonesia akan mengalami kekeringan secara seragam atau tidak mengalami hujan sama sekali.

Intensitas fenomena, waktu terjadinya, kondisi geografis serta faktor iklim lain dapat memengaruhi dampaknya di masing-masing daerah.

El Niño 1982-1983, Salah Satu yang Sangat Kuat

Dalam catatan modern, periode 1982-1983 menjadi salah satu episode El Niño kuat yang dampaknya dirasakan luas.

Penelitian mengenai kekeringan di Indonesia memasukkan 1982-1983 sebagai salah satu kejadian El Niño kuat, bersama 1997-1998 dan 2015-2016. Ketiga episode tersebut memiliki nilai Oceanic Niño Index yang sangat tinggi dan berkaitan dengan kejadian kekeringan meteorologis yang ekstrem di sejumlah wilayah.

Dampak El Niño 1982 juga terlihat di sejumlah wilayah Indonesia.

Kajian yang dipublikasikan dalam Jurnal Meteorologi dan Geofisika mencatat bahwa di Pontianak, curah hujan pada Juli dan Agustus 1982 mengalami penyimpangan masing-masing sekitar -86 persen dan -83 persen dibandingkan kondisi normal.

Kejadian tersebut memperlihatkan bagaimana perubahan iklim global dapat berpengaruh terhadap kondisi cuaca di wilayah Indonesia.

El Niño 1997-1998 dan Krisis Kekeringan

Salah satu periode El Niño yang paling dikenal masyarakat Indonesia terjadi pada 1997-1998.

Pada saat itu, El Niño kuat menyebabkan penurunan curah hujan yang sangat signifikan di berbagai wilayah Indonesia.

BMKG mencatat sejumlah wilayah, termasuk Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua, mengalami curah hujan yang sangat rendah selama periode El Niño tersebut.

Kondisi kering yang berkepanjangan juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Kajian BMKG menyebut periode 1997-1998 sebagai salah satu kejadian El Niño yang sangat kuat dan berdampak luas terhadap Indonesia. Kondisi kekeringan pada saat itu juga berpengaruh terhadap sektor pertanian.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu contoh paling jelas bahwa perubahan kondisi laut di Samudra Pasifik dapat memiliki konsekuensi serius bagi kehidupan masyarakat di Indonesia.

El Niño 2015-2016 Kembali Menguji Indonesia

Hampir dua dekade kemudian, Indonesia kembali menghadapi El Niño kuat pada 2015-2016.

Penelitian mengenai kekeringan di Pulau Jawa menunjukkan bahwa El Niño 2015-2016 termasuk dalam tiga kejadian El Niño kuat dengan nilai ONI lebih dari +2 sejak periode pengamatan modern yang dikaji. Dua kejadian lainnya adalah 1982-1983 dan 1997-1998.

Kekeringan yang muncul kemudian berdampak pada berbagai sektor, mulai dari ketersediaan air hingga pertanian dan risiko kebakaran.

Kejadian tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa meskipun teknologi pemantauan cuaca semakin berkembang, masyarakat tetap perlu bersiap menghadapi dampak fenomena iklim berskala besar.

El Niño Tidak Selalu Memiliki Dampak yang Sama

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa setiap El Niño pasti menghasilkan dampak yang sama.

Padahal, kekuatan dan waktu terjadinya El Niño dapat berbeda.

BMKG menjelaskan bahwa pengaruh El Niño terhadap curah hujan di Indonesia juga berbeda berdasarkan wilayah dan periode musim. Bahkan ketika El Niño berlangsung, beberapa wilayah Indonesia masih dapat mengalami hujan.

Faktor lain seperti kondisi atmosfer regional dan fenomena iklim lain juga dapat memengaruhi kondisi cuaca di Indonesia.

Karena itu, keberadaan El Niño sebaiknya tidak langsung diterjemahkan sebagai kepastian terjadinya kekeringan ekstrem di seluruh wilayah Indonesia.

Dari Pengamatan Nelayan Menjadi Ilmu Iklim Global

Perjalanan sejarah El Niño menunjukkan bagaimana pengetahuan masyarakat lokal akhirnya berkembang menjadi bagian penting dalam ilmu pengetahuan modern.

Apa yang dahulu hanya dikenal nelayan sebagai kemunculan air laut hangat di sekitar Natal kini dipahami sebagai bagian dari sistem interaksi laut dan atmosfer yang dapat memengaruhi cuaca di berbagai belahan dunia.

Catatan sejarah bahkan menunjukkan bahwa jejak El Niño dapat ditelusuri jauh sebelum fenomena tersebut diberi nama. Para ilmuwan menemukan bukti perubahan kondisi iklim masa lalu melalui berbagai arsip alam seperti koral, sedimen laut, lingkaran pohon dan indikator paleoklimat lainnya.

Artinya, El Niño bukan fenomena baru yang muncul akibat perubahan iklim modern. Fenomena tersebut merupakan bagian dari variabilitas alami sistem iklim bumi.

Namun, perubahan iklim dan meningkatnya suhu global dapat menjadi faktor yang membuat dampak sejumlah kejadian iklim ekstrem semakin kompleks untuk dipahami.

Mengapa Sejarah El Niño Penting Dipelajari?

Sejarah El Niño bukan hanya cerita mengenai perubahan suhu laut.

Bagi Indonesia, memahami sejarah fenomena ini penting karena dampaknya dapat menyentuh kehidupan sehari-hari. Kekeringan dapat memengaruhi ketersediaan air, pertanian, produksi pangan hingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Dengan mempelajari kejadian-kejadian sebelumnya, ilmuwan dan pemerintah dapat menggunakan data historis untuk meningkatkan pemantauan serta peringatan dini.

Pada akhirnya, El Niño mengingatkan bahwa kondisi cuaca di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di atas wilayah Nusantara. Perubahan di lautan yang letaknya ribuan kilometer jauhnya pun dapat ikut menentukan apakah suatu wilayah akan mengalami musim yang lebih kering atau lebih basah.

Dari pengamatan sederhana para nelayan di pesisir Peru hingga menjadi salah satu fenomena iklim yang dipantau oleh lembaga meteorologi di seluruh dunia, sejarah El Niño memperlihatkan betapa eratnya hubungan antara laut, atmosfer dan kehidupan manusia.

Editor
: Rizky Aisyah
Berita Terkait
Bukan Cuma Satu Suku, Ini Sejarah Panjang yang Membuat Medan Jadi Kota Multikultural
14.023 Wisatawan Mancanegara Gunakan Layanan Kereta Api di Sumut
POCO F9 Series Masuk Indonesia, Harga Mulai Rp 10 Jutaan
Punya Instagram tapi Tak Pernah Posting? Bisa Jadi Kamu Ikut Tren Zero Posting
Erick Thohir Soroti Pelajaran Usai Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026
Lahir di Thailand, Elkan Baggott Malah Bobol Gawang Timnas Thailand dan Bawa Indonesia Juara